Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Intan dan Imam tetap bangga


__ADS_3

Bi Iyah sama Pak Min menjadi orang yang paling sibuk di rumahnya dr Prabu, apalagi akan ada keluarga dari Bandung yang akan meneruskan ikut ke Pekalongan menghadiri pernikahan dr Prabu dan Retno.


Semua keluarga dari Bandung akan kumpul di sini, melanjutkan ke Pekalongan dan kembali lagi ke sini menyaksikan resepsi di hari berikutnya, resepsi kedua bagi yang tidak ikut ke Pekalongan.


Dr Prabu menyerahkan semua kepada panitia yaitu kedua orangtuanya dan dr Imam juga Intan. Semua sudah di tangani wedding organizer, cuma tata laksana semua dalam pengawasan panitia.


"Jam berapa Kak Prabu berangkat nya Bi?" Intan bertanya pada Bi Iyah yang menyimpan minuman di depan meja Intan dan dr Imam duduk.


"Tadi sekitar jam tujuh Neng Intan."


"Oh, berarti sekarang sudah sampai." Intan melirik jam di pergelangan tangannya."


"Kenapa memang Tan, ada apa?" dr Imam memandang Intan.


"Enggak, aku memperkirakan aja. Dan aku mau telephon ingin khabar dari mereka kalau mereka sudah sampai ke tempat tujuan. Karena Ibu selalu bertanya dan berpesan suruh hubungi kalau mereka sudah sampai."


"Mas Imam, sekarang wedding organizer akan memasang tenda juga semuanya di sini?"


"Iya tadi aku sudah konfirmasi alamatnya, mungkin sebentar lagi datang."


"Intan, kapan orangtuamu datang kesini?"


"Nanti sore Mas."


"Syukurlah."


"Kenapa mau ada yang di sampaikan sama Bapak Ibuku?"


"Aku mau melamar kamu haaaa..."


"Kasihan deh aku, masa melamar di tumpang tindih di acara Kakakku? bikin dong acara sendiri."


"Iya, aku bercanda, masa iya di tengah repot dan rumitnya permasalahan Kakakmu aku melamar kamu, yang ada aku nggak punya etika."


"Mau ngomong apa emangnya?"


"Mau aja ngobrol sama calon mertua."


"Ish...mau ngambil hatinya ya."


"Iya lah, biar di kasih putrinya."


"Mas, kenapa semua jadi begini, apa Kak Prabu pernah ngobrol sama Mas Imam soal semua masalahnya?"


"Intan, aku pernah memberi masukan pada Kakakmu yang juga sahabatku, tapi memang semua menjadi dilema yang begitu sulit buat Kakakmu."


"Satu-satunya jalan Kakakmu memilih menyelamatkan dulu pernikahannya. Walaupun nama baiknya akan menjadi taruhannya nanti dan semua akan menjadi api dalam sekam juga bom waktu bagi rumahtangganya kelak."


"Aku tak bisa membayangkan beratnya beban di pundak Kakakku."


"Sebenarnya ini juga hasil Kakakmu meminta pendapatku.

__ADS_1


Aku juga bingung di satu sisi harga diri dan nama baik kedua keluarga akan menanggung malu kalau sampai pernikahan mereka gagal."


"Jelas itu, bukan membenarkan juga menunda masalah dan menutupinya dari Mbak Retno."


"Kemungkinan akan berterus terang setelah menikah, sengaja membiarkan dulu Alya dan keluarganya dan Kakakmu sebagai bentuk tanggung jawab akan menikahi Alya secara siri dan menceraikannya setelah anaknya lahir."


"Astaghfirullahaladzim Mas, aku tak menyangka kalau Kak Prabu akan terbelit masalah yang begitu pelik banget."


"Iya Intan, aku cuma ikut prihatin dan membantu apa yang aku bisa."


"Mas, bagaimana perasaan Mbak Retno? seandainya sudah mendengar penjelasan Kak Prabu?"


"Aku tidak tahu Intan, semoga saja bisa menerima dan ikhlas."


"Apa keluarga Alya tahu kalau Kak Prabu sekarang mau menikah?"


"Itu yang aku tak tahu."


"Aku takut Mas, saat resepsi mereka datang ke sini dan aku takut mereka menghancurkan semuanya dan membuka, membongkar semuanya sebelum waktunya."


"Aku rasa tidak sejauh itu Intan, mereka juga sama menaruhkan harga diri sebagai pejabat daerah, tak mungkin untuk melakukan itu. Akan menjadi headline paling panas di kota kecil ini seandainya walikota melakukan kebodohan seperti itu."


"Tapi aku khawatir Mas, di kira Kak Prabu mau menyelesaikan dulu masalahnya dengan si Alya itu."


"Habis waktu Intan, mending kalau selesai semua, kalau nggak menambah daftar beban pikiran, itu nggak selesai yang ini juga menggantung. Kakakmu selalu sharing padaku mungkin itu yang terbaik menurut bijaksananya pilihan Kakakmu."


"Akan seperti apa nantinya itu Mas?"


"Retno tetap prioritasnya, walau nanti setelah tahu apa mau menerima apa nggak nya aku nggak tahu."


"Jadi Kak Prabu mau menikahi keduanya?"


"Aku nggak bicara begitu Intan, itu hanya ekspektasi kita aja arahnya seperti itu."


"Ya ampun, kenapa ya aku benci banget sama yang namanya Alya itu?"


"Apa kamu mengenalnya?"


"Tahu iya, kenal dekat nggak. Tapi aku melihat gelagat culas aja walau wajahnya lembut gitu, terbukti sekarang banyak akal jelek untuk tujuan gilanya."


"Kamu pernah ngobrol?"


"Waktu dia pura-pura sakit, Kak Prabu ngajak aku nengok dia, terus aku di kasih tugas nemenin dia ngobrol yang nggak nyambung gitu."


"Haaa...kamu mau aja?"


"Ya aku terpaksa dan di paksa dan lebih menghargai Kak Prabu, sebenarnya ingin menghindar waktu itu juga."


"Maafkan Kak Prabu Mas, telah melibatkan Mas Imam dalam masalahnya."


"Lho kok, kamu yang minta maaf?"

__ADS_1


"Kak Prabu lagi banyak masalah, mungkin beraninya hanya pada Mas Imam, mengadu, meminta pendapat dan meminta bantuan."


"Jangan khawatir Intan, jauh sebelum kenal kamu juga aku sudah berteman, kami sudah seperti saudara, cuma aku nggak tahu kalau Kakak kamu punya adik cantik seperti kamu."


"Masa, memang nggak pernah cerita keluarga masing-masing?"


"Cerita-cerita sih, tapi nggak detil gitu, kayak aku punya adik satu laki-laki, dr Prabu cerita punya dua adik yang masih sekolah paling gitu-gitu aja."


"Apa yang harus kita lakukan sekarang Mas?" Intan menatap dr Imam dengan wajah sedikit muram."


"Paling kita bantu mensukseskan pernikahan impiannya, itu aja dulu mungkin yang lain-lainnya nanti dulu."


"Iya Mas, semoga pernikahan dan resepsinya lancar."


"Iya Intan, semua orang juga punya jalan cerita masing-masing aku telah terlibat semenjak Retno mulai KKN di rumahsakit itu, kasihan melihat dia di kerjain sama Kakakmu, dari situ aku sama Retno mulai bersahabat."


"Cerita cinta yang aneh, tapi unik memang."


"Tapi aku membayangkan seandainya suatu saat mereka punya anak pasti akan lucu, secantik Retno dan seganteng Prabu."


"Memang mereka pasangan yang sangat serasi, awalnya aku juga merasa iri pada mereka heeee..."


"Haaa...di kira aku aja yang iri pada mereka Intan."


"Berarti kita pasukan iri dong? haaa...nggak jangan, jangan iri pokoknya istilahnya kita ganti aja sekarang, kita merasa bangga pada pasang surut hubungan mereka, lama berpisah tak menyurutkan perasaan mereka."


"Iya, aku setuju."


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta! habis baca...


..."Biarkan Aku Memilih"...


...Jangan lupa mampir ke karya...


...terbaik bertitel,...


..."Pesona Aryanti"...


...By Enis Sudrajat, baca, like,...


...vote dan beri hadiah ya!...


__ADS_1


__ADS_2