
"Bu dokter, kita bikin nasi khas Pekalongan saja nasi apa itu? daripada Bibi nggak ada kerjaan biar mengobati rasa kangen Bu dokter, nanti kalau sudah bangun Mbak Intan kita ajak juga masak sama-sama, Semoga Pak dokter juga suka." Bi Iyah menawarkan sesuatu yang membuat Retno antusias.
Jelas bagi Retno adalah satu kenangan yang jarang di lewatkan nya.
"Iya, ya Bi? coba lihat ada apa aja bahannya di kulkas, kalau ada yang kurang Bibi beli dulu ya!" Retno seperti diingatkan sudah lama juga dirinya tidak mencicipi nasi khas daerahnya yang mungkin bisa dengan mudah dimasak di mana saja.
"Banyak Bu bahannya, tinggal bikin, daging juga ada sayurannya masih komplit, Bu dokter duduk saja tinggal kasih petunjuk sama Bibi mungkin kalau Mbak Intan sudah bangun nanti dibantuin Mbak Intan." jawab Bi Iyah senang penawaran yang diterima Retno dengan sangat antusias dan sangat menyenangkan.
"Aku bangunin Intan dulu ya Bi, masa anak gadis bangunnya siang melulu, kata orang tua zaman dulu suka banyak masalah dalam hubungan percintaannya. Silakan Bibi yang bisa dulu yang bisa dikerjakan duluan ya Bi." Bi Iyah hanya tersenyum mendengar ucapan Retno, bukannya nggak percaya juga, tapi seharusnya kalau pagi semua beraktivitas yang positif karena siang waktunya bergerak dan malam saatnya istirahat.
"Iya Bu."
Retno berjalan ke arah kamar depan di mana Intan tidur dan selalu menempati kamar itu setiap kali dirinya berkunjung dan menginap di sini.
Sepertinya Intan sudah bangun karena Retno baru mengetuk pintu tiga kali pintu sudah dibuka dan benar adanya Intan sudah bangun sedang membereskan tempat tidur dan melipat selimut dengan rambut panjangnya sedikit berantakan dan muka khas bangun tidur.
"Mbak!" sapa Intan.
"Shubuh nya nggak kelewat kan?" tanya Retno sambil meneliti raut wajah Intan dari pintu yang terbuka.
"Nggak Mbak, cuma Intan tidur lagi tadi karena masih ngantuk." jawab Intan apa adanya, kalau ada suaminya pasti habis di kedekin.
"Masak bareng yuk, Mbak mau bikin nasi khas Pekalongan, Megono Intan sudah mencicipinya? sepertinya Mas Prabu juga sangat suka karena beberapa kali pergi ke sana selalu disuguhkan nasi itu."
__ADS_1
"Wah, seneng banget belum tuh. Intan ke kamar mandi dulu ya Mbak nanti nyusul ke dapur." Intan mencabut charge ponselnya dan membuka, melihatnya sepintas lalu menyimpannya kembali berjalan ke kamar mandi yang masih ada di dalam kamar itu.
Retno ke dapur lagi ikut mengumpulkan bahan yang diperlukan sebenarnya ide dari kawula muda banyak modifikasi dari semua makanan yang ada tergantung kita pandai menyiasati, yang pasti tidak merubah cita rasa asal yang sebenarnya cuman ada tambahan lain membuat suatu makanan menjadi lebih berwarna. Seperti Retno suka apa adanya memanfaatkan apa aja yang ada di kulkas sebagai bahan makanan yang diolahnya dan akhir-akhir ini memang sering dan senang sekali masak walaupun pada akhirnya tak habis hanya di makan berempat Retno sama suaminya dr Prabu dia juga Pak Min.
Intan datang sudah kelihatan cuci muka walaupun belum mandi dengan rambut diikat semua ke belakang leher Intan begitu jenjang dan langsing kelihatannya.
Retno tersenyum melihat adik iparnya, dulu juga dirinya mempunyai perawakan seperti itu tetapi kini telah menjalani kehamilan naik tubuhnya drastis dari mulai 38 kilo sekarang nyaris mencapai angka 55 dan itu masih berkembang karena kandungannya belum maksimal mencapai 9 bulan.
Nafsu makannya memang sedang kuat-kuatnya, seiring pertumbuhan kehamilan yang setiap diperiksa dinyatakan sehat dan naik berat badannya normal juga bayi dalam kandungannya sesuai dengan usia kandungannya.
"Gimana semalam ketemu calon mertuanya, menyenangkan, dan berkesan?" tanya Retno masih tetap tersenyum sambil melirik Intan yang ngebantuin memilah dan memilih bahan sayuran.
"Biasa aja Mbak."
"Kok kelihatan tidak senang, kenapa?" tanya Retno lebih jauh lagi menelisik gadis cantik adik suaminya ini.
Melihat Mas Imam orangnya super baik, murah senyum, sopan, banyak ngobrol, interaktif dengan siapa saja, tetapi setelah bertemu dengan kedua orang tuanya semua itu berbanding terbalik tapi Aku tidak berpikir jauh karena takut salah menilai orangtuanya Mas Imam, mungkin juga karena kami baru kenal pertama kali Aku dikenalkan pada mereka, sepertinya masih meneliti kecocokan pokoknya begitu deh Aku juga nggak ngerti." Intan bicara sepertinya momen bertemu calon mertua untuk pertama kalinya tidak memberikan kesan baik dan senang setidaknya itu yang Retno tangkep dari pembicaraan intan.
"itu baru pertama kali Intan semua perlu adaptasi, nanti juga sudah kenal mungkin biasa." hibur Retno yang seperti Intan sangat memikirkan pertemuannya tadi malam.
"Mungkin juga memang pembawaan mereka seperti itu Intan, Kamu jangan dulu mengambil kesimpulan mereka tidak suka padamu jangan! Seperti itu orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, semua orang tua pasti mengharapkan yang terbaik terlebih seorang dr Imam hanya seorang anak tunggal dalam keluarganya, di mana-mana orang tua tak ingin kecewa dengan pilihan anaknya jadi, wajar selektif terlebih dahulu. Saran Mbak sharing sama dokter Imam sepertinya itu bukan hal aneh di mana orang tua ingin menjadi yang terbaik dan ikut menentukan pilihan anaknya."
"Iya Mbak, tapi menurut Intan walaupun ingin yang terbaik buat anaknya dan ikut menentukan pilihan bagi anaknya tapi tidak bersikap seperti itu, saat pamit pulang saja dokter Imam sampai mengetuk pintu beberapa kali baru mereka keluar dan kami pamit pulang, juga saat Aku tanyakan sama dokter Imam di jalan Mas Imam juga merasa heran dengan perubahan sikap orang tuanya." jawab Intan dengan polosnya.
__ADS_1
Retno tersenyum, mengusap punggung Intan yang berdiri di sampingnya.
Kalian sama-sama cinta itu adalah kekuatan, modal utama adalah saling cinta kalau kalian sudah rekat, yakin dan pasti satu tujuan tidak ada yang bisa menghalangi kalian untuk bersatu apapun halangan dan rintangannya."
"Iya Mbak, melihat perjalanan cinta Mbak Retno sama Kak Prabu juga begitu berliku, lama berbelit, dan penuh ujian Aku juga berpikir mungkin ini adalah rintangan untuk menuju keseriusan."
"Nanti ketemu kedua kalinya mungkin ada perubahan yang lebih baik, pokoknya jangan berhenti berharap dan berprasangka baik kalau itu untuk kebaikan Anaknya."
"Tapi rasanya males Mbak kalau dalam waktu dekat harus bertemu mereka lagi."
"Ya, jangan dulu lah, nanti ada waktu jalan lagi ke sana, jangan lupa tanya sama dr Imam apa kesukaan kedua orang tuanya dan itu menjadi celah buat kamu untuk membeli hatinya."
Intan diam meresapi apa yang di ucapkan Retno memang begitu bijaksana sebagI pilihan dan memotivasi dirinya.
"Mbak Retno do'akan semoga itu adalah hanya hambatan kecil dan kalian bisa melewatinya tanpa melalui perjuangan yang berat juga panjang seperti Mbak sama Mas Prabu."
.
.
.
.
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir By Enis Sudrajat 🙏❤️