Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
MP 2


__ADS_3

"Mas, lihat bercak darah itu."


"Iya sayang aku tahu, maafkan aku ya, yang telah bikin kamu sakit tapi setidaknya bukan rasa sakit yang ingin kuberikan padamu tetapi rasa cinta yang nyata dan kita sama-sama menikmati nya." dr Prabu memeluk Retno kembali sambil duduk.


"Iya Mas."


"Kamu mau bangun sayang?"


"Iya, mau ke kamar mandi."


"Mau di bantu?"


"Nggak usah, emang kenapa?"


"Takut kamu nggak kuat jalannya sayang."


"Biasa aja Mas cuma ada rasa sakit sedikit, mungkin itu biasa buat yang pertama kali melakukannya. Nanti juga mungkin hilang dengan sendirinya sudah kena air dan beraktivitas kembali."


"Mas jangan minta banyak banyak dulu ya."


"Ah kamu sayang, kenapa ngomongnya begitu, sedikit banyak juga sama aja, nggak kelihatan sama orang."


"Mas kita perlu istirahat, resepsi kita belum selesai aku janji deh...nanti selesai resepsi yang kedua, kita udah bisa tinggal bersama di sana kita bisa bebas melakukannya."


"Tapi setidaknya malam ini lagi ya, lihat tuh baru jam berapa?"


Dr Prabu menunjuk jam dinding di sebrang tempat tidur.


Retno tersenyum sambil melirik jam dinding.


"Aku ke kamar mandi dulu ya."


Dr Prabu memandang Retno yang mengenakan kembali pakaian tidurnya, setelah sebelumnya dr Prabu ikut mencari karena baju tidur Retno hilang entah kemana.


Malam sudah penunjukan pertengahan dan menginjak ke pergantian hari. Dr Prabu dan Retno belum menunjukan mau tidur dan istirahat, mereka asyik mengulang manis madunya cinta yang telah lama mereka dambakan bersama.


Sepertu seorang musafir yang baru menemukan oase penghilang dahaga, mereka mereguk sepuas-puasnya pengalaman pertama dalam hidup mereka sesuatu yang sangat diinginkan semasa pacaran.


Hasrat yang selalu terpendam selama belum sah menjadi suami istri, kini tumpah sudah menjadi satu keajaiban yang sulit di percaya di hadapan mereka.


Satu keindahan yang tersembunyi kini bebas di rambah nya, sama-sama bernafsu menampakkan kasih sayang pada belaian, pelukan, ciuman dan penyelesaian akhir.


Tak ada yang mereka fikirkan selain memberi dan menerima, keduanya saling menjajaki mengeksplor segala yang serba baru mereka nikmati, tak ada kata puas selain badan mereka yang kelelahan.


"Mas, udah ke sekian kalinya, apa nggak capek?"


"Nggak."


"Aku capek."


"Tapi senang dan mau lagi kan?"


"Aku mau tidur, boleh ya?"


"Boleh, tapi aku beri waktu tidurnya, nanti setelah kurang lebih tiga jam aku bangunkan lagi."


"Kenapa di bangunkan?"


"Ah sayang, masa kamu nggak mengerti."


"Bukannya Mas juga mau tidur?"


"Nggak, aku mau memandang wajah kamu untuk pertama kalinya setelah aku sentuh kamu luar dalam."


"Aku nggak ngerti, pokoknya aku tidur ya."


"Tidurlah, sini aku usapan biar cepet pules tidurnya."

__ADS_1


Dr Prabu memeluk tubuh Retno kembali, Retno menenggelamkan kembali wajahnya di dada bidang suaminya, dr Prabu mengusap-usap kepala dan punggung Retno dengan sepenuh perasaannya.


Tak satu kerjap pun dr Prabu memejamkan mata sampai fajar mulai memperlihatkan energi cahayanya, menandakan pagi telah tiba.


Dr Prabu benar-benar ingin menikmati saat-saat kebersamaan, saat-saat berdua untuk pertama kalinya dengan Retno yang sangat dicintainya.


Retno masih pulas dalam pelukannya, tak ingin mengganggu dan membangunkannya. Terasa sayang rasanya dirinya melihat kepolosan Retno saat tidur dalam pelukannya begitu damai memandangnya, memejamkan mata dengan tarikan nafas yang teratur walaupun berkali-kali keningnya dr Prabu cium dan mengelus rambutnya yang begitu wangi dalam balutan satu selimut, sampai dr Prabu merasa pegal sendiri karena tangannya sejak dari tadi dipakai bantal kepala Retno.


Merasa Retno sudah lama tidur, dr Prabu mulai menempatkan kepala Retno ke bantal dengan semestinya, dan mulai kembali melakukan penjelajahan yang dirasa malam ini belum usai dan masih menyisakan penasaran dan keinginan dihatinya.


Karena merasa geli Retno menggelinjang dan merasa kaget sendiri, kalau daerah sensitifnya ada yang menyentuh. Dr Prabu langsung memeluk mencium dan menenangkannya sampai Retno sadar kini dirinya dan laki-laki di hadapannya telah sah menjadi suami istri.


"Mas, nggak tidur?"


"Nggak, aku terlalu bahagia sayang."


"Jam berapa ini?"


"Setengah lima pagi, sayang."


"Rasanya aku perlu minum jamu lagi Mas."


"Nanti pesan lagi, siapa itu yang bikinnya?"


"Mungkin Ibu, atau Si Mbok."


"Bisa pesan yang lebih berkhasiat lagi gitu, untuk malam nanti siapkan energi mu."


"Malu Mas."


"Pokoknya minta jamu yang nggak enak itu buat acara enak kita heee...aneh ya?"


"Bangun yuk."


"Sekali lagi."


"Akh...Mas."


"Mas."


"Hemght...masih bisa satu kali lagi."


"Mas, mau yang mana dulu."


"Semuanya."


Retno juga menjadi lebih berani melakukan kepenasaran nya, mencari titik sensitif suaminya.


"Kamu seperti masih ragu sayang, aku ini suamimu kini."


"Iya Mas, kadang aku masih ragu."


"Ah, kamu bikin aku penasaran terus."


"Mas, kata orang kalau resepsi belum selesai, harusnya kita jangan melakukan ini dulu."


"Ah, kata siapa? orang tuamu saja yang banyak banget aturan, mungkin karena adat dan kebiasaan, kita bukan melanggar agama kita sudah halal, kalau sedikit melanggar adat nggak apa-apa."


"Mas, aku bangun tidur."


"Nggak apa-apa, aku suka melihat asli kamu sayang, ya sekarang ini kita tahu aslinya kita masing masing."


Dr Prabu memeluk erat seakan ingin meyakinkan kalau kini Retno telah menjadi miliknya seutuhnya.


Begitupun Retno pasrah dengan semua yang di lakukan suaminya.


Melakukan permulaan kembali untuk ke sekian kalinya, menerobos kebebasan yang telah mereka miliki.

__ADS_1


Menenggelamkan rasa dalam kenikmatan istimewa malam pertama mereka, menyentuh segala yang menjadi miliknya.


"Lagi ya sayang, sebelum kita bangun."


Retno mengangguk sambil menyelusupkan mukanya ke dada suaminya dan memeluknya dengan sama eratnya, menikmati kehangatan yang belum pernah di rasakan sebelumnya.


Dr Prabu bangun, mulai menyentuh setiap jengkal sesuatu yang begitu indah dan menantang terbentang indah di hadapannya.


"Aku sayang kamu Retno."


"Aku juga sayang Mas Prabu."


"Kamu hanya milikku."


"Mas Prabu juga hanya milikku, aku nggak mau ada yang lain."


"Kita di satukan oleh cinta. Aku akan selalu ada setiap saat di hidupmu Retno."


"Tak ada yang memisahkan sampai maut memisahkan kita."


Memulai lagi ke sekian kalinya, dengan tetap menikmati hangatnya dalam selimut tanpa pakaian yang mereka kenakan.


******* dan lenguhan nikmat mengiringi tuntasnya pencapaian hasrat yang bergelora menuju sempurna, seperti deburan ombak yang ganas menerjang tebing curam yang membuncah, tak perduli apapun dan siapapun tetap setia dengan iramanya. Dunia begitu lapang milik mereka dan tak terbatas penjelajahan yang mereka lakukan.


Malam ini milik mereka berdua tak ingin sedetikpun terganggu, ingin ku reguk manisnya cinta yang sekian lama jadi keinginan terpendam, malam ini semua tak ingin melewatkannya.


"Sayang sebelum bangun sekali lagi kita terbang bersama ya."


"Ya Mas lakukan."


"Iya sayang."


"Nggak sakit lagi kan?"


"Nggak, tapi pelan."


"Iya, berarti kamu mulai adaptasi."


Penyatuan terakhir malam itu mereka capai dengan kepuasan. Retno menarik selimut saat mereka terlentang mengatur nafas.


"Ayo kita bangun, kok malah selimutan lagi hemght...?"


"Aku malas bangun Mas."


"Istriku mulai manja ya rupanya? sini Mas peluk, kasihan capek banget ya..."


Retno diam tak bergeming belum pernah merasakan capek yang seperti ini. Memejamkan mata dalam pelukan damai suaminya.


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta! habis baca...


..."Biarkan Aku Memilih"...


...Jangan lupa mampir ke karya...


...terbaik bertitel,...


...MENITI PELANGI...


...By Enis Sudrajat juga, baca, like,...

__ADS_1


...vote dan beri hadiah ya!...



__ADS_2