Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Sebenarnya siapa anda ini?


__ADS_3

Dr Prabu menghampiri satu tempat tidur yang berbaring sesosok yang selama ini di carinya, kekaguman memenuhi hati dan perasaannya, Alya berada di pengungsian juga untuk bisa berbagi dengan sesama merasakan bagaimana hidup di pengungsian. Melihat, mendengar dan terjun langsung melayani dan berbagi dengan mereka.


Dr Prabu menatap wajah cantik Alya yang tanpa make-up, tanpa tingkah manja, tanpa centil yang di buat buatnya, tanpa jutek, juga muka yang bikin orang sebal, tapi muka yang polos asli tanpa ekspresi dan tidak bengal juga sinis.


Di sini tak melihat Alya yang egois, dan dengan segala cara mempertahankan prinsipnya, menggapai semua yang dia inginkan walaupun dengan cara kotor dan licik, tak ada Alya yang manja dan centil tapi ada Alya yang mandiri dan bisa berbagi di tengah hiruk-pikuk manusia tertimpa bencana seperti itulah pandangan dr Prabu kini pada Alya walau belum melihat kesehariannya.


Alya yang rela berada di tengah lapisan manusia yang sama semua murung, manusia yang lagi kesulitan, gamang dengan masa depannya, cemas dengan keselamatannya, khawatir akan keluarganya dan merasa takut dan tak tentram hati dengan segala kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya, masa depan tak menentu, setidaknya itulah orang-orang di sini gambarannya.


Alya, pertama-tama apa yang harus aku katakan padamu? selain kata maaf, kenapa tidak dari kemarin kemarin kita bertemu? dimanakah kamu tinggal? pantesan kedua orangtuamu sampai sakit karena memikirkan mu, apa yang membuatmu terpanggil berada di daerah bencana alam ini?


Seperti aku kah? ingin keluar dari permasalahan dan mengalihkan sejenak kenyataan yang di hadapi, seperti orang-orang di barak pengungsian galau dengan diri mereka masing-masing.


Kamu yang biasa berpenampilan cantik dan modis, sekarang hanya mengenakan kulot lusuh dan t-shirt panjang, biasa turun naik mobil sekarang harus panas-panasan mengantar kue bikinan sendiri dengan naik motor dan bawa muatan berjibun hingga kamu jatuh dari motor.


Kamu meninggalkan segalanya, meninggalkan kedua orangtuamu, meninggalkan masalah, meninggalkan usahamu, meninggalkan kehidupan enak, meninggalkan kehidupanmu ternyata kamu berada di sini untuk misi kemanusiaan.


Sama seperti aku mencari sesuatu yang tidak pernah kutemukan di tempat lain yaitu kedamaian, di sini tempat orang-orang yang kesusahan di tengah permasalahan ku dalam rumah tangga, kenapa kita harus bertemu di sini apakah ini ketentuan yang digariskan?


Alya, ternyata darah tadi adalah darah keguguran anak kita walaupun anak yang bukan aku inginkan, tetapi tadinya aku tetap akan bertanggung jawab sebagai seorang laki-laki ya yang seharusnya bertanggung jawab, walaupun aku mengabaikan rumahtangga ku dan Retno istriku yang sangat aku cintai, juga dengan resiko rumah tangga akan berantakan, rumah tangga yang aku idamkan, rumah tangga yang aku cita-citakan dengan Retno seandainya harus berakhir karena pertanggungjawabanku aku sudah siap.


Aku siap menikahi mu dan rela rumah tanggaku semuanya berakhir dan tak memberi arti lagi bagi hidupku, aku mencari mu, aku menunggu khabar dari kedua orangtuamu, tetapi semua tak memberi kepastian.


Akhirnya kita bertemu di sini dalam suasana yang seperti ini. Tak ada yang bisa disesali semua memang harus seperti ini jalannya, betapapun semua ini sangat mengagetkanku dan sampai saat ini aku belum percaya yang berbaring lemah di hadapanku itu kamu.


Alya, Retno telah menyampaikan kelapangan hatinya dan telah bisa menerima kamu di tengah rumah tangga kami, walaupun aku belum tahu seberapa rela dia seberapa lapang hati dia, cuman baru mendengarnya saja aku sudah merasa cinta Retno masih ada untukku.


Kini kenyataan berbicara lain Alya, mungkin semuanya harus berjalan seperti ini kenapa aku harus kehilangan satu bakal calon anakku di saat aku menerima kabar aku akan mendapatkan anak dari kehamilan Retno.

__ADS_1


Sungguh tidak ada do'a jelek dariku untukmu Alya, aku tulus aku rela dan aku siap bertanggung jawab tetapi keadaan berubah seperti ini mungkin tidak akan berjalan seperti pada awal rencana ku.


Aku berharap kamu bisa menatap masa depan mu sendiri dan berpijak pada keyakinan sendiri di masa depan, semua akan ada kebaikan dan hikmah dari semua kejadian ini terutama untuk diriku sendiri dan dirimu Alya.


Dr Prabu memegang jemari Alya dengan menumpuk telapak tangannya yang berada di samping tubuhnya, walaupun tak ada rasa cinta dari dalam dirinya tetapi kalau melihat keadaan seperti ini ada rasa iba dan haru juga di samping kekaguman kepada sosok yang selama ini dibencinya.


Alya, semoga dengan kejadian ini membukakan mata hati kita akan sebuah arti perasaan. Jujur aku tak mencintaimu dan aku sangat mencintai istriku, aku tidak percaya yang namanya karma, tapi hanya meyakini niat baik yang dan buruk yang kita niatkan itulah yang akan kita tuai.


tok tok tok...tok tok tok...


Pintu di ketuk perlahan, dr Prabu melepaskan pegangannya di tangan Alya. Pintu terbuka tampak Ibu yang tadi mengaku keluarganya Alya masuk dan mendekati tempat tidur dimana Alya berbaring masih dengan nafas teraturnya.


"Neng Alya, sadarlah...ini Ibu, apa yang terjadi denganmu Nak? kenapa bisa sampai begini?"


Dr Prabu mundur beberapa langkah dan menyaksikan Ibu itu seperti menyayangi banget pada sosok Alya.


"Ibu, Alya masih belum siuman masih dalam pengaruh obat bius habis tindakan tadi." dr Prabu maju sedikit memberitahu kondisi Alya.


"Saya juga sama relawan juga seperti Alya, cuma saya membantu di bagian kesehatan, kenalkan saya dr Prabu Seto Wardhana."


Ibu itu terkesima sampai tidak menyebutkan namanya, hanya mengangguk dan menyodorkan tangannya dan berharap dokter ini tidak mengincar dan menaksir Alya karena Alya ingin lebih dekat dengan anaknya Rendra.


"Saya tak perduli Alya sudah siuman atau belum, yang pasti saya ingin tahu keadaannya apa dia akan baik-baik saja?"


"Insha Allah Ibu, dia akan baik-baik saja, mungkin beberapa menit lagi dia akan siuman, dan kembali biasa dan bisa beraktivitas lagi."


"Terimakasih dokter, anda begitu baik."

__ADS_1


"Sama-sama Bu, apa Alya sudah lama tinggal bersama Ibu?"


"Lumayan lama, dari awal bencana mulai dia sudah berada di sini dan Ibu tampung di rumah Ibu, cuma Ibu belum jelas darimana dia aslinya, dan dia datang dalam keadaan hamil muda, sekarang kejadian seperti ini pasti tambah mengguncangnya."


"Semoga Alya menemukan hikmah dari semua kejadiannya dan membawanya ke jalan yang lebih baik lagi."


"Semoga dokter, Ibu begitu kasihan dengan segala yang menimpanya, dia pergi dari rumah dan terdampar di sini."


"Boleh saya minta alamat Ibu?"


"Boleh dokter."


Ibu itu menyebutkan alamat dan dr Prabu mencatat di ponselnya, lalu pamit karena masih banyak yang harus di kerjakan nya.


Dengan ringan dan panjang dr Prabu melangkah menuju mobil ambulan team kesehatannya dan akan kembali ke barak pengungsian.


Dr Prabu membuka pintu belakang dan masih melihat ada darah kering di tempat tidur ambulan itu, bekas Alya di baringkan. Sejenak tertegun kakinya seakan terpaku nggak mau beranjak.


Astagfirullah...dr Prabu mengusap mukanya. Lalu mengambil cairan antiseptic dan tissue, menyemprotkannya dan mengelapnya, hanya dr Prabu yang merasakan seperti apa perasaannya saat itu.


.


.


.


Biarkan Aku Memilih Kurang lebih sepuluh episode terakhir.

__ADS_1


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir (Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️



__ADS_2