Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Vionna kena skak


__ADS_3

Retno merasa heran melihat Intan lari sambil masuk ke ruangan suaminya, untung tidak lagi ngapa-ngapain kalau saja Mas Prabu keterusan bicara tentang nostalgia dan ujung-ujungnya sedikit praktek seperti yang di sebutkannya di balik pintu selalu menciumnya pasti akan dengan jelas semua kelihatan.


"Intan bicaralah jangan seperti ini, malu ketahuan sama orang lain, jadi kelihatan Kamu punya masalahnya," ujar dr Prabu sambil duduk di samping Intan di susul Retno juga duduk di sebelah satunya lagi.


"Mbak, Aku tak ingin mendengar apapun lagi soal Mas Imam, Aku berusaha menutup kuping dan mata berusaha menekan perasaanku sendiri di hadapan Mas Imam, Aku berusaha memahami bersikap seolah semua itu tak benar, tapi kalau perempuan itu datang masuk ruangan praktek dr Imam tanpa permisi dan mengatakan semuanya, mengantar sarapan, dan mengatakan sudah tidur bersama tiap malam, dan itu di yakini orangtua Mas Imam juga sebentar lagi mereka akan menikah lantas Aku harus bagaimana?" Intan bicara panjang seakan begitu panjang juga rasa sakitnya.


Retno sama dr Prabu tertegun berarti perempuan yang bernama Vionna itu datang ke rumahsakit ini.


"Intan, kenapa Kamu malah menghindar bukan mengatakan pada perempuan itu kalau Kamu adalah kekasihnya? Kalau Mbak akan seperti itu biar Dia tahu, bukankah kalian sudah berkomitmen untuk masa depan? jangan dengar dulu apapun yang di katakan nya kalau Kamu masih saling cinta, yakinlah pada perasaan itu!" jawab Retno malah sedikit menyalahkan Intan.


"Iya Intan, beri ketegasan dengan apa yang diyakini Kamu dan dr Imam, jangan malah memojokkan dr Imam dengan segala tuduhan yang belum tentu benar kenyataannya seperti itu, semua sikapmu malah membuat dr Imam merasa semakin tersudut, sudah sikap kedua orangtuanya begitu ditambah lagi sikap Kamu malah akan semakin membuat dr Imam tak bisa berpikir dengan baik dan bijaksana," tambah ucapan dr Prabu Kakaknya membuat Intan berpikir apa memang harusnya begitu?


"Aku maunya begitu, tapi melihat Mas Imam bertengkar dan beradu argumen di hadapanku apa Aku harus tetap ada di situ?" tangkis Intan sambil menatap Retno Kakak iparnya.


"Tak apa Intan, karena Kamu dalam suasana kerja. Biar Kamu bisa mendengar dan menyikapi dari kedua belah pihak dari sisi Mas Imam dan perempuan itu jadi Kamu bisa mengambil kesimpulan, perlihatkan malah kalau kalian serius sedang menjalani hubungan selama ini, biar perempuan itu sadar diri," ujar Retno memberi masukan.


"Intan kan baru belajar masuk dunia kerja, gak apa-apa Kamu ada di ruangan itu, kecuali Kamu lagi di mana dan menimbulkan kericuhan dan kerumunan orang baru Kamu menghindar, kalau di situ yakinkan mereka kalau Kamu juga serius," ucap Retno lagi.


"Apa Aku harus turun tangan Intan?"


"Harus Mas, karena hubungan Intan sudah sampai padan orang tua Kita, baiknya menurutku harus ada campur tangan Kita sebagai wakil dari orangtuanya Intan," jawab Retno sambil menatap dr Prabu yang kelihatan lagi mikir.

__ADS_1


Lalu dr Prabu meraih ponselnya dan menelepon dr Imam.


"Ya, di tunggu di ruanganku ada sedikit bahasan! selesaikan dulu antriannya sampai waktu istirahat."


"Baik Bos, nanti Aku ke situ," sahut dr Imam.


"Kalau bisa ajak juga saudaramu itu biar istriku bisa berkenalan," lanjut dr Prabu sebelum menutup teleponnya.


"Intan merasa ini adalah hari yang menentukan apa berlanjut atau sudah semuanya berakhir sampai di sini hubungan cintanya dan pertalian janji dengan dr Imam, merasa semua begitu rumit dan berat di jalani walau hatinya juga begitu berat kalau harus berpisah.


"Sampaikan keinginanmu nanti, Aku hanya akan jadi penengah diantara kalian, Aku akan bijaksana tidak pro dan condong pada siapapun tapi akan berpihak pada kebenaran," ucap dr Prabu bicara seakan bukan Kakak Intan memposisikan dirinya.


Intan hanya diam hatinya bimbang, apa punya keberanian bicara di hadapan dr Imam dan Vionna yang begitu agresif?


"Tenang saja, Mbak bantu menyampaikan keinginanmu tapi Intan membuka jalani juga bicara ya?" ucap Retno membesarkan hati Intan.


Intan tersenyum dan mengangguk merasa ada yang mendukungnya.


Pintu di ketuk dr Imam diikuti Vionna dan langsung masuk ke ruangan dr Prabu yang tidak di tutup dengan rapat.


Dr Imam menyalami dr Prabu, Retno dan Intan diikuti juga sama Vionna.

__ADS_1


"Silahkan duduk," sambut dr Prabu. Sengaja sebelah sofa di kosongkan Intan dan Retno duduk di sisi kanannya.


"Aduh maaf Bos, tadi ada sedikit masalah yang membuat tidak enak sama suster Intan," ucap dr Imam langsung saja laporan.


"Ada apa dr Imam memangnya?" tanya dr Prabu sambil tersenyum.


"Ini saudaraku Vionna gara-gara Aku berangkat lebih awal tak sarapan di rumah Dia nganterin sarapan, jadi Aku merasa telah merepotkannya itu saja." sahut dr Imam apa adanya.


"Oh itu wajar karena di sini ada Intan, biasanya kalian sarapan bareng kan? dr Imam apa Vionna sudah tahu siapa Intan? kenalin dong ceweknya sama sodara dr Imam! atau malah sudah kenal?" ucap Retno sambil memandang Vionna yang tertegun.


Intan berdiri menghampiri Vionna yang duduk di samping dr Imam.


"Namaku Intan, pacar dr Imam hubungan sudah setahun lebih dan sudah serius hanya menunggu kuliah selesai saja, Kami sudah merencanakan masa depan dengan baik," ucap Intan sambil menyodorkan tangannya dan lama tak di sambut Vionna. Tapi akhirnya di jabat juga tangan Intan sekilas.


Dr Prabu tersenyum di tahan, Intan begitu sok dewasa banget mungkin benar-benar cintanya sama dr Iman.


"Oh iya, Vionna kenalkan ini suster Intan yang tadi mendampingiku praktek Dan ini Bu Retno Kakak Iparnya kalau sama Pak direktur sudah kenal kan? Seperti yang sudah Aku katakan sebelumnya kalau Suster Intan adalah teman dekatku," ucap dr Imam mengenalkan Retno juga.


Vionna tersenyum pada Retno dan melirik Intan mengamati dari atas hingga bawah membuat Intan jengah.


********

__ADS_1


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_2