
Selesai tugas malam sekitar jam sebelas malam terasa letih badan Retno KKN baru di jalani seminggu badannya kalau bangun tidur seperti habis angkat berat, kalaupun harus mengeluh pada siapa? semua keinginan dirinya dan perasaan kalau belum menjadi sarjana penuh rasa hatinya belum puas, jadi biarlah di nikmati aja semua rasa lelah ini.
Bertiga di dalam kamar Retno, Ella dan Ismi membersihkan muka mereka setelah pada sholat Isya tak ada satupun yang memulai bicara semua sibuk dengan masing-masing fikirannya dan Ella yang selesai duluan malah lagi melihat ponselnya dan sudah di tempat tidurnya dengan selimut separuh badannya ke bawah.
"Mbak Retno kenapa lagi Mbak, macan betina si suster kepala Miranti berulah lagi?" Ismi mulai penasaran dengan dengan kejadian sore tadi yang tak sempat bertanya pada sahabatnya ini.
Retno seperti enggan bercerita karena malah membangkitkan lukanya kembali mengingat kata kata suster kepala Miranti yang terlalu menyakitkan di hatinya tadi, tapi semua malah menambah sesak di dadanya dan takut hanya dirinya mengada ada tapi mungkin kalau bercerita siapa tahu semua menjadi longgar perasaannya.
"Parah banget kali ini Ismi, Ella, suster kepala Miranti mencapai puncak ketidak sukaan nya pada diriku."
"Mbak?" sahut Ismi
"Apa yang dia lakukan?" Ella langsung pasang badan di hadapan Retno.
"Dr Imam SpOG memilih aku untuk mendampinginya praktek selama aku KKN di sini, tapi suster kepala Miranti memperingatkan aku tahu apa yang dia katakan tadi?
Ingat! jangan jadi penjilat dan perayu, di sini tempatnya di nilai segalanya, dan ini menentukan nilai mu nanti, itu tergantung semua darimu." Retno menirukan kata kata yang suster kepala Miranti tadi sambil menunjuk nunjuk.
"Kurang ajar banget emang kita perempuan apaan sih?" Ella langsung emosi.
Dan Ismi hanya melongo saja seakan tak percaya.
"Tenang....saya juga mendidih sampai ujung kepala serasa berapi tadi itu karena emosi dan tak terima, saya beristighfar dan menyabar nyabarkan kan hati, tadinya saya mau menyudahi saja KKN hari ini juga, dan tadi adalah hari terakhir tapi senyum sahabat baru saya dr Imam SpOG begitu tulus, dan merubah niat saya dan juga support membangun dari dia membangkitkan semangat baru aku heeee...kami besok mau ke Bandung bareng aku ikut numpang mobil dia, dia sekalian ada perlu ke Bandung katanya."
"Hah?"
"Apa?"
__ADS_1
"Mbak serius? selamat ya sepertinya ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama, aku yakin sekalian ke Bandung alasan doang itu mah yakin, ngantar ngantar aja sok sembunyi sembunyi akhirnya nanti ujung ujungnya pacaran Woooooi..."
"Haaaaaaaa..."
"Ssssssssst... orang sudah pada tidur kecil kan volume mulut kamu tuh!" Ismi melotot pada Ella.
"Lupakan urusan dengan macan betina, masa depan di depan mata Mbak Retno."
"Apaan sih? kami belum ada apa apa dan tak akan ada apapun kami hanya bersahabat." Retno mengulang.
"Sudah tidur Mbak pasang alarm jangan lupa besok sambut pagi dengan senyuman dan seorang dr Imam SpOG menunggumu." Ella menarik selimut Retno sambil tertawa menepuk nepuk pangkal lengan Retno.
"Pokoknya kita mengerti kegelisahan hati macan betina suster kepala Miranti pada Mbak Retno, tak mungkin kalau tanpa alasan peribadi nya."
"Saya nggak tahu apa suster kepala Miranti itu sudah nikah apa belum ya?"
"Sudah-sudah tidur sudah malam jangan banyak ngelantur sudah nikah apa belum bukan urusan kita." Retno tersenyum di dalam selimutnya.
Dan seperti biasa jam tiga kosong-kosong alarm Ismi duluan bunyi di susul alarm Retno yang berbunyi, karena Retno masih pulas Ismi menggoyangkan tangan Retno dan Retno bangun dengan enggan dan muka yang masih begitu ngantuk tapi karena ingat akan tugas dan tanggung jawab yang ada di pundaknya Retno bangun juga, mengusap mukanya dan mengikat rambut panjangnya yang berantakan, lalu bangkit mengambil handuk dan peralatan mandinya.
Retno hanya tersenyum mengingat dirinya hanya sempat mandi sekali sehari memang memprihatinkan tapi mau apa lagi semua serba terpaksa karena ketiadaan waktu, tak mungkin mandi habis tugas KKN tengah malam sesuatu yang tak mungkin apalagi dirinya kurang tidur dan istirahat takut masuk angin jadi hanya sempat mandi dini hari ini saja sekali, dan tubuhnya terasa segar kembali siap dengan aktifitas di hadapannya, mulai perjalanan kerja dan balik lagi ke sini ke tempat KKN nya.
Retno keluar kamar kali ini bersama Ismi, Ismi memaksa ingin mengantar Retno sampai ke depan gerbang rumah sakit dan yang tak di mengerti Retno tumben amat si Ismi mau antar dirinya, tapi alasannya yang membuat Retno tersenyum mau tahu dan melihat dengan jelas dr Imam SpOG.
Ponsel Retno berbunyi dan seseorang memanggilnya, Retno berbicara dengan seseorang dan mengakhiri pembicaraannya.
"Neng berangkat ya? sini aku bantu stop busnya." Satpam yang biasa menyetopkan bus untuk Retno menghampiri Retno.
__ADS_1
"Oh nggak kali ini mah Pak, aku ikut tumpangan sama mobil teman, terima kasih ya Pak."
Deg! dr Prabu yang ada di dalam post security hatinya berdebar, dengan jelas mendengar kata kata Retno menjawab penawaran security yang biasa menyetop kan bus buat dirinya, dengan siapa Retno ikut tumpangannya?
"Oh. Iya Neng hati hati ya."
"Iya Pak."
Retno sama Ismi berjalan ke luar gerbang dan berdiri di pinggir pagar rumah sakit,sebuah mobil merah berhenti dan meminggir di pinggir jalan raya depan Retno dan Ismi, seseorang keluar membuka pintu mobil dengan tersenyum.
"Ayo!" dr Imam mengangguk.
Retno mengangguk juga dan tersenyum setelah pamit Ismi lalu berjalan ke bagian samping sebelah kiri mobil, dr Imam SpOG membukakan pintu sebelah kiri bagi Retno dan Retno masuk, selang setengah menit mobil pun melaju berjalan ke arah Bandung di iringi lambaian tangan Ismi.
"Apa-apaan si Imam itu? mau nikung aku? kurang ajar banget dasar playboy bangkotan, emang nggak ada lagi perempuan lain, maksudnya apa semua ini? maunya apa dia? dr Prabu bergolak hatinya panas sampai ubun-ubun nya hatinya terus mengumpat sahabatnya dr Imam SpOG, sampai hati dia memanfaatkan kesempatan, baru saja tempo hari dirinya cerita tentang Retno yang tiba-tiba ada di hadapannya dan dr Prabu minta tolong untuk membantu mengerjai Retno, tapi dr Imam SpOG menolaknya mentah-mentah malah kalau mau dr Imam SpOG menawarkan dirinya untuk menjadi comblang menyatukan dirinya sama Retno.
Tapi kenyataannya sekarang apa? dia sendiri yang dengan tanpa beban memberi tumpangan pada orang yang masih dirinya cintai teman macam apa dia? sepertinya ada yang menantang adu jotos hari ini.
Masih teringat saat Retno tersenyum melihat dr Imam membukakan pintu mobil dan menyapanya, hati dr Prabu tak terima sedikitpun dengan pemandangan itu, hatinya berdarah dan terluka, giginya di satukan dan bibirnya di katup kan rapat-rapat mencoba berfikir positif tapi kemarahan dan kecemburuannya mengalahkan segalanya.
Dr Prabu masuk ke ruangannya menutup pintu dengan kerasnya menimbulkan suara yang buk! tanpa sadar kacanya sampai bergetar dan meninju-ninju sofa melempar semuanya topi kacamata dan membuka jaketnya dan melemparnya entah kemana.
"Brengsek semuanya! dasar pecundang gila! terus saja mengumpat sambil mondar mandir di dalam ruangannya, kalau sekarang dirinya ada di hutan atau di gunung atau juga di lautan ingin rasanya teriak sekencang kencangnya melepaskan semua beban di hatinya.
Retno aku tahu kamu belum menikah seperti aku juga sama belum menikah, karena aku punya janji hati yang ingin ku nyatakan, dan ternyata sekarang dengan nyata kamu baru saja kepincut sama sahabatku sendiri.
Apa mungkin mereka sudah pacaran? kapan jadiannya atau baru pendekatan saja? atau juga mereka hanya sahabat, karena selalu bertemu di ruangan praktek mungkin juga, dan hati dr Prabu mulai agak tenang sedikit dan bisa bernafas agak longgar semoga saja bukan sesuatu yang di takutkan nya.
__ADS_1
Pada siapa dirinya minta jawaban dari semua pertanyaan yang begitu banyak di hatinya, dan hari ini akan menjadi hari paling uring uringan dr Prabu Seto Wardhana.
Tinggalkan jejak dan dukungannya, mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝