Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Debat intelektual


__ADS_3

"Kenapa berhenti?"


Ucap Vionna sambil mengatur nafasnya sendiri, menatap dr Imam yang sama lagi mengatur nafasnya yang masih tersengal.


"Vio! entah dari mana Aku harus memulai bicara padamu," ucap dr Imam begitu berhenti di pinggir taman kota, setelah melajukan mobilnya yang tanpa arah tujuan dan berhenti di situ.


"Apa yang mau Mas bicarakan? sepenting apa selain diantara kita harus adaptasi sama-sama dengan saling memberi dan memiliki?" ucap Vionna sambil mulai memegang bahu dr Imam kembali.


"Vio! Ada banyak hal yang harus kamu tahu dariku, kalau Aku punya pacar yang Aku anggap sudah serius dan kami sudah punya rencana masa depan berdua!" ucap dr Imam dengan lantang.


"Wow, bisa serius juga ya rupanya Mas ini, siapa cewek itu? seperti apa orangnya apa tahu kelakuan Mas yang seperti tadi di ruang praktek Mas sama perempuan perempuan dan Ibu ibu lainnya?" ucap Vionna seperti meledek.


"Vio! itu terserah tanggapan Kamu, tapi sepertinya diantara kita tak bisa meneruskan lebih lanjut lagi karena semua itu hanya kesia-siaan," ucap dr Imam akhirnya jujur apapun tanggapan Vionna nanti.


"Apa Mas sudah pasti akan jadi dengan wanita pilihan Mas itu? Aku pikir belum tentu dan yang mengatur jodoh bukan kita tergantung nasib dan takdir, begitu juga Aku masih banyak peluang dan juga wanita-wanita lain yang menginginkan Mas seperti yang kata Mas ibu-ibu tadi yang tidak jelas itu! juga nasibnya seperti apa? juga nasib Mas Imam sendiri akan seperti apa? mari kita berkompetisi dengan cara kita masing-masing!"


"Kamu mau kompetisi seperti apa? Aku tantang Kamu kalau bisa! Aku sudah punya satu pilihan hatiku dan ada janji yang tak bisa Aku abaikan begitu saja," timpal dr Imam dengan bicara lebih meyakinkan Vionna.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Ibu-ibu yang lain? kalau Aku tidak masalah Aku punya caraku sendiri mungkin yang lain juga punya cara sendiri karena Aku harus katakan dengan jujur Aku sudah terlanjur tertarik dan mungkin mencintai Mas Imam!" ucap Vionna di luar dugaan dr Imam.


"Vionna, kalau boleh katakan Aku tidak pantas Kamu cintai, Aku tidak seperti yang Kamu perkirakan Aku hanya seorang laki-laki yang punya keinginan dan cita-cita membina hubungan dan masa depan yang lebih baik dengan seseorang yang Aku cintai tidak dengan keterpaksaan walau yang disodorkan orang tuaku sendiri." ucap dr Imam merasa tanggung harus terbuka semuanya, jujur kalau dirinya tidak setuju dengan tindakan orang tuanya yang tanpa bertanya dan persetujuannya memperkenalkan dengan Vionna.


"Aku juga bukan karena di jodohkan, tapi di perkenalkan! ingat Aku di perkenalkan dan selanjutnya itu adalah perjuanganku mendapatkan hati Mas Imam! kita melihat siapa yang akan meleleh duluan dan pasrah pada kenyataan, kalau diantara kita nanti harus menerima satu sama lain bagaimana kenyataannya. Apa Mas Imam dengan wanita yang katanya saling cinta, apa denganku berubah haluan atau dengan wanita lain?" tutur Vionna merasa semua masih jauh kalau harus menentukan pilihan soal jodoh masing-masing.


Deg! dr Imam tertegun kesalahan lagi telah menantang Vionna yang mempunyai backup orang tuanya sendiri tetapi dr Imam telah mengatakan yang sebenarnya kalau dirinya sudah punya pilihan sendiri.


"Oke, kita sama-sama merasa bukan dijodohkan tetapi diperkenalkan dan selanjutnya terserah Kita, mulai besok Aku akan kembali pada kehidupanku dan tidak akan menemani Kamu lagi setiap saat dan kita akan bertemu hanya seperlunya saja di rumah saat Kamu masih berada di sini dalam menghabiskan masa liburan, karena besok Aku akan memenuhi janjiku menemui kekasihku yang sedang sakit di Bandung!" ujar dr Imam kalai dirinya memperlihatkan keseriusan dengan ucapannya, sedikit menolak halus kehadiran Vionna dalam hidupnya.


"Tak apa, silahkan tapi yang barusan kita lakukan itu adalah awal bagiku!" ucap Vionna sedikit merasa marah dengan pernyataan dr Imam.


"Satu pintaku jangan manfaatin orangtuaku dan persaudaraan kita jangan sampai ambyar karena masalah Kita!" ucap dr Imam lagi, sambil melirik wajah cantik di sampingnya.


Kini Vionna yang tertawa sarkas entah seperti apa jalan pikirannya seperti apa perasaan Vionna terhadap dirinya padahal dr Imam sendiri tidak punya perasaan apa-apa atau entah belum?


"Kenapa harus ada syarat yang dipinta? semua jalan bisa di lalui untuk membuka kesadaran hati kalau Aku juga punya cara sendiri, apapun itu!" jawab Vionna bicara begitu memotong kata-kata dr Imam.

__ADS_1


"Vionna! kamu yakin bisa merubah hatiku dan bisa berpaling padamu?" tanya dr Imam merasa semua tak mudah apalagi dalam waktu singkat perkenalan dan penjajakan mereka.


"Kita lihat saja nanti, Aku masih punya waktu empat hari di sini dan hari selanjutnya selama janur kuning masih belum tertancap di halaman itu adalah kesempatan siapa saja untuk memenangkan sebuah kompetisi!" jawab Vionna datar.


Mereka berdebat dengan intelektual masing-masing, jauh di dalam hati dr Imam meyakini kalau Vionna begitu pintar, cantik dan terlihat sempurna sebagai seorang wanita.


Dimata Vionna dr Imam adalah satu tantangan yang sangat menarik untuk bisa ditaklukkan seperti laporan presentasi yang selalu mencapai grafik berhasil di setiap laporan rapatnya, begitu juga dengan dr Imam satu target yang harus di menangkannya.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2