Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Keluar manjanya


__ADS_3

Dr Prabu memencet klakson meminta bantuan untuk di bukakan pintu utama, Retno muncul dengan senyum khasnya yang datang keluar menyambut dengan langkah pendek dan perut besarnya.


"Sayang kemana Bi Iyah atau Intan? kenapa jadi kamu yang bukakan pintu pagar?" tanya dr Prabu seakan tak rela istrinya dengan perut besar berjalan agak jauh ke depan pintu gerbang.


"Nggak apa-apa Mas, Bi Iyah sama Intan lagi ke pasar sore, Bi Iyah mau belanja Intan minta ikut. Bi Iyah mau belanja buat besok Aku lihat sudah habis bahan makanan dan sayuran juga buah di kulkas," sahut Retno sambil membuka slot pengunci pagar besi itu.


"Kalau susah biar Aku turun dulu."


"Jangan Mas, bisa kok!" jawab Retno sambil mendorong pintu besi beroda itu. Suara berdecit pintu yang tergeser, dr Prabu memasukkan mobilnya dan Retno menutupnya kembali.


Retno menghampiri suaminya yang baru turun dan mengambil tas kerjanya. Dr Prabu mencium kening Retno yang berdiri di sampingnya lalu meluknya seperti begitu lama tak bertemu.


Sampai mencium pipi Retno beberapa kali lalu saat mau menyentuh bibirnya Retno mendorongnya.


"Ih, Mas ini apa-apaan sih? nyosor sembarang tempat aja! kalau di lihat orang malu tahu!" semprot Retno agak sewot karena tak biasanya aja suaminya berlaku seperti itu.


"Katanya nggak ada Intan sama Bi Iyah?"


"Lha, emang kita nggak punya kamar apa? malu tahu dilihat siapa aja di kira kita pasangan suami istri mesum!" jawab Retno sedikit marah.


"Hahaha ... nggak apa-apa Sayang, orang juga tahu kalau kita itu sudah suami istri, nih hasil kerjanya. Maaf ya Aku sampai nggak sadar ini masih di luar, habis Papa kangen sama Dedek bayinya juga sama Mamanya." dr Prabu mengelus perut buncit Retno sambil merengkuhnya berjalan ke dalam rumah.


Retno hanya senyum tak mengerti, kenapa kelakuan suaminya jadi aneh, semalam saat mereka memilih rekomendasi nama-nama calon bayi mereka Mas Prabu seperti nyata saja berbicara di hadapan perutnya, yang akhirnya menengok juga dengan alasan kangen Dedek bayi.


Sekarang datang datang langsung memeluk seperti yang bertahun-tahun tak bertemu, di tempat terbuka di halaman depan rumah mereka kalau dibiarkan dengan seenaknya Mas Prabu ingin mencumbunya.


"Mas, ada kejutan buat Mas, untuk pengobat kangen kita, Mas tebak kejutan apa ayo?"


Suara manja Retno sambil bergelayut di sebelah lengan suaminya.


"Kejutan? biar Aku tebak ya! sepetinya kamu ganti seprai kamar kita?" dr Prabu mencoba menebak apa yang ada di otaknya. Retno menggeleng sambil mengerutkan keningnya.


"Mungkin merubah posisi kamar kita supaya ada nuansa dan suasana baru!" dr Prabu mencoba tebakan lain yang menurutnya mungkin dilakukan Retno selama seharian ini.


Retno cemberut karena memang kejutannya bukan hal seperti itu.

__ADS_1


"Ah, Mas mikirnya yang begituan aja! coba tebak yang lain dong!" sahut Retno sambil duduk di sofa.


"Hahaha ...habis Aku nggak kepikiran Sayang, mikirnya hanya soal kamu yang Aku kangenin nggak ada yang lain." jujur dr Prabu bicara apa adanya.


Hati Retno menghangat dan merasa tersanjung, merasa jadi orang paling istimewa bagi orang yang di cintainya, Retno tersenyum sambil melirik suaminya yang lagi buka sepatu.


"Mas bener kangen? kan tiap hari tiap malam juga kita kangen kangenan terus?"


"Tapi Aku merasa semua itu tidak cukup Sayang." Retno membiarkan suaminya memeluk, mengusap perut dan punggungnya, mengecup kepala dan rambutnya yang akhirnya menyentuh bibirnya.


Setelah merasa puas baru melepaskan sambil menatap wajah istrinya yang bersemu merah habis di cumbu, dan membelai bibir Retno dengan jari jempolnya.


"Mas kok nggak antusias sih dengan kejutanku?" Retno pura-pura ngambek.


"Oh ya ampun, Maaf sayang. Boleh Aku tebak lagi?" dr Prabu kembali mencium pipi Retno sambil tertawa dan Retno hanya diam.


"Sepertinya kamu bikin makanan deh, benar nggak? tapi jangan marah kalau Aku nggak bisa tepat menebaknya ya?"


Retno mengangguk walau sepertinya Mas Prabu nggak bisa menebaknya.


Retno menggeleng lagi tapi sambil tersenyum memegang kedua belah pipi suaminya. Membuat dr Prabu semakin gemes melihat muka cantik di depannya dengan wangi sabun yang menyeruak menggoda.


"Sudahlah pokoknya Aku bikin makanan nasi khas Pekalongan, Mas mau makan dulu apa mandi dulu?"


"Oh alah, Megono ya? boleh boleh tuh tapi Aku mandi dulu ya, kalau nggak main dulu juga boleh, hahaha..."


"Mas! jangan ngaco ah!"


"Maksudku kita main kangen kangenan gitu sebentar di kamar yuk bukan main anu."


Dr Prabu membimbing tangan Retno naik tangga, dengan perlahan mengikuti ritme Retno berjalan dengan hati-hati, sebelah tangannya memegang tangan Retno dan sebelahnya merengkuh pinggang Retno.


"Aku bisa sendiri Mas apaan sih kayak orang sakit aja pakai di bimbing segala," ucap Retno masa kali diperlakukan seperti itu.


"Aku selalu khawatir takut kamu tidak hati-hati Sayang, soalnya selemah lemahnya seorang perempuan adalah saat dia sedang hamil walaupun perasaan dirinya kuat tetapi ada beban lain yang menuntut untuk lebih hati-hati."

__ADS_1


Retno diam memang dirinya juga dari dunia kesehatan bahkan keperawatan mengerti akan hal itu.


"Mas kan tadi kita udah pelukan sekarang mau apalagi mandi dulu sana kita makan bareng nanti." Retno merasa nggak enak biasanya kalau memulai pastinya menuntut lebih nantinya, masa habis mandi mau sholat Maghrib mandi lagi nggak lucu juga masuk angin yang ada.


Aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita aja, entah kenapa Sayang satu hari ini aku kangen dan ingat terus sama kamu, mungkin bawaan yang satu ini nih! kerja nggak konsen dan segalanya tidak fokus." ujar dr Prabu sambil mencium perut Retno kembali yang duduk di tepi tempat tidur.


"Itu hanya perasaan Mas saja, nanti kita makan bareng Aku sudah lapar apa kita tunggu Intan sama Bi Iyah juga?"


"Boleh, Aku istirahat sebentar ya Sayang rasanya penat banget, tapi kalau sudah bertemu dan dekat sama kamu semua terasa hilang." Dr prabu keluar manjanya, tiduran di pangkuan Retno yang duduk di tepi tempat tidur, Retno memakluminya, ada kecenderungan seorang suami cemburu saat akan memiliki anak karena takut perhatian istrinya terbagi yang pasti akan terbagi.


"Mas biasanya juga nggak aneh aneh kok, pulang mandi makan kita bersantai ngobrol, nonton TV gitu aja kan?" ucap Retno sambil membelai rambut suaminya yang hanya memakai kaos dalaman saja.


Dr Prabu memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut istrinya sambil meraba-raba perut buncit Retno dan merasakan kontraksi kehidupan di dalamnya.


"Ibumu telepon lagi tadi Sayang?"


"Tiap hari juga Mas."


"Katakan yang baik-baik pada Ibu sama Romo mu Sayang biar mereka merasa tenang."


"Iya Mas."


.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2