
Habis maghrib dr Prabu masih di cafe dan seperti tak bosannya memesan makanan kecil dan coklat hangat dan sekitar jam tujuh kurang dr Prabu melihat mobil merah dengan plat nomor Z masuk area parkiran rumah sakit.
Wow sialan banget tuh si Imam sok kegantengan pake di sengajain pede banget malam mingguan di Bandung pasti nyamper Retno, tanpa perasaan banget tuh orang baru kenal aja main sambar saja kayak bensin, cewek mu yang kemarin-kemarin yang paling lama hanya bertahan enam bulan pada di kemana kan? memang banyak banget kriteria pilihan si Imam itu harus yang gini yang gitu dan nggak boleh gini asal begini hadeuuuuuuuh... pusing dengernya masa dia suka juga sama Retno? katanya nggak mau kalau beda suku. Jawa sama Sunda kurang cocok versi si Imam, kalau mau campuran sama bule sekalian, apa campuran Jawa Sunda hasilnya nanti malah aneh, justru kata pendapat orangtua paling cocok heeee...juga kan dia tahu kalau sampai suka sama Retno akan berhadapan dengan siapa?
Retno dan seorang lagi suster Aisyah sama tingginya juga cantik berjalan dan bertemu dr Imam SpOG, mereka bersalaman dan masuk ke mobil dengan plat nomor Z itu, waduh sekali bawa dua cewek tuh orang dan dr Prabu hanya tersenyum membiarkan dr Imam membawa Retno dan temannya jalan-jalan paling di traktir makan makan dan si Imam pasang wajah gantengnya dan menebar pesona nya.
Dr Prabu hanya ingin melihat Retno malam ini tidak dengan orang lain tidak dengan orang baru hanya dengan dr Imam tak apa nanti akan ada interogasi tersendiri dirinya dengan dr Imam, dr Prabu percaya cerita suster kepala Harni dan semua melegakan hati dr Prabu.
Retno menunggunya dengan kesetiaan walau hanya ingin mendengar kata putus atau mungkin lanjut atau apapun nanti, dan dr Prabu bertemu Retno di ambang kesabaran Retno mencapai kata ingin menyudahi penantiannya, Retno ingin berkunjung ke tempat orangtuanya dan menyudahi segalanya, Retno aku ada di depan matamu aku sudah puas memandang mu dan dadaku mulai longgar tak terlalu sesak lagi dan aku telah berhasil membalaskan keegoisanku kemarahan ku padamu, tinggal kamu tahu siapa aku, dan apa reaksi mu nanti.
Kemarahan masih ada, rasa ingin menyiksa masih ada tapi sekarang ada kerinduan dan kecemburuan juga, dan dr Prabu harus belajar membesarkan satu perasaan apa benci atau cinta?
Apa akan terulang kembali kisah lima tahun lalu, ini bicara seandainya saja dr Prabu! Retno masih mencintainya apa mungkin kami akan bersama apa orangtuanya sudah berubah fikiran? apa langkah kami selanjutnya? kawin lari, hidup bersama tanpa nikah dan restu orang tua? sesuatu yang tak mungkin Retno lakukan walau atas nama cinta dan bukan itu yang di harapkan dr Prabu juga.
Dr Prabu berjalan ke arah mobilnya dan melajukan mobilnya keluar dari pelataran rumah sakit dan mobil melaju menuju keluar kota Bandung menuju ke Majalaya, dalam tak tenang hatinya sepanjang perjalanan hanya berfikir apakah Retno benar masih menunggunya seperti dirinya yang menunggu juga, masihkah kukuh pada keinginannya Raden Haryo Atmojo? kenapa Retno masih belum juga menikah yang tadinya kalau tahu Retno sudah menikah sempurnalah sudah penantian, kesendirian dan keterpurukannya. dan kini setelah tahu Retno belum menikah tumbuh lagi semangat dan rasa cintanya apalagi saat tahu Retno menunggunya.
Manis cinta yang pernah di kecap dan di jalaninya bersama tak lekang oleh waktu, kehadiran Retno di dalam hari harinya merubah segala kebiasaannya, Retno adalah motivasi hidup dan kala belajarnya membuat Prabu Seto Wardhana lulusan terbaik di angkatannya, juara satu bulutangkis single putra dalam liga olahraga mahasiswa se propinsi Jawa Barat, sama-sama penyuka olahraga bulu tangkis, suka musik dan yang jelas suka jalan-jalan mematri memori di setiap tempat wisata di Kota Bandung ada kenangan mereka, ada bahagia mereka dan harapan mereka.
Suka musik dan selalu saling memberi informasi lagu baru juga group musik kesukaan mereka, walau akhirnya saat nonton konser bersama Retno lah yang selalu membelikan tiket buat Prabu, dengan kata-kata lembut Retno berkata, "Kamu berhutang pada orangtuaku Mas karena aku juga masih memakai uang orangtuaku" oke aku akan membayar sisa umurku untuk membahagiakan putrinya" masih teringat semua kata-kata dirinya, yang semakin di ingat semua semakin sakit di hati dr Prabu, apa aku telah membahagiakan putri Raden Haryo Atmojo sekarang? yang ada aku telah membalaskan semua dendam dan sebagian sakit hatiku pada Retno, cerita dunia memang tak aku mengerti kapan semua berpihak padaku? kapan aku akan bahagia dengan orang yang aku cintai?
tin tin tin...
Mobil sampai di halaman rumah yang lumayan besar dan di depannya taman dan kebun kecil, di sampingnya ada kolam ikan semua tampak asri dan damai.
"Bu...ada Kak Prabu datang."
__ADS_1
Seorang abg kelas satu SMA adiknya bungsunya dr Prabu Rahma Paramitha berteriak memberi tahukan Ibunya sambil membukakan pintu pagar depan buat Kakaknya, dan satu lagi Kakaknya perempuan juga percis adiknya dr Prabu, Intan Juwita masih kuliah di kota Bandung juga memburu kakaknya yang baru datang.
Semua pada keluar dan dr Prabu menyalami Mamanya dengan mencium tangannya dan kedua adiknya bergantian mencium tangan Kakaknya, dr Prabu celingukan mencari Bapaknya yang tak kelihatan.
"Bapak mana Bu?"
"Bapakmu ngeriung di tetangga yang lagi selamatan." dr Prabu mengangguk.
"Tumben malam malam datang ke sini, sengaja biar mau nginep gitu?" dr Prabu hanya nyengir saja mendengar pertanyaan Ibunya.
"Pulang di tumbenin nggak pulang di rindukan heeee..."
Ibunya menatap anak bujang nya yang sudah dewasa, rasanya ingin ceramah saja di depan anak tersayangnya yang hanya satu satunya laki-laki, kenapa belum menggandeng seseorang gadis cantik setiap pulang ke rumah, apa yang kurang darimu Nak? karir begitu melesat seperti meteor, tampang ganteng seperti pemain sinetron di layar kaca, rumah dan kendaraan sudah di siapkan dari hasil keringatnya, apa lagi yang di tunggu?
Tapi setiap Ibunya ingin menyinggung semua itu yang menjadi pertanyaan dan harapannya setiap saat selalu teringat kata kata Bapaknya, "Jangan menambah beban anakmu biarlah semua orang punya nasib dan takdirnya masing-masing" Ibunya jadi tak sampai hati untuk terus menanyakan hal pribadi pada anaknya.
"Iya Bu."
"Intan kok ada di rumah Bu?"
"Orang dia lagi libur habis semester."
"Kebetulan banget berarti ya dulu dia di pondok sambil sekolah waktu aku kuliah, sekarang aku kerja dia kuliah, pangling banget kalau lama nggak ketemu."
"Sudah Bu, semua sudah siap." Intan duduk dekat Kakaknya.
__ADS_1
"Ambilkan minum Kakakmu"
"Oh iya." Intan ke belakang lagi dan kembali dengan air putih di gelas tinggi dan di simpan di depan Kakaknya.
"Kak Prabu, Kak Intan sudah punya pacar sekarang heee..."
"Nggak apa-apa yang penting jangan ganggu waktu belajar dan kuliah saja, kalau Dek Rahma gimana sudah punya pacar juga?"
"Yeeeee...sendirinya juga sama, tuh yang suka nyamper pake motor itu kan?" Intan balik menuding adiknya.
"Idiiiih... Kakak itu mah teman."
"Iya temen tapi lama-lama jadi demen."
Dr Prabu tertawa melihat kelakuan adik-adiknya.
"Kak aku ikut ke rumah kakak boleh kan pulangnya aku sendiri saja nanti" Intan manja sama Kakaknya.
"Boleh kalau memang lagi nggak kuliah, tapi Kakak juga jarang pulang, mungkin kalau ada kamu Kakak pasti pulang dengan satu syarat."
"Syarat? apaan tuh?"
"Jangan bawa pacar heeee..."
"Aaaaaaah... Kakak!"
__ADS_1
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan votenya✌️💝