
Sampai rumah dr Prabu menyimpan buah di meja kelihatan Intan masih asyik dengan musiknya, dan dr Prabu memencet tombol paus di remote control dan memandang adiknya dengan penuh keheranan.
"Eh, Kakak sudah pulang."
"Kamu masih saja di situ dari tadi belum beranjak? mandi kek sholat ashar kek atau jalan-jalan malas banget jadi cewek."
"Aku lagi nggak sholat, mandi aku perasaan di sini dingin banget jadi nggak mau mandi, jalan-jalan juga ke mana aku kan belum tahu."
"Cewek cantik-cantik jorok banget masa nggak mandi? Aku saja sudah mengalahkan orang dua set langsung sudah cukuran sudah beli buah, ayo nanti habis maghrib ikut aku."
"Kemana Kak?"
"Pokoknya ikut aja."
Intan mematikan alat musiknya dan membereskan semuanya dan rapi kembali, lalu membawa buah ke belakang dan memberikannya pada Bi Iyah untuk di tempatkan di tempat buah, Intan masuk kamarnya dan berdandan sedikit juga mengenakan kerudungnya.
Dr Prabu keluar kamar nya dan telah selesai mandi dan berpakaian rapi, melihat adiknya Intan sudah tampak cantik juga.
"Kamu sudah makan belum, jadi nggak tadi pesan makanan?"
"Belum Kak takutnya Kakak bawa tadi heee..."
"Mau beli takut nggak suka, beli aja pilih sendiri sekarang."
Dr Prabu pamitan sama Bi Iyah dan Bi Iyah mengantar sampai pintu gerbang depan dan menutupnya kembali saat mobil keluar dari pekarangan dan menuju jalan raya.
Pak dokter Pak dokter...kapan bawa calon istrinya ke sini rasanya sepi banget tiap hari nggak ada yang di kerjakan hanya ngurus rumah, masak buat berdua sama suaminya yang di urusin satu orang bujangan dr Prabu, itu juga jarang pulang boro-boro makan di rumah, Bibi mau hidup seperti orang lain sudah Bibi nggak punya anak, majikan juga bujangan pengen Bibi ngurus anak Pak dokter dan melayani istrinya, masak bareng ngobrol di halaman sambil mengasuh anaknya.
Bibi hanya bisa berdo'a semoga Pak Dokter cepet dapat jodohnya yang baik seperti Pak dokter.
Teringat Bi Iyah dan Pak Min saat pertemuan pertama mereka saat itu mereka lagi mulung rongsokan keluar masuk perumahan dan mengambil apa yang bisa jadikan uang di tempat tempat sampah, hujan tiba-tiba mengguyur mereka, saat itu perumahan belum begitu rame dan rumah Pak dokter belum jadi sebagus sekarang ini, dan belum di pasang pintu gerbang Pak Min dan Bi Iyah berteduh di halaman dan keluar Pak dokter sama seorang tukang yang masih bekerja membereskan apa-apa yang ada di dalam, Bi Iyah dan Pak Min minta maaf dan minta izin berteduh lalu Pak dokter mengajak suaminya ngobrol sambil menunggu hujan reda.
__ADS_1
Dari situ terjadilah perkenalan dan penawaran seandainya mau dari pada mulung nggak pasti juga ngontrak mending tinggal di sini, Bi Iyah mengurus rumah tangga dan keperluan Pak dokter suaminya mengurus taman dan masih ada lahan di belakang dan bisa di tanami apa saja, dan kesini-sini malah suaminya Pak Min di tawari ngurus taman di rumah sakit menggantikan seseorang yang kemarin meninggal, kebahagiaan tak terkira Pak Min dan Bi Iyah serasa terangkat status sosialnya dan kehidupannya dari tak menentu menjadi begitu berangsur membaik, Pak Min punya gaji layak dan Bi Iyah juga punya gaji hidup nggak usah ngontrak malah kemarin kemarin Pak dokter sudah mengajak Bi Iyah dan Pak Min bikin tabungan masa tuanya di bank.
Serasa mimpi rasanya hidup Bi Iyah dan Pak Min sekarang, apalagi sekarang Pak Min sudah punya motor buat ke tempat kerjanya sudah tidak memakai sepeda lagi walau belinya motor bekas tapi itu juga berasa anugrah yang tak terkira.
Tak ada yang di inginkan Bi Iyah dan Pak Min selain melihat majikannya Pak dokter bahagia dengan rumah tangganya, akan Bi Iyah dan Pak Min abdikan hidupnya pada keluarga ini sampai kapanpun.
Do'a tulus selalu di panjatkan Bi Iyah dalam khusunya semoga Pak dokter di mudahkan segala urusannya dan di dekatkan jodoh terbaiknya, selalu jadi perbincangan antara dirinya dan suaminya saat bersama, betapa baiknya hati seorang dr Prabu di mata mereka taat dalam agamanya dengan jabatan yang begitu tinggi di rumah sakit itu, tapi kenapa masih saja sendiri di tengah segala kecukupan dan usia yang sudah beranjak bertambah.
Semua peralatan rumahtangga sudah komplit isi rumah sudah lebih dari cukup tinggal satu yang di rasa belum sempurna, seorang istri cantik mengisi rumah ini dan itu selalu menjadi harapan Bi Iyah setiap saat.
Di dalam mobil Intan bertanya pada Kakaknya yang anteng dengan kemudinya.
"Kita kemana Kak?"
"Ke rumah sakit tempatku kerja, biar kamu tahu seberapa jauh dari rumah, dan sekarang kita ke ruangan tempatku kerja, nanti kamu di situ di tuntut acting jadi pacar Kakak, aku mau tahu reaksi Retno saat tahu ada cewek lain di ruangan ku."
"Aaaaaah... Kakak aku jadi ragu, emang apa-apaan sih pake harus acting segala sih?"
"Emang aku pantas kalau pura pura jadi pacar Kakak?"
"Lumayan lah heee..."
"Sebel deh cantik gini di sebut lumayan."
"Iya iya, kamu cantik banget makanya aku pilih kamu jadi pacar pura-pura ku."
"Jangan lama-lama aku sudah lapar Kak."
"Cuma nunjukin saja mana ruangan ku biar nanti kalau aku menyuruh kamu datang ya ke sini."
"Oke kita coba apa acting ku meyakinkan apa masih grogi? apa kita coba casting dulu Kak?"
__ADS_1
"Alah tiban pura-pura datang doang pake casting segala, datang ngomong sayang apa peluk aku apa kek kelakuan orang yang ada hubungan pacaran gitu sudah."
"Haaaaaaaa... lucu pasti, cantik nggak Kak yang namanya Mbak Retno itu?"
"Cantik ya relatif, tergantung kita melihatnya sebagai apa orang yang kita cinta? pasti cantik banget, kalau kita pandang sebagai sahabat pasti biasa saja."
"Nggak lah Kak kalau orang jujur pasti memandang orang itu ya seadanya cantik ya cantik kalau jelek ya jujur jelek."
"Kakak ganteng nggak? kamu sekarang jujur." dr Prabu bertanya pada Intan sambil menggoda.
"Ganteng banget, tapi nggak laku laku haaaaaaaa..."
"Sama,sama kamu juga jomblo cantik-cantik nggak ada yang mau!"
"Enak aja aku punya pacar tahu!"
"Alah pacar apaan baru kecengan doang, pacar ngabisin kuota habis buat rayuan gombal haaaaaaaa..."
"Idiiiih... Kakak enak aja, sudah tua masih saja acting-actingan mencari keyakinan itu tandanya nggak percaya diri."
"Enak aja nggak percaya diri, itu namanya pilihan, saat dewasa ya seperti itu Intan, saat dewasa pilihan menjadi pertimbangan tidak asal suka dan asal taksir aja urusannya masa depan, kalau kita salah mengambil keputusan kita akan menyesal selamanya,
beda ketika masa masa pubertas suka ya ungkapkan tanpa pertimbangan suatu saat pasti kamu juga akan mengalaminya."
"Iya deh Kak, aku percaya apa yang Kakak lakukan pasti yang terbaik buat Kakak, Intan cuma berdo'a semoga cepat punya Kakak ipar yang baik heee..."
"Intan, pacaran itu gampang juga menikah itu juga gampang, tapi mempertahankannya adalah perjuangan panjang di sisa umur kita."
Intan diam dan membenarkan apa yang di katakan Kakaknya, baru Intan mengerti kenapa Kakaknya begitu selektif dengan yang namanya cinta yang menyangkut masa depannya.
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan votenya✌️💝
__ADS_1