Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Hati tak bertuan


__ADS_3

Pulang absen usai kegiatan malam Retno kelihatan raut mukanya begitu sumringah, dan tak ada lagi kesedihan di hatinya yang terpancar dari wajahnya, atau bisa bisanya Retno saja menyembunyikan perasaannya sendiri di hadapan teman temannya?


Masih teringat pesan suster kepala Miranti kepada dirinya untuk mendampingi praktek dr Iman SpOG lagi dan mungkin itu adalah permintaan dr Imam nya sendiri yang menginginkan dirinya, Retno tahu mungkin dr Imam hanya mau kenalan dengan dirinya.


Retno tak perduli di bilang tebar pesona seperti yang di ucapkan suster kepala Miranti yang pasti dirinya jangankan untuk melakukan hal seperti itu cari muka, cari perhatian orang yang berpengaruh sungguh semua itu tak ada waktu buat dirinya hanya untuk mengurusi hal-hal yang tidak penting masih banyak hal-hal yang bermanfaat yang bisa Retno kerjakan di dalam kesehariannya baik di tempat kerjanya ataupun sekarang di lingkungan baru tempat KKN nya.


Dr Imam SpOG orangnya baik ganteng humoris dan supel, tak melihat dirinya hanya mahasiswa KKN, tapi sama aja memperlakukan dirinya dengan suster dinas lainnya sopan bahkan berlebihan, ada tip segala di akhir saat prakteknya tutup, dan suster Erna mengangguk memasukan amplop ke dalam saku almamater Retno.


Alhamdulillah masih ada orang baik di hadapanku yang tak seperti suster kepala Miranti yang kerjaannya hanya mencari cari kesalahan dirinya sekecil apapun, juga pimpinan alias direktur rumah sakit ini yang begitu menindas kepada karyawannya apalagi kepada karyawan yang punya status hanya masih KKN di rumah sakit ini begitu tak berperikemanusiaan dirasakan oleh Retno, tapi biarlah seperti yang dikatakannya tadi masih banyak orang baik dan bahkan ingin menjadi sahabatnya seperti dokter Imam SpOG.


Dan Retno berfikir tumben juga pimpinan rumah sakit ini tidak berkelakuan aneh malam ini dengan tidak ada kerjaan hanya menunggu mahasiswa KKN membubuhkan paraf di absensinya, sepertinya ganjen juga tuh orang fikir Retno karena malam juga masih memakai kacamata curang yang hanya dia sendiri yang dengan jelas bisa melihat keluar tapi orang dari luar tak bisa mengenalinya.


"Anjiiiiiir... gantian dong aku juga mau kali kali mendampingi praktek dr Imam." saat Retno memperlihatkan amplop di hadapan teman temannya Ella menjadi histeris.


"Woooooi...baru saja sehari sudah di pesan khusus buat mendampinginya lagi juga dapat angpao apa itu kalau bukan signal love haaaaaaaa..." Ismi nggak mau kalah menggoda Retno.


"Aku malah deal jadi sahabatnya dr Imam SpOG ini kartu namanya hai sahabatku heee...jangan berfikiran macam-macam ya juga jangan berpandangan negatif ataupun positif." Retno begitu senang kelihatannya.


"Cieee...baru saja jadi sahabatnya ngomongnya sudah positif negatif aja kelihatannya akan ada yang serius ini heeeee..."

__ADS_1


"Selalu ada keberuntungan dalam kesusahan dirimu mbak Retno heeeee..."


Retno hanya senyum senyum saja.


"Sepertinya hatinya juga lagi bermekaran bunga bunga."


"Bukan Ella semua baru di semai perlu pupuk dan di siram dan sedikit insektisida tapi buat ulat seperti suster kepala Miranti haaaaaaaa..."


"Ssssssssst jangan sadis begitu nggak baik, pokoknya semua isi amplop ini aku hibahkan untuk kalian berdua tapi dengan syarat jangan ada kebencian pada siapapun dan jangan berisik karena aku butuh tidur sekarang juga." dan Retno melempar tubuhnya ke pembaringan dan selang satu menit sudah tertidur dengan pulas nya.


"Siap nyonya dr Imam SpOG heee...Ismi menyelimuti tubuh Retno pelan-pelan dan Ella membuka amplop sudah itu mengeluarkan isinya lalu di kecup nya di bibirnya lembaran uang itu dan di tiup kan ke arah Retno yang tertidur sambil tertawa cekikikan.


Dan diakuinya punya dua teman baiknya begitu menguntungkannya, begitu mendukungnya dan mensupport dirinya agar bisa dan kuat, kuliah sambil kerja bukan perkara mudah bagi sebagian orang, begitu menguras tenaga dan pikiran terlebih saat seperti sekarang.


Di ruangan pimpinan dr Prabu senyum sendiri mendengar percakapan Retno dengan suster kepala Miranti dr Prabu juga mendengar kata-kata memelas dari seorang Retno dan juga kata-kata tegas seorang suster kepala Miranti saat memberikan sanksi dengan kesalahan kecil kepada Retno 3 bulan kedepan Retno telah ditetapkan untuk tetap membersihkan dan membereskan ruangannya.


Lumayan juga acting suster kepala Miranti fikir dr Prabu,


Dr Prabu mengamati cincin putih miliknya yang ketemu setelah mengobrak abrik semua harta karun nya yaitu semua properti dari masa kuliahnya dulu ketemu di tempat pensil dan ballpoint di tas goni nya di dalam koper kenangannya, juga saputangan batik dengan tulisan tangan Retno yang di bawanya dan di hadiahkan pada dirinya setelah Retno pulang kampung.

__ADS_1


Ajeng & Prabu, seperti menapak tilas kembali manisnya kisah cinta mereka, tak banyak pertentangan diantara mereka ataupun berbeda faham Retno dengan kelembutannya juga otak pintarnya dan Prabu dengan otak cerdas juga tegas pembawaannya masing masing bisa mengimbanginya.


Retno yang anak saudagar batik kaya orang tuanya punya usaha bengkel batik tulis dengan ratusan karyawan dan sudah ekspor luar negeri segala juga galeri pemasaran bukan hanya di sentra batiknya sendiri di Pekalongan, tapi di kota kota besar lainnya jelas tak kekurangan dana dan biaya hidup semasa kuliahnya, dan Retno mengikuti keinginan orangtuanya kuliah di ekonomi universitas terkenal di kota Bandung.


Walau pacarnya Prabu Seto Wardhana orang biasa biasa saja Bapak dan Ibunya berjualan di Pasar Majalaya punya kios sembako dan Ibunya mengelola toko bahan kue di pasar yang sama, terkadang pas pasnya uang saku dari orangtuanya membuat Prabu kesulitan mentraktir dan memberi dan membelikan sesuatu untuk Retno, tapi Retno melihat ketulusan dan gigihnya kekasihnya dan yang jelas gantengnya juga Prabu yang menjadi idola di kampusnya.


Retno jatuh hati dan mencintai dengan sepenuh hatinya tanpa melihat siapa Prabu dan dari kalangan mana, tapi bagi orangtuanya berbeda, pandangan Retno di tolaknya mentah mentah.


Dr Prabu memutar-mutar kembali cincin putih itu dan memakainya dan tersenyum saat melingkar di jari manisnya, lalu meneliti lagi satu sapu tangan yang dari awal di berikan sama Retno hanya di simpannya.


Kenangan masa lalunya bersama Retno begitu membekas di hatinya dak mampu hatinya berpaling ke lain hati sekedar mencoba, dan dr Prabu tak berani coba coba, kegagalannya membina hubungan yang dari awalnya nggak ada masalah sedikitpun membuat hatinya di biarkan tak bertuan, begitu banyak cewek-cewek dari berbagai kalangan berlomba berburu perhatiannya tapi saat tahu penerimaan dr Prabu sendiri begitu dingin dan tak ada respon semua cewek pada mundur teratur untuk apa menghabiskan waktu menunggu yang tidak pasti.


Hidup dalam kenangan memang menyakitkan dan ada janji hatinya sendiri yang selalu di ingatnya.


tak akan mulai membina hubungan dengan seorang perempuan manapun sampai tahu status Retno belum menikah.


Apa semua berlebihan? bagaimana kalau nggak ketemu ketemu dan tak mendapatkan khabarnya sampai kapan janji itu akan di pegangnya?


Dr Prabu tertidur di sofa ruangan kerjanya.

__ADS_1


Tinggalkan jejak dan dukungannya, mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝


__ADS_2