
"Ya halo..."
"Ya ampun Kak, Kakak ini di mana sih?" Intan begitu khawatir dan langsung saja memberondong Kakaknya dengan pertanyaan.
"Aku di kantor."
"Ya, sekarang di kantor tapi dari kemarin-kemarin kemana? nggak khabar-khabari, nggak pamit nggak apa, ponsel nggak bisa di hubungi gimana sih jadi orang?"
"Maaf aku nggak sempat, yang penting aku sekarang udah ngabarin nggak usah cemas lagi kalau kamu bosan di rumah ke sini aja main."
"Main ke rumah sakit? nggak deh aku di rumah aja..."
"Ya jangan melihat rumah sakitnya lah temani aku di kantor sambil ngobrol mungkin itu lebih baik."
"Aku pikir-pikir dulu, memang Kak Prabu mau sampai jam berapa di kantornya, mau lembur lagi berhari-hari gitu?"
"Kamu datang aja ke sini nanti kita ngobrolnya di sini."
"Ya sudah, aku ke sana sekarang."
"Minta diantar Pak Min saja ya."
"Iya Kak."
Klik sambungan telephon terputus.
Dr Prabu menghela nafas dalam dalam, fikirannya melayang pada senyum Retno dan anggukan kepalanya saat dirinya bertanya pada Retno.
"Aku ulang sekali lagi, maukah kamu membuka hati lagi untukku?"
Jawaban anggukan dengan senyuman Retno membuat hatinya lega dan plong, juga saat Retno mengucapkan terima kasihnya dengan malu dan merah pipinya dr Prabu menangkap satu perasaan yang sama di balik rasa marah dan bencinya.
Haruskah dirinya cerita kepada Intan adiknya semua perubahan dalam hidupnya sekarang ini? ketiadaan dirinya pulang ke rumah selama beberapa hari dan malam dan juga akankah dirinya cerita kepada Intan soal Alya yang dr Prabu sendiri menangkap sinyal lain dari setiap pemberiannya, juga hadirnya Alya di rumah sakit ini apalagi dr Prabu mendengar penjelasan suster kepala Miranti yang seakan-akan Alya sakitnya dibuat-buat.
Dr Prabu berfikir jangan sampai ada yang salah dengan dirinya, Retno telah memberinya lampu hijau dan kesempatan aku harus menjaganya dengan baik, begitu dekatnya Retno di hadapannya, wangi tubuhnya masih ingat saat terakhir di kamar ruangan kost nya, saat dirinya masih tidur dan Retno berdandan dan saat membalas ciumannya walau itu dengan perasaan marah dan saat sakit, semua itu membuat dr Prabu tersenyum.
Dr Prabu mengambil satu map dan melihatnya acara hari jadi dan rangkaian mata acara rutin tahunan yang biasa di adakan salah satunya di ramaikan dengan turnamen bulutangkis diikuti karyawan rumahsakit sendiri dan dirinyalah yang selalu menjadi juaranya, sampai saat ini belum ada saingannya, dan tahun ini dr Prabu berniat nggak akan ikut biarlah orang lain yang akan tampil dan dirinya memberi kesempatan, tapi itu semua menjadi tontonan yang begitu di tunggu apa jadinya kalau dirinya nggak ambil bagian, akankah seseru tahun tahun lalu?
Padahal saat dirinya tampil menjadi daya tarik tersendiri bagi semua penonton, gimana nanti saja lah aku lagi nggak fokus dan dr Prabu menyimpan kembali map itu dan beralih ke yang lain, tapi terlintas di fikirannya untuk melihat kandidat peserta yang sudah mendaftar diambil lagi map itu dan di lihatnya lagi.
Ternyata ada peserta tambahan dari mahasiswa KKN dan Retno salah satu yang sudah terdaftar di peserta wanita serius nih Retno ikutan? dr Prabu tahu Retno juga bisa bermain dan mahir dalam memegang raket masih seperti dulu kah, apa sering latihan seperti waktu lima tahun lalu saat sama-sama berkeringat mengisi waktu luang bersama ?
Semua merubah keputusannya menjadi ikut bertanding kembali dan serius membuka map dan menandatangani hasil rapat anggaran dan segala macam nya. Menjadi semangat tinggi buat dr Prabu ingin segera tanggal pembukaannya segera dirinya buka secara resmi, masih dalam ingatannya Retno yang kelihatan begitu **** saat berkeringat dan duduk berdampingan di pinggir lapangan mengelap basah keringat mereka saat dulu mereka latihan masa-masa mereka kuliah, sama-sama suka olahraga, suka musik dan perasaan mereka juga sama sama suka.
Tak banyak memang perempuan yang suka olahraga, dengan alasan dan lain hal, takut berkeringat lah, takut matahari lah, lepek rambut dan otot menjadi timbul tapi bagi Retno itu semua hanya mitos belaka, tak ada yang mesti di takutkan selagi semua dengan aturan yang benar. Retno kelihatan bugar walau sekarang agak kurusan, mungkin dia masih aktif karena hobby tak bisa di tinggalkan begitu saja.
Tok tok tok...
"Hai Kakak...lagi sibuk ya?" Intan datang sedikit membuyarkan lamunan dr Prabu.
__ADS_1
"Hemght...masuk di antar Pak Min ya? kamu sudah makan?"
"Maksudnya makan apa? siang apa sore nih?"
"Salah ya pertanyaannya heee...?"
"Bukan salah tapi nggak tepat, kalau tanya makan siang jelas sudah sekarang sudah jam empat lebih, kalau makan malam ya belum kan ini belum malam"
Dr Prabu memandang lucu adiknya dan melempar kertas yang di kepal-kepal menjadi bola kecil Intan menangkapnya sambil tertawa.
"Mbak Retno sudah sehat Kak?"
"Sudah kerja dan ikut kegiatan KKN lagi."
"Kelanjutannya gimana Kak?"
"Semoga lebih baik."
"Aku jadi merasa bersalah Kak" Intan mengingat kejadian waktu itu.
"Minta maaf sana, tapi jangan bilang suruhan ku, aku juga merasa bersalah banget."
"Aku ajak ke rumah boleh Kak?"
"Serius kamu? boleh banget tapi apa dia mau nggak ya?"
"Betul itu heee...kadang adikku ini pintar juga ya." Intan hanya nyengir saja.
"Sekarang Mbak Retno ada dimana Kak?"
"Mungkin di mess nya siap-siap mau ganti sif."
"Aku ke sana dulu ya."
Tak sempat bertanya dan mengiyakan, Intan sudah menghilang di balik pintu dan berjalan keluar menuju samping rumah sakit.
Tok tok tok...
Seseorang berjaket merah hati keluar dan mengangkat alisnya sambil memandang Intan.
"Maaf Kak, ada Mbak Retno?"
"Kamar sebelah Mbak, ayo aku antar." sama-sama teman KKN keluar dan mengajak Intan mengikutinya.
"Hai hai hai... yang namanya Retno ada di sini? nih ada yang cariin."
Yang di cari Retno yang keluar tiga orang, Ella sama Ismi bawaannya sudah curiga saja kalau bukan suster kepala Miranti siapa lagi tapi pas di lihat semua pada diam.
"Hai Mbak, sudah sehat ya?"
__ADS_1
"Intan? Alhamdulillah sehat ada apa ya?"
"Nggak apa-apa hanya mau tahu aja kondisi dan khabar Mbak Retno, masih ada waktu boleh ngobrol sebentar?"
"Oh, boleh mau di mana di dalam atau di luar saja?"
Intan menunjuk taman belakang rumah sakit, dan Retno keluar sambil mengangguk, mereka berdua duduk di dekat pohon Bougenville yang lagi berbunga.
"Mbak, maafkan saya ya...semua itu hanya akal akalan Kak Prabu saja, sumpah sebelumnya saya menolak, tapi akhirnya aku tak kuasa juga menolaknya."
"Aku sudah tahu semuanya Intan nggak apa-apa, aku juga sadar diri aku bukan orang sempurna, semua pasti akan belajar dari kesalahan diri kita masing masing."
"Aku senang banget Mbak, berarti Mbak Retno memaafkan saya juga Kak Prabu?"
Retno tersenyum dan mengangguk. "Insya Allah Intan semoga kedepannya lebih baik lagi."
"Sebagai permintaan maaf saya, saya mau kita berteman mulai sekarang gimana?"
"Boleh." Retno mengulurkan tangannya dan intan menyambutnya dengan senyum wajah sumringah.
"Berarti aku boleh dong curhat sama Mbak Retno?"
"Curhat? masalah apa?"
"Masalah pribadi dong, apa masalah orang lain gitu?"
"Intan, Intan...kamu ada-ada aja, aku kan nggak banyak punya waktu mungkin nanti kalau sudah selesai KKN di sini aku bisa bernafas lega."
"Tapi kemungkinan akan ada yang malah bernafas sesak Mbak Retno usai masa KKN di sini."
"Maksudnya?" Retno mengerutkan dahinya.
"Itu Kakakku Kak Prabu! heee..."
Retno merona pipinya di kira apa ternyata ujung-ujungnya Intan juga menjebak dirinya.
"Hush...apaan kamu!"
"Ya kan? jangan pada jaim lah aku juga sudah tahu dan dewasa Mbak santai saja, mana no telephon nya aku minta."
"Boleh."
"Makasih ya Mbak."
"Sama-sama Intan sekalian aku sudah waktu absen ya." Retno melihat pergelangan tangannya.
Dan mereka berpisah.
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝
__ADS_1