Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Ungkapan cinta terdalam


__ADS_3

Dr Prabu menyambutnya dengan senyuman, saat Retno datang ke ruangannya tanpa di pinta atau di telephon juga di panggil lewat titip pesan.


Melihat senyuman Retno di hadapannya terasa lengang rasa sumpek ruang hati dr Prabu. Retno menghampiri dr Prabu masih dengan senyumnya yang mengembang.


"Mas, aku punya dua kejutan buatmu malam ini." Retno bicara dari seberang meja kerja dr Prabu.


"Wah, kejutan apa nih?"


Dr Prabu berdiri dari duduknya, lalu berjalan keliling meja kerjanya menghampiri Retno.


Menuntunnya duduk di sofa tamu.


"Mau yang mana dulu nih?"


"Terserah, pokoknya pasti kejutan yang membuat aku senang, ya kan?"


"Kalau nggak bikin Mas senang gimana?"


"Alah sayang, cepat katakan aku sudah nggak sabar."


"Yang pertama pengajuan kepindahan ku ke sini diterima dengan baik oleh suster kepala dan direktur Pak Burhan."


"Aku sudah mengiranya."


"Jadi Mas nggak terkejut dong?" Retno agak cemberut.


"Bukan begitu sayang, aku senang dan kaget juga kok terlalu cepat ya?"


"Mas senang, aku pindah ke sini?"


"Ya iya lah, setiap saat kita bertemu." dr Prabu menyandarkan kepalanya di sebelah bahu Retno.


"Mas berat iiiiiiiiiih... lagian malu kalau di lihat orang di kira kita mesum dalam ruangan ini." dr Prabu malah menaruh kepalanya di pangkuan Retno yang duduk di sofa.


"Orang-orang juga sudah pada tahu, paling suster kepala Miranti yang paling sering masuk ke sini pasti mengetuk pintu dulu. Lagian aku nggak malu sama suster kepala Miranti, malah aku sering di ledekin habis."


"Mas nggak malu, tapi aku tetap saja malu."


"Nanti juga jadi biasa."


"Biasa gimana?"


"Bi-biasa, kamu kerja di sini, pasti nanti juga di ledekin juga."


"Butuh waktu seminggu aku mengurus semuanya. Adaptasi lagi deh tempat kerja baru."


"Sama pacaran juga adaptasi lagi heee..."


"Huh!"

__ADS_1


"Iya, kamu sudah adaptasi selama KKN di sini, penyesuaian apa lagi?"


"Kerja sama KKN beda Mas, kerja menuntut keseriusan tapi kalau KKN masih bisa longgar."


"Bagiku harus sama, karena KKN adalah cerminan pekerjaan kita nanti, sebenarnya kamu itu sudah komplit artinya sudah melengkapi satu sama lain kerja di bidang itu ya kuliah juga di bidang itu."


"Tapi temanku kuliah di kehutanan, jadi pegawai bank."


"Itu temanmu yang mana?"


"Ada deh... malah yang lucu temanku yang satu ini, kuliah di kebidanan tapi kerja di perhutani."


"Mungkin jurusannya spesial mengurus kelahiran orang utan haaa..."


"Iiiiiiiiiih...Mas serius." Retno merasa ceritanya kurang menarik.


"Aku juga mungkin nanti punya istri kuliah di keperawatan, tapi yang di urus soal usaha batik, nggak apa-apa, pendidikan tak melulu menjalur kan orang bekerja dibidang itu. Kalau kita mampu dan senang menjalaninya juga peluang ada di situ lakukan semuanya."


"Aku kuliah di ekonomi loncat ke keperawatan, mungkin nanti mengurus usaha batik keluarga, cocok nggak?"


"Yang mencocokkannya bukan cocok nggak cocok kata orang dan pandangan orang. Tetapi balik lagi kepada Kediri kita sendiri yang menjalaninya."


"Iya, ya Mas."


"Nanti mau tinggal di mana, apa rumahku saja?"


"Apa? nggak lah Mas seperti nggak punya harga diri saja, aku tinggal di mess aja biar Mas Prabu rajin kerja dan lemburnya."


"Seminggu lagi KKN habis Mas kita perpisahan."


"Sepertinya bareng sama penutupan turnamen ya?"


"Kayaknya begitu, aku besok turun lapangan Mas do'akan ya aku masuk final."


"Harus masuk final, aku jadi supporter utama kamu dan sekaligus pelatih kamu."


"Sepertinya aku nggak butuh pelatih, yang aku butuh adalah pendamping hidup."


"Sama Retno, aku nggak sabar menunggu KKN kamu selesai dan menjadikan kamu pendamping hidupku."


"Iya Mas."


"Aku juga nggak sabar ingin segera pulang kampung menemui kedua orang tuaku dan keluargaku."


"Iya Retno, sama aku ingin segera mendapatkan izin dan restu orang tua kita."


"Eh, Mas aku ke ruangan suster jaga dulu ya nggak enak aku meninggalkan tugas. Kita malah enak-enakan di sini berdua pasti aku diledekin teman-teman nih."


Dr Prabu menahan tangan Retno yang sudah mau bangkit berdiri.

__ADS_1


"Mau kemana?"


"Aku ke sana dulu. Keenakan di sini aku sudah ketinggalan."


"Katanya tadi dua kejutan, kamu belum mengatakan yang keduanya."


"Mas nggak bakal terkejut, yang tadi juga biasa saja."


"Kalau nggak ngasih tahu kejutan keduanya, beri aku sesuatu."


"Maksudnya apaan?"


Dr Prabu berdiri berhadapan dengan Retno. Lalu meraih kedua tangannya dan menciumnya perlahan.


"Aku begitu senang melihat kamu, terasa duniaku telah di beri sinar mentari kembali, dan malam kelam ku telah menjadi malam yang benderang dengan sinar gemintang." sesaat Retno tertegun dengan tatapan lembut.


"Jangan Mas redup kan kembali cahaya yang ada di hati kita berdua. Aku akan selalu bersinar karena Mas Prabu adalah energi ku, aku akan temaram di ujung cakrawala dan hilang di telan kegelapan jika hatiku terluka tersaput awan gelombang yang mendera."


"Ajeng, Retno. Kita telah melewati semuanya hanya kepercayaan mu yang aku harapkan sekarang, dan untuk langkah kita selanjutnya."


"Iya, Mas semoga aku menjadi seperti yang Mas harapkan."


"Kamu sudah menjadi seseorang yang aku harapkan. Mencintaimu telah memenuhi kebutuhan lahir batinku akan kedamaian, aku tak ingin yang lain lagi."


"Mas, Aku akan rapuh. Mungkin akan luruh tanpa rengkuhan tanganmu ini, serasa melangkah tak berpijak, aku titipkan kembali perasaan yang tak pernah hilang di hatiku ini padamu, aku ingin hanya maut yang memisahkan kita."


"Iya Ajeng,Retno. Semoga aku bisa menjaganya, selalu aku bisa merawatnya dengan baik sehingga senyuman selalu terukir di wajah cantikmu." parau dan bergetar suara dr Prabu sambil mengusap sebelah pipi Retno.


Hati dr Prabu seperti tercabik dan berdarah, memeluk Retno dalam galau rasa hatinya, cemas akan masa depannya, akankah dirinya mengubah kembali janji yang pernah diucapkannya, janji yang pernah diikrarkannya, dan mengingkarinya? dirinya yang merobek semua cita-cita dan harapannya bersama Retno.


Akankah satu maaf dan hati yang lapang bisa Retno berikan untuknya? juga mengerti posisinya seandainya suatu saat dr Prabu membuka aibnya sendiri dan jujur di hadapan Retno?


"Retno. Aku begitu menikmati kebersamaan ini, tak ada ketulusan hatiku selain tulusnya aku mencintaimu, aku mencintaimu dengan segenap jiwa ragaku dari lubuk hatiku yang paling dalam."


Tak ada kata-kata lagi yang keluar dari bibir Retno, hatinya begitu melambung, dan tenggelam begitu dalam, dalam perasaan rindu yang sekian lama membebaninya. Baru saat ini hatinya begitu ikhlas dalam rengkuhan cinta sejatinya.


"Mas, aku ikut tugas KKN dulu, aku masih ingin di pelukanmu tapi aku malu sama teman yang lain, besok aku dapat izin libur karena sorenya aku akan turun ke lapangan, aku ingin pagi sama siangnya kita bersama-sama."


"Oh, tentu sayang. Tentu saja aku begitu ingin melewatkan seharian penuh bersamamu. Aku mau lembur sekarang biar besok semua kerjaan tak terbengkalai."


Dr Prabu mencium kening Retno dan melepaskan pelukannya, satu senyuman yang begitu melegakan di rasa dr Prabu.


Retno keluar dengan pipi merona dan senyum masih menghiasi wajahnya. Dr prabu mengantar sampai pintu ruangannya dan melihat belakang punggung Retno yang berjalan diantara lalu-lalang orang dengan kepentingannya masing-masing.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


Hai, readers tercinta habis baca


"Biarkan Aku Memilih" Jangan lupa mampir ke karya bertitel "HAI PAK GURU" author SUSANTI 31 sahabat terbaikku yang paling berbakat, baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!

__ADS_1



__ADS_2