
Retno terjaga saat adzan ashar berkumandang, terlihat suaminya masih tergolek dengan nyenyak di sampingnya.
Retno bangga telah memberi kebahagiaan bagi suaminya, walau dalam keadaan hamil, tapi semua itu malah menambah rasa lain pada mereka.
Pikirannya melayang jauh tak terbatas menapak tilas semua kisah perjalanan hidupnya yang penuh liku dengan berbagai cobaan dan rintangan hingga sampai pada titik ini.
Akhirnya satu pembelajaran hidup kembali Retno pelajari dari perjalanannya sendiri yang akhirnya kesetiaan dan cinta sejati mengalahkan segalanya betapapun begitu beratnya rintangan yang telah dirinya lalui akhirnya sampai pada batas di mana kata maaf dan ikhlas adalah kunci dari segalanya.
Dengan maaf semua bisa tenangkan hati, dan ikhlas menjalani dan belajar sabar dengan segala ujian seperti yang telah dirinya lalui selama ini.
Retno mengelus perutnya yang mulai ada kontraksi dari mulai perlahan hingga gerakan-gerakan yang membuat Retno merasa geli dan begitu senang mengusapnya dengan perlahan.
"Mas, sudah Ashar bangun yuk! Aku mau jalan-jalan sore boleh ya?" Retno mengusap kepala dan rambut dr Prabu suaminya yang mulai membuka mata dan mengumpulkan semua kesadarannya.
"Boleh, Sayang mau ke mana?" dr Prabu kembali mengelus perut buncit Retno yang duduk di sebelahnya.
"Aku mau ke Taman Kota, rasanya senang berjalan di bundaran taman itu, sambil melihat anak-anak kecil pada main di sana sore-sore."
"Iya, tapi hati-hati banyak anak-anak yang berlarian kadang-kadang aku takut malah kamu ketabrak anak-anak itu. Pokoknya Aku nggak mau kamu sama bayi itu kenapa-kenapa, kamu juga harus lebih hati-hati Sayang mengerjakan pekerjaan rumah juga batasi, yang ringan-ringan saja kan ada Bi Iyah yang bantuin, pokoknya jangan bandel kalau Aku larang kamu harus bisa menjaga diri lebih dari segalanya." Dr Prabu berubah menjadi seorang yang sangat bawel akhir-akhir ini karena selama ini Retno kelihatan masih bandel terkadang tidak mendengar apa yang diucapkannya.
"Iya, Mas Aku tahu batasan, mana yang boleh dan tidak mana yang aku mampu dan tidak aku tidak memaksakan diri mengerjakan hal-hal yang berat paling berat saat Mas Ada diatas Aku itu saja Mas minta terus!"
"Itu jelas kesenangan Papa sama Mama kamu Dek, dan itu Aku tidak sepenuhnya badanku tertumpu padamu Sayang, hanya bagian tertentu saja yang membuat kamu mendesah kan?" Dr Prabu bicara seakan bayi yang ada dalam perut Retno ada di depannya.
__ADS_1
Dr Prabu memeluk pinggang Retno dengan tangan melingkar ke perut yang buncit itu.
Entah kenapa sampai saat ini usia kandungan sudah mencapai 7 bulan Retno tidak merasakan keluhan apa-apa saat berhubungan dengan suaminya hanya kenikmatan dan rasa suka dengan penuh cinta mereka lakukan, mungkin berawal dari situ kenikmatan selalu mereka rasakan.
Setiap malam selalu melewatkan kebersamaan dengan kemesraan dan juga keharmonisan, rasa sayang dan cinta keduanya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata terkadang Retno merasa takut semua yang dirasakan sekarang dan kebersamaan yang selalu dijalani akan terenggut begitu saja.
Seperti mimpi buruk yang selalu menghantui terkadang terhapus oleh kesadaran diri kalau itu adalah sudah menjadi kehendak Yang Maha Mengatur kehidupan, setiap Retno mengeluh akan ketakutan dan kekhawatirannya dr Prabu selalu memeluknya karena cobaan dan badai yang datang pada rumah tangganya kini atau suatu saat itu adalah bagian dari ujian yang harus dilewati supaya lulus dan meningkatnya kualitas hidup mereka.
Ujian cinta yang telah mereka lalui penantian yang telah lama mereka jalani kini usai sudah, walaupun semuanya belum selesai kehidupan kedepannya yang panjang sebagai masa depan mereka masih banyak yang harus mereka lalui sebagai bahan pendewasaan dalam rumah tangga dan juga dalam sisa usia yang mereka tapaki.
"Mas, Apa Mas Prabu sayang Aku juga ke bakal calon anak kita ini?" tanya Retno hanya ingin bertanya saja.
"Sayang, kenapa kamu bicara dan bertanya begitu? Kamu itu seperti urat nadikku Sayang, dan buah cinta kita adalah jantung dari dua tubuh, bukti nyata dari cinta kita. Kalian berdua adalah segalanya dalam hidupku, kalau Aku nggak sayang nggak mungkin aku tengokin tiga kali dalam sehari semalam malam satu kali bagi satu kali dan sekarang tidur siang satu kali aku tak pernah merasa bosan bercinta sama kamu Sayang, dan kebersamaan ini yang selalu ingin aku lewatkan bersama-sama." Radit duduk dan merengkuh bahu Retno lalu mencium pipi nya dengan penuh perasaan.
"Apa kita pindah saja kamar tidurnya di bawah sayang biar kamu merasa nyaman?" tanya Radit saat bangun duluan dan membantu Retno dengan menarik kedua tangannya perlahan untuk bangun juga.
"Aku nyamannya di kamar sini Mas, rasanya lain mungkin kalau kita pindah karena jadi suasana baru lagi," jawab Retno seperti tak menginginkan pindah kamar yang otomatis harus pindah segalanya.
"Kalau Kamu merasa nyaman dan merasa kuat naik turunnya nggak apa-apa di kamar ini, yang Aku pikirkan kalau kehamilan kamu sudah menginjak 8,9 bulan aku menjadi khawatir sendiri."
"Nggak apa-apa Mas, Aku kuat kebanyakan aktivitas sehari-hari kan di bawah naik tangga kalau mau mandi dan tidur saja selebihnya Bi Iyah yang mengerjakan segala di atas."
"Ya sudah, yang penting hati-hati saja."
__ADS_1
Dr Prabu membimbing Retno masuk kamar mandi mereka mandi bareng seperti saat mereka masih baru merasakan awal-awal pernikahan dan rasa sayang itu terhadap mereka jaga jangan sampai hilang dan luntur dari hati masing-masing.
Menjalani kehidupan berumah tangga dengan orang yang dicintai serasa kehidupan milik mereka, berbagai rintangan dan ujian cinta mereka lalui dan cobaan telah mereka hadapi bersama, hanya harapan kebahagiaan akan menjadi milik mereka di masa yang akan datang.
"Aaaw... Mas! geli. Udah ah jangan bercanda di kamar mandi." Suara khas Retno selalu kedengaran saat dr Prabu menggodanya saat mereka mandi.
Terkadang Bi Iyah suka senyum sendiri kalau mendengar suara samar Retno dari dalam kamar mandi atas.
Kebahagiaan selalu menjadi doa dari hati Bi Iyah dan Pak Min yang sudah menganggap dokter Prabu dan Retno adalah anaknya sendiri.
Apalagi sekarang Bu dokter sedang hamil, sebentar lagi akan menggendong seorang anak yang dianggapnya sebagai cucunya sendiri.
Harapan yang selama ini ada dalam hati Bi Iyah kini sudah mencari kenyataan. Semoga selamanya Pak dokter dan Bu dokter bahagia.
.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1