
"Aku no comment kalau soal bayang membayangkan," ucap dr Iman apa adanya.
"Setidaknya punya gambaran dong Mas, hanya satu harapku semoga kita cocok nantinya!" ucap Vionna.
Deg! kenapa jadi begini? dr Imam tertegun sendiri, Vionna jauh dari sangkaannya, ternyata berani juga. Apa semua karena mereka bicara jarak jauh? sehingga diucapkan begitu bebas tanpa beban?
"Mas, video call aja ya?" ujar Vionna malah tambah mengagetkan dr Imam.
"Nggak usah, soalnya Aku masih di ruang praktek, masih nunggu pasien, Besok kan kita bertemu Aku hanya menyapa saja."ucap dr Imam mengalihkan.
"Benar hanya menyapa? Di kira sudah nggak sabar Aku lagi nge-pak pakaian nanti malam berangkat semoga lancar di jalannya," jawab Vionna semakin merasa melambung di telepon dr Imam seakan dr Imam sudah setuju saja dengan apa yang di haruskan oerna tua mereka
"Iya Vionna, semoga lancar di jalannya," ucap dr Imam di sebrang telephon.
"Eh, Mas jangan dulu di tutup dong, boleh nanti Aku tahu tempat praktek Mas Imam? tanya Vionna dengan suara manja.
Dr Imam merasa menyesal telah menelephon Vionna, tadinya hanya ingin tahu saja seperti apa sambutannya, syukur syukur Vionna menolak seperti dirinya saat mau dikenalkan orangtua meraka, tapi kenyataannya Vionna begitu antusias banget.
"Mas! halo, kok diam?"
"Oh, eh iya Aku lagi mikir aja, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Aku yang bertanya kok malah di jawab pertanyaan sih? gimana? kenapa nervous ya? belum juga ketemu sudah nervous," ucap Vionna kedengaran geli di hati dr Imam.
"Lupa, kamu tadi bertanya apa ya?"
"Ih, Mas Imam bikin gemes deh, tadi Aku tanya boleh Aku nanti tahu tempat praktek Mas Imam?" tanya Vionna lagi.
"Oh, b-boleh saja, kenapa mau Aku periksa?" tanya dr Imam sekedar bercanda, tapi malah membuat Vionna senang.
__ADS_1
"Ih, apaan belum juga menikah sudah main periksa saja Mas Imam ini,"
Deg! kenapa aku sejauh ini ngobrol sama Vionna? sedang hatinya menolak dan saat ini hatinya begitu bimbang gelisah menghadapi hari esok, hati sabtu besok adalah hari di mana keluarga Fiona akan datang ke sini sedangkan malamnya yang terima menjanji pada Intan akan datang tetapi mendengar pembicaraan Fiona sepertinya respon keluarganya begitu antusias menyambut perkenalan yang keluarga dokter Imam menawarkan pada mereka.
"Makasih lho fotonya Mas ya, walau kita pernah bertemu tapi Mas Imam kelihatan pangling banget mungkin waktu kita bertemu Mas Imam sudah lupa l tapi Aku tak akan pernah lupa dengan senyum Mas Imam yang tertinggal di hatiku."
"Foto? foto apa maksudnya?"
"Ah, Mas Imam pura-pura lupa deh, kan Aku dapat nomor ini sama foto dari orang tua Mas Imam yang dikasih Mas Imam katanya, makanya video call ya," ucap Vionna setengah memaksa.
Deg! ya ampun Aku sungguh bodoh dan tidak pernah tahu kesepakatan antara orang tuaku dengan mereka kenapa jadi begini Ya Allah, pantesan Vionna begitu menyambut pertemuan ini sepertinya sudah ada pembicaraan sebelumnya tanpa sepengetahuan dirinya.
"Maaf, Aku lupa lagi maklum sibuk, jangan video call lah, biar besok saja ketemu karena ada pasien lagi tuh, sudah dulu ya, hati hati di jalan."
"Ya sudah, selamat melanjutkan prakteknya, Aku nggak sabar menunggu esok pagi, sampai bertemu besok Mas Imam," ucap Vionna.
Dr Imam merenung di meja kerja dalam ruangannya, kali ini begitu sulit keluar dari masalahnya.
Wajah cantik, manja dan senyum Intan menari di pelupuk matanya, Intan yang begitu sempurna di matanya bukan karena cinta, tapi baru kali ini dr Imam merasa cocok dalam segala hal, tapi kenapa saat dirinya menemukan kecocokan dan beranjak akan menuju ke arah serius hambatan lain datang orang tuanya sendiri yang menghadang perjalanan cintanya.
Membangkang pada orang tuanya bukan suatu hal yang baik tetapi menerima Vionna juga bukan solusi bagi dirinya, mengabaikan dan memutuskan intan tanpa kesalahan adalah satu kesalahan yang pasti akan disesali sepanjang hidupnya, kini dr Imam berada di persimpangan jalan dan pilihan, satu-satunya jalan dan cara adalah menolak orang tuanya dan Vionna tetapi akan seperti apa nantinya, begitu tak nyamam seandainya orang tuanya telah berjanji akan memperkenalkan sebagai calonnya pada keluarga Vionna tetapi kini berpaling akan seperti apa mungkin malunya kedua orang tuanya nanti.
Seribu sesal bergelayut di dada dr Imam, kenapa begitu telat dirinya memperkenalkan Intan pada orang tuanya, tapi sesal kini tak ada gunanya.
Intan Aku begitu kangen, senyum kamu membuat hilang rasa capek habis praktek langsung apel ke Bandung, ciuman Intan di pipi de Imam selalu menjadi ritual perpisahan saat dr Imam akan pulang lagi ke Tasikmalaya, meninggalkan bekas bermekaran di hati keduanya.
Terkadang Intan yang datang membawa kerinduan setelah seminggu tak bertemu dan Intan menginap di rumah Kakaknya dr Prabu.
Terakhir berpisah kemarin begitu muram wajah cantik Intan, hatinya tergores, dan terkoyak oleh sikap dan penerimaan orang tua dr Imam yang akan menjodohkan dr Imam dengan saudara jauhnya Vionna.
__ADS_1
'Intan, Aku harus bagaimana? di satu sisi kedua orangtuaku, di siai lain kamu dan cinta kita.'
"Dok! pasien sudah lama habis boleh Aku masuk dan bereskan peralatan?" suara suster Erna yang melongokkan kepalanya dari balik pintu mengagetkan dr Imam yang habis menelepon lalu merenung sendiri.
"Oh, ya suster silahkan, Aku langsung permisi duluan ya." sahut dokter Imam sambil bangkit menyimpan peralatan yang dikalungkan di lehernya di atas meja.
Suster Erna masuk sambil tersenyum dan membungkuk heran melihat dr Imam yang hari ini lain dari biasanya, biasanya setelah disampaikan pasien terakhir dari antrian yang ada, dr Imam lalu keluar dan menutup prakteknya hari itu, tapi kali ini lama tidak keluar dari ruangannya. Biasanya juga langsung keluar kalau sudah usai lalu suster Erna yang mendampinginya praktek setiap hari masuk membereskan semua peralatan dan mengunci ruang praktek itu.
Dr Imam melirik ruangan direktur yang tertutup, lalu ke ruangan suster kepala Miranti.
"Direktur ke mana ya Bu Miranti?" tanya dr Imam pada suster kepala Miranti.
"Oh dr Imam, Aku kurang tahu dok mungkin pulang atau ajak istrinya jalan-jalan kali, soalnya tadi nyamper ke sini," sahur suster kepala Miranti
"Oh, ya sudah."
Dr Imam tidak bicara apapun dan bertanya apapun pada suster kepala Miranti, takut malah menimbulkan salah paham, apalagi bertanya apa Bu Retno tahu tadi dr Prabu lagi bersama Alya? pasti akan panjang ceritanya
.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1