Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Bimbang dr Imam


__ADS_3

"Kenapa dok? kelihatan kusut banget hari ini bukankah seharusnya bahagia semalam telah membawa dan memperkenalkan adikku Intan pada orang tuamu?" tanya dr Prabu pada dr Imam yang datang ke ruangannya siang itu. kelihatan seperti tak bergairah kurang tidur dan menyimpan masalah dengan raut muka yang tidak biasanya.


"Nggak apa-apa Bos, hanya sedikit masalah yang tidak serius, semua bisa di atur ulang," jawab dr Imam menggampangkan masalahnya.


Semua di luar dugaannya sikap kedua orang tuanya tiba-tiba berubah membuat pertanyaan besar bagi dokter Imam sendiri.


"Sepertinya ada masalah ya? Aku belum ngobrol sama Intan, Aku berangkat dia masih ngorok kapan Intan mau pulang?" tanya dr Prabu lagi, seperti ada hal atau kesalahpahaman antara mereka.


"Aku juga belum tanya, Intan sepertinya ngambek padaku pulang dari rumah semalam." Dr Imam mencoba jujur dengan apa yang dialaminya.


"Masalahnya apa, paling biasa cewek ada keanehan sedikit salah paham, ada yang kurang beres langsung marah, paling di sayang dikit baikan lagi." Dr Prabu berusaha memberikan sedikit masukan memang apa adanya selalu seperti itu pasang surut hubungan hal sepele seperti kangen juga menjadikan seseorang uring-uringan.


Dr Imam tersenyum datar, mengerti itu semua bisa-bisanya semua laki-laki merayu untuk berbaikan lagi, tapi keganjilan yang diperlihatkan orang tuanya tidak semestinya bersikap seperti itu terhadap Intan yang dicintainya padahal sudah beberapa kali dokter Imam membawa dan memperkenalkan cewek yang akhirnya putus tidak jadi karena banyak hal, tidak ada kecocokan yang memicu sebuah hubungan menjadi renggang dan putus.


Mungkin berasal dari situ entah seperti apa kemauan orang tuanya tetapi bersikap seperti ini baru kali ini pada Intan. s


Seperti tidak memperlihatkan sikap baik dan menerima sebagai orang yang dicintai anaknya sama sekali.


Dr Imam juga merasakan perasaan itu sikap kedua orang tuanya seperti tidak menerima Intan apa adanya dan selayaknya seorang calon menantu, apalagi Intan yang baru pertama kali bertemu dengan mereka dan diperkenalkan sama dr Imam makanya pas pulangnya Intan bertanya kenapa orang tuanya bersikap seperti itu apa salah dirinya?


De Imam bingung harus menjawab apa memang sebelumnya orang tuanya tidak pernah bersikap seperti itu sebelum-sebelumnya, pada siapapun cewek yang di bawa dan di perkenalkan tapi entah kenapa semua itu berubah. Dr Imam bingung mencari jawaban, sebelum berbicara pada siapapun termasuk pada dr Prabu kakaknya Intan.


Sudahlah jangan banyak pikiran, nanti pulang praktek kita ngobrol di rumah sekarang Aku jadi tidak betah di kantor rasanya ingin segera pulang, Kamu juga nanti pasti akan merasakan seperti itu apalagi melihat istri menyambut depan pintu dengan senyum dan badan yang sudah wangi." Dr Prabu seperti memotivasi dr Imam memberi semangat setidaknya dalam keadaan kusut seperti ini.


"Eh, Intan mau lama nggak di sini?" tanya dr Prabu sambil memandang dan meneliti muka dokter Imam yang lagi merengut di sampingnya.


"Aku belum tanya, Bos. Malah Aku belum ngobrol lama keburu Intan ngambek malam tadi pulang dari rumah." sahut dr Imam nyengir sendiri.

__ADS_1


"Kamu kan sudah lama hubungan sama Intan semestinya sudah tahu apa keinginannya, apa yang tidak disukainya, cara merayunya seperti apa, cara membuat dia tersenyum bagaimana, yang bikin ngambek dia itu seperti apa? sebenarnya itu hal kecil cuman terkadang kita sulit menemukan caranya."


"Iya Bos."


"Ya sudah, nanti ke rumah ya!"


Dr Imam mengangguk sambil tersenyum kecut, ingin rasanya dirinya cepat pulang bertanya pada kedua orang tuanya kenapa bersikap seperti itu pada Intan semalam, padahal sebelumnya banyak perempuan yang telah dr Imam kenalkan tapi tak pernah sekalipun orang tuanya bersikap seperti itu.


padahal orang tuanya tahu dan diberitahukan kalau Intan itu adalah adik dr Prabu sendiri yang notabene adalah Bos di rumah sakit itu tempat dirinya juga praktek dan bekerja di situ.


Mencari jawaban sendiri dari permasalahan yang belum jelas membuat dr Imam pusing sendiri, apalagi siang ini dirinya menelepon Intan sama sekali tidak diangkat sepertinya Intan benar-benar m marah dan tidak terima atas perlakuan kedua orang tuanya semalam.


Hanya gelisah dan kerja pun tak fokus apalagi yang datang ke ruang prakteknya tadi Alya bersama Ibunya memeriksakan segala sesuatu yang berhubungan dengan reproduksi.


Dr Imam kaget saat satu nama pasien dipanggil suster untuk masuk saat antrian telah sampai pada nomor yang dimilikinya.


Dr Imam belum bisa memastikan itu ada kendala di saluran pembuahan dan rahimnya, perlu pemeriksaan lanjutan dan laboratorium untuk pengecekan akurat sehingga bisa dipastikan kalau keluhan itu ada semacam pertumbuhan penyumbatan atau luka jadi masih banyak kemungkinan.


Beberapa waktu ke depan dr Imam akan selalu bertemu dengan Alya secara berkala karena Alya akan melakukan tes segala macam menyangkut keluhan yang dikonsultasikan.


Sementara pendapat dr Imam mengalami stres serviks sehingga Alya mengalami terlambat datang bulan tapi tidak sedang hamil.


Dr Imam menyambut Alya dengan senang hati, setidaknya suami yang sudah kenal lama pernah dekat walaupun tidak akrab tetapi keduanya menjadi kenal karena sesuatu hal saat Alya menginginkan kedekatan dengan dr Prabu.


Alya yang datang sama Ibu juga suaminya berkonsultasi secara terbuka dan jujur mereka menginginkan dan mengharapkan kehamilan.


Entah dari mana dr Imam harus bicara, apa penting dirinya menyampaikan semua ini pada dokter Prabu kalau pasiennya saat ini adalah seorang Aliya yang telah masuk membuat kisah panjang dalam kehidupan dr Prabu.

__ADS_1


Seandainya bicara apa perlunya? juga hubungan dengan dr Prabu sendiri? sedang dr Prabu kini telah bahagia dengan pernikahannya juga dengan kehidupan dan pilihan rumah tangga yang tidak banyak dengan orang yang dicintainya apalagi sekarang sedang menunggu kebahagiaan lain yaitu kehadiran buah cinta mereka Retno yang telah hamil sudah mencapai 7 bulan serasa dokter Imam tak ingin mengusiknya.


Tapi seandainya tak di beritahukan suatu saat akan bertemu mungkin akan ada kekagetan dan mungkin akan terjadi kekakuan. Dr Imam sendiri memilih untuk memberitahukan dr Prabu kalau salah satu pasien yang sedang konsultasi dan menjalani terapi juga tes cek kesehatan segala macam di sini yaitu anak walikota yang tergila-gila pada dr Prabu.


Dr Imam sendiri tak yakin dengan Alya apa Alya telah berubah? Ada rasa sedikit ketakutan takut Alya mengacau kembali mengusik segala ketentraman yang telah sahabatnya bina selama ini apalagi dr Prabu akan menjadi kakak iparnya seandainya semua sampai kepada apa yang dicita-citakan nya menggapai satu mahligai rumah tangga bersama adiknya Intan Juwita.


"Hai! melamun tingkat tinggi nih, jam istirahat sudah usai tuh! Kamu kelihatan serius banget sih?" ujar dr Prabu saat melihat dokter Imam hanya duduk dengan menyisir menyisir rambutnya dengan kesepuluh jarinya seperti bingung dengan langkah yang akan dilakukannya.


"Aku memang lagi bingung Bos."


"Masa soal cewek baru ngambek segitu aja kamu bingung setengah mati? apa sih masalahnya?"


"Bukan hanya soal itu juga Bos, ini masalah lain, tadi pasien yang berkonsultasi di ruang praktek Aku adalah Alya!"


"Apa? Alya?"


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2