
Dr Prabu mengamati dari dekat wajah cantik Retno yang masih belum sadar dan menggenggam tangannya dengan sejuta perasaan bersalahnya, sakit rasa hatinya juga, semua terjadi jauh dari perkiraannya Retno mungkin belum makan siang karena buru-buru ingin mengejar waktunya, membayangkan Retno belum makan dalam hati dr Prabu begitu prihatin melihatnya.
Datang suster kepala Miranti dengan tiang infusan dan semua peralatan lainnya, dengan hati-hati dr Prabu mulai mengikat tangan Retno biar uratnya timbul dan menyediakan jarum untuk di suntikan pada urat dan di sambungkan ke selang labu yang berisi cairan infus, dan di pasang perekat biar tidak mudah goyang selesai sudah ikatan di buka dr Prabu mengatur tetes yang masuk ke saluran urat Retno.
Suster kepala Miranti mencium-cium kan minyak angin di hidung Retno, setelah sekian lama baru ada reaksi dan Retno mulai mengerjap kan matanya.
Retno mulai mengerutkan dahinya dan mungkin mulai berfikir di mana dirinya sekarang, yang pertama di lihat adalah suster kepala Miranti yang selama ini begitu menyebalkan, tapi kali ini lagi tersenyum sangat manis dan mengangguk, lalu pada satu orang yang begitu membuat hatinya deg-degan dan merasa nggak yakin itu Mas Prabu nya yang sama menyebalkan seperti suster kepala Miranti, dan satu lagi gadis cantik tinggi langsing Retno tak mau meliriknya dan mencoba menutup mukanya dengan kedua tangannya tapi ada beban yang sedikit sakit di tangan kirinya Retno menyadari dirinya lagi di infus.
Suster kepala Miranti dan Intan pergi keluar dan membiarkan dr Prabu duduk di samping Retno, apa yang ingin di ucapannya saat bertemu dengan Mas Prabu semua hilang entah kemana dan saat ini hanya ingin berlari sejauh mungkin menghindari dari tatapan wajah itu, Retno memalingkan mukanya tak menatap orang yang berusaha menggenggam jemarinya dan selalu Retno melepaskannya dengan menariknya, suasana begitu sepi hanya butiran air mata yang jatuh satu satu dari sudut bola matanya.
"Menangis lah jika itu membuat hatimu lega." hanya itu yang keluar dari bibir dr Prabu.
Apa yang harus aku katakan semua jelas Mas Prabu sudah dengan perempuan lain, dan menduduki jabatan yang begitu tinggi di rumah sakit ini, pencapaian karir yang begitu cemerlang, sedangkan aku hanya seorang mahasiswa KKN yang mengharapkan nilai baik dari tempatnya melakukan kegiatan KKN, dan dr Prabu dengan semena-mena memperlakukan dirinya layaknya seperti cleaning service, OB dan sejenisnya mustahil Mas Prabu tidak tahu siapa dirinya dari awal.
Timbul kebencian dalam hati Retno benci se-benci-bencinya, tak ada sedikit pun rasa simpatik pada yang namanya pimpinan, dan Retno mungkin akan mengakhiri KKN nya lebih awal dari teman-temannya yang lain itulah tekad dan niatnya saat ini.
Dirinya merasa terhina di sini Retno mengerti semua yang di perintahkan suster kepala Miranti adalah sudah pasti perintah sang direktur untuk melecehkan dirinya, menghina serendah-rendahnya dan membalaskan sakit hatinya, apakah dirinya tak boleh sakit hati?
Tekad Retno sudah bulat ingin meninggalkan tempat ini dan semua yang di alami dan di lihatnya adalah jawaban dari semua pertanyaannya selama ini, Mas Prabu tak seperti yang di bayangkan nya, rasa rindu yang sekian tahun menggunung hilang sudah dengan pelecehan dan hinaan yang di terimanya, rasa cinta yang selalu di jaganya musnah di depan matanya saat Mas Prabu menggandeng seorang perempuan lain, dan rasa simpatik juga kekagumannya entah kemana kini porak poranda saat tahu dirinya jadi kelinci mainan di hadapan dr Prabu tanpa tahu Retno identitas dr Prabu sendiri.
Aku jadi orang bodoh kalau terus ada di sini, jadi mainan dan suruhan yang harus mengerjakan ini itu yang bukan seharusnya pekerjaanku, menjadi tempat pelampiasan sangsi dan hukuman walau begitu kecil kesalahanku, hati Retno terluka dan berdarah begitu parahnya menyadari semua itu dan mungkin satu lagi Mas Prabu ingin aku gagal dalam KKN kali ini dengan tidak sedikitpun memberi toleransi keringanan kehadiran pada dirinya.
Retno berusaha mematikan tetes selang infus dan berusaha membuka jarum infus itu dengan memaksakan diri dengan sebelah tangannya dan darah keluar dari jarum yang kena goyangan, dr Prabu memegang dan menghalangi tangan kana Retno dan berusaha mencegahnya melepaskan infusnya lalu membersihkan darah yang menetes ke bagian bawah tangan Retno.
__ADS_1
"Tahan dan habiskan satu kantong infus saja, kamu itu lemah perlu asupan tenaga."
Retno diam saja dan dr Prabu menyeka ujung bola mata Retno yang masih berair, dan Retno merasa nggak sudi menerima perhatian kepura-puraan itu.
Hilang jam kegiatan KKN Retno malam itu dan Retno sudah nggak perduli lagi, jam sembilan Ismi dan Ella menjenguknya, terlihat seseorang ganteng duduk di samping Retno menggenggam tangan Retno yang masih berbaring menghabiskan satu kantong infusan dan sesekali mencium tangan Retno, Ismi dan Ella saling pandang dan menahan langkahnya.
Penasaran hati Ella dan Ismi lalu mengetuk pintu dan melongokan kepalanya, dr Prabu melepaskan genggaman tangannya dan berdiri memberi kesempatan pada teman temannya Retno.
Tak ada kata-kata dari Retno juga dua sahabatnya hanya tangisan dan pelukan yang mereka lakukan.
"Ella buka infusan nya semua sudah selesai." Retno berusaha bangun dan membetulkan kerudungnya, terlihat matanya sembab dan hidungnya merah karena menangis.
"Iya Mbak, Mbak istirahat di kamar saja." Ella memandang pada sosok laki-laki yang berdiri tak jauh dari mereka seakan minta persetujuan dan laki-laki itu mengangguk tanda memperbolehkan.
Retno di buka infusan nya dan berusaha turun dengan buru-buru tak memperdulikan apapun.
Retno tak perduli teriakan dr Prabu yang mengejarnya dan terus saja berjalan menuju mess nya, dan sampai kamar langsung mengambil kopernya dan memasukkan semua barang barang miliknya dan mengemasnya, selesai satu koper beralih ke tas jinjing memasukkan sepatu buku-buku dan segalanya, di pintu berdiri dr Prabu dan dr Imam SpOG memandang Retno mengemas semua barangnya.
"Suster KKN temannya Retno tolong keluar dulu semua ada kesalahpahaman dan semua perlu di clear kan dulu."
Ella dan Ismi pada keluar dengan segudang tak mengerti yang terjadi dan mengundang sejuta pertanyaan di hatinya.
Dr Prabu masuk perlahan dan berusaha menghentikan kegiatan Retno dengan menangkap tangannya dan Retno menatap wajah dr Prabu dengan muka penuh amarah sambil berusaha melepaskan pegangan tangannya.
__ADS_1
"Retno kamu salah paham, mau kemana kamu mengemas semua pakaian kamu?"
Retno terus saja memasukan semua ke dalam tasnya dan berganti sekarang tas plastik yang besar yang di isinya dan menjajarkan nya di sisi tembok, dr Prabu juga terus saja menghalangi dan berusaha mencegah dengan memberi pengertian dengan omongannya.
"Retno ini sudah malam mau kemana kamu heh?"
Tak ada jawaban.
"Aku salah, telah semena-mena memperlakukan kamu."
Retno hanya memandang dr Prabu dengan kilatan mata tak suka.
"Aku minta maaf, aku salah besar padamu."
"Ella, Ismi tolong bantu aku, bawakan barang-barang ku ke depan aku sekarang juga pulang ke Bandung, aku akhiri KKN ini aku tak perduli lagi dengan semuanya aku tak mau melihat lagi wajah munafik dan wajah wajah penuh kebencian."
Ella dan Ismi yang lagi ngobrol dengan dr Imam SpOG tersentak dan berlari kedalam dengan tertegun.
"Mbak Retno ada apa semua ini? kenapa kok jadi begini?"
"Tanya semua pada direktur rumah sakit ini, cukup bagiku sampai malam ini aku ada di sini, kalaupun di teruskan hanya akan menjadi sia-sia saja, sebelum aku menjadi gila di sini."
Dr Prabu memeluk Retno seketika di hadapan Ella dan Ismi juga dr Imam SpOG, mereka tertegun dan tak menyangka akan ada pemandangan seperti itu.
__ADS_1
Retno berusaha melepaskan diri dan memberontak sekuat tenaga tapi rengkuhan kuat dr Prabu tak membuat Retno terlepas, malah menjadi lemas sendiri dan menangis di pelukan dr Prabu.
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝