
Satu bagian dari perjalanan hidupnya telah dilewati Retno kini sedang melangkah menuju ke arah kehidupannya yang baru. Menapaki perjalanan setelah sekian lama dalam penantian setelah sekian lama dalam menunggu akhirnya terlaksana juga dirinya kembali pulang ke kampung halamannya dengan membawa seseorang yang di cintainya.
Ya, seseorang yang tak lekang oleh waktu mengisi setiap relung dalam hatinya tak pernah hilang dari ingatannya, seseorang yang di tunggu sekian lama itu telah membawa dirinya untuk menuju pada sesuatu hal yang sangat serius yaitu gerbang rumah tangga dan kini mereka menuju ke kampung halaman Retno.
Retno membuang nafas berat saat duduk di samping dr Prabu seakan ini beban terberat yang di rasakannya dari sekian yang telah di lewatinya.
Ingin rasanya Retno duduk dengan tenang menikmati perjalanan dan menikmati kebersamaannya dengan orang yang di cintainya, tapi kecemasan ada saja tergambar di wajah cantiknya. Sesungguhnya ingin segera semua terlewati melintasi waktu menata jalan hidupnya dengan cinta yang tanpa hambatan.
Dr Prabu menepuk pundak Retno sambil mengangguk pasti dengan sebelah tangan kirinya, setelah mereka duduk dan siap berangkat.
Perjalanan malam sengaja mereka ambil untuk menghemat waktu dan siangnya bisa di manfaatkan buat hal yang paling penting, dan setelah mereka mendapat restu dari kedua orangtua Retno, Retno akan membawa dr Prabu jalan-jalan ke objek wisata yang ada di daerahnya Pekalongan.
"Pasang sabuk pengaman nya sayang, kamu boleh tidur tapi kalau nanti aku ngantuk bangun ya, kita ngobrol atau kita berhenti dulu di rest area biar aku bisa memulihkan rasa ngantuk."
"Iya Mas."
"Tapi perasaan aku nggak ngantuk, aku pengen cepat sampai ke rumah heee..."
"Jarak Tasikmalaya Pekalongan Jawa Tengah jauh lho. Aku sudah membaca jaraknya sekitar 235.91 km atau 146.26 mil. Jadi untuk sampai di sana dan menyusuri jarak ini dengan kecepatan kendaraan rata-rata 80 km / jam membutuhkan kurang lebih sampai 2 sampai 3 jam perjalanan atau 127.5 menit kalau lancar tapi kalau macet lain lagi hitungan dan ceritanya."
"Santai saja Mas jangan ngebut."
"Tapi aku ngebutnya mau nikah sama kamu."
"Ah pake di omongin lagi."
"Aku kan baru ngomong kali ini."
"Iya aku terima kamu sebagai calonnya."
"Haaa... semoga kata itu yang keluar dari orangtua dan keluargamu."
Mobil mulai beranjak dari pelataran rumah sakit dan keluar jala raya. Retno membayangkan pertemuan sekian lama dengan orang tuanya juga adik satu satunya Dimas. Juga kampung halamannya, teman-teman nya yamg mungkin sudah pada menikah juga semua kenangan masa kecilnya.
Kalau lambat bisa sampai sekitar pukul 22 pikir Retno nggak apa langsung tidur dan besok segar siap dengan misi khusus Mas Prabu.
"Jangan melamun, aku jadi cemas kalau kelihatan kamu begitu banyak bengong, mending tidur aku temenin di sini."
"Siapa yang melamun, yang ada di pikiranku ada di sampingku."
"Wow jadi lagi mengkhayal aku rupanya? apa perlu berhenti dulu?"
"Buat apa berhenti?"
"Biar kamu merasa yakin aku ada di sini haaa..."
"Mas."
__ADS_1
"Apa Hemght...?"
"Aku tadi sempat di telephon Dimas, tadinya aku yang telephon duluan karena nggak di angkat lagi di jalan, jadi Dimas yang telephon balik."
"Oh ya? lantas apa?"
"Sepertinya orangtuaku sudah menunggu kita, dan Romo ku begitu bersemangat katanya."
"Semangat gimana maksudnya?"
"Ya yang tadinya malas berobat, dan terapi untuk kesembuhannya sekarang malah dia yang minta, sejak ada kabar aku mau pulang habis KKN."
"Bagus dong kalau begitu. Justru khabar baik semua itu"
"Iya Mas."
"Retno, aku tidak bisa ngomong dan bersikap sopan layaknya aturan keluargamu, jadi tolong aku di kasih tahu apa yang seharusnya aku ucapkan dan aku lakukan."
"Kursus dulu sama aku, tapi mahal mau nggak?"
"Apapun akan aku lakukan walau mahal sekalipun."
"Sama aja Mas hanya Pandangan luar saja terasa seram keluargaku, tapi pada kenyataannya kalau sudah masuk biasa saja. Satu yang pasti jangan nyosor sembarangan heee..."
"Kan itu kewajiban ku"
"Iiiiiiiiiih...dasar."
"Emang nggak malu apa?"
"Enggak kalau sama kamu, asyik aja rasanya."
"Tapi pilih-pilih tempat dong."
"Iya aku bercanda sayang, tapi siapa tahu pas aku nyosor kamu ketahuan, dan langsung kita di kawinkan aku malah senang heee..."
"Nikah Mas bukan kawin."
"Oh iya ya, Aku salah ya. Tapi Aku serius Retno kamu belum ngasih tahu tata cara di keluarga kamu, aku kan nggak bisa ngomong 'Inggil Kromo' Aku paling diajarin sama temanku dulu semasa kuliah bahasa kasar, juga di ajarinnya yang jorok-jorok banget sepertinya. Kata-kata yang bahkan jauh dari kata sopan, jadi aku sama sekali nggak ngomong bahasa Jawa ya aku ngomong bahasa yang umum aja."
"Ya, yang umum lah semua juga pasti mengerti."
"Tapi aku mau kok belajar, serius."
"Nggak gitu juga kali Mas. Belajar pasti butuh waktu, bicara bahasa umum aja, orangtuaku bukan orangtua yang tidak sekolah, mereka mengerti Mas Prabu beda budaya dan kebiasaan."
"Ya, tapi aku takut salah dalam bicara."
__ADS_1
"Kalau sudah di mulai semua akan biasa saja dan lancar Mas, lihat aja besok."
"Iya Retno, tapi sepertinya aku tak bisa ya kalau misal memegang kamu."
"Ya di rumah depan orangtua ku dan keluargaku enggak lah, depan siapapun juga memang nggak sopan, bisa-bisa pandangan orangtuaku langsung berubah kembali."
"Yaaaaah...masa sedikit juga nggak bisa?"
"Memang Mas Prabu mau apa?"
"Takutnya aku spontan meluk kamu."
"Ya silahkan kalau mau langsung di seret keluar rumah, dan di suruh pulang nggak jadi deh punya mantu heee..."
"Jangan sampai deh, bercanda..."
"Eh, Mas aku kasih tahu ya kalau Romo ku itu suka dengan satu olahraga tapi seandainya Mas bisa mengimbanginya bisa mengajak berpartner dalam olahraga Itu sudah pasti Mas bisa mengambil hatinya."
"Oh ya, biasa memegang raket juga? aku siap banget."
"Bukan, Romo ku penggila catur."
"Aku begitu siap men-skak mat Romo mu kapan saja dia siap."
"Hush...Mas belum pernah berhadapan sama dia, yang ada Mas nanti yang di skak mat."
"Haaaa...kita lihat saja nanti."
Pikiran dr Prabu melanglang membayangkan bagaimana sikap Romo nya Retno nanti, apa orangnya galak? bikin grogi? intuisi tinggi? atau biasa saja sepertinya orang lain pada umumnya, bayangan yang masing mengira-ngira.
Apa dia mau main catur denganku? perbincangan apa sebaiknya yang enak untuk di bicarakan untuk menghidupkan suasana? aaaaaah...semua tak terpikirkan dr Prabu.
Apa dia akan menelisik keluarganya, pekerjaannya, atau malah bertanya soal anaknya sendiri? dr Prabu pusing sendiri.
Melihat di sampingnya Retno sudah pulas tidur. Mukanya di tutupi sama ujung kerudungnya, dr Prabu tersenyum.
Perjalanan baru mencapai seperempat dari jarak yang akan di tempuh.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta habis baca...
__ADS_1
...Jangan lupa mampir ke karya bertitel : "Pesona Aryanti" masih karya "Enis Sudrajat " baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!...