Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Malam paling bergairah


__ADS_3

Selesai acara hari ini dengan begitu melelahkan, menguras tenaga serta capek yang luar biasa.


Waktu menunjukkan jam 22 malam, Retno sama dr Prabu baru masuk kamar mereka.


Retno duluan menempati tempat tidur di susul suaminya. Dr Prabu menangkap dan memeluknya.


Ciuman panas mulai di lancarkan dan Retno tak bisa menghindar ataupun berkelit walau hatinya ingin memberontak.


Tak guna penolakan apapun itu, walau alasan capek apalagi ngantuk, hasrat yang membara. seperti meronta menanti balasan dan perlawanan.


Retno mencoba membatasi dengan satu alasan sakit perut efek penyakit bulanan wanita.


Meski tak rela dr Prabu masih mencoba menggelitik dan mengungkung istrinya hingga sesak nafas


Tapi dr Prabu tetap saja tak mau melepaskannya, mencium menelusuri setiap inchi tubuh menantang istrinya.


"Retno sayang, kenapa kamu kenapa begitu tak bergairah?"


"Mas capek nggak?"


"Enggak!"


"Jangan bohong, nggak mungkin nggak capek memang Mas itu robot apa?"


"Tapi semua kalah oleh rasa senang ku sayang."


"Biarkan aku istirahat malam ini."


"Berartikan malam besok sudah bisa...?"


"Hemght...nggak tahu deh, mungkin malam ini juga bisa."


"Maksudnya?"


"Maafkan aku, Aku bohong pada Mas, kalau tak bohong aku tak bisa istirahat sama sekali, tapi aku merasa bersalah dan berdosa walaupun hanya kebohongan kecil untuk menyelamatkan diri. Hanya satu tujuanku berbohong aku ingin istirahat malam itu biar bisa berdiri di pelaminan seharian besoknya."


"Enak ya sudah berbohong, tanpa merasa kasihan pada suamimu ini." dr Prabu menangkap dan mencium sambil menggigit kecil bibir tanpa polesan itu.


Ingin rasanya Retno membalikkan kata itu dan ditujukan kepada suaminya.


"Enak ya sudah berbohong, tanpa merasa kasihan pada Istrimu ini."


"Aku nggak biasa berbohong, jadi aku merasa bersalah. Aku ingin memberikan sesuatu yang istimewa buat Mas malam ini.


lakukan apa yang Mas inginkan dariku malam ini akan aku berikan."


"Sayang, kamu serius?"


"Apa yang serius?"


"Ka-kamu tak lagi sakit?"


"Silahkan periksa, Mas kan dokter. Sebelum akad nikah aku habis dapat tamu bulanan jadi pas banget ini masa suburku, mungkin sudah ada bibit kehidupan di dalam rahimku, mungkin juga belum, lakukanlah malam ini!" Retno membuka sendiri semua pakaian yang melekat di tubuhnya tak sedikitpun tersisa, membiarkan suaminya memandanginya dengan rasa tak percaya.


"Sayang, kamu jahat banget, sungguh tak berperasaan."


"Sekali lagi maaf, aku lelah lahir bathin malam itu, aku takut pingsan di pelaminan, aku akan menebusnya malam ini, anggaplah ini malam istimewa kita, apa Mas sudah minum jamunya?"

__ADS_1


"Belum, tunggu! Aku ambil dulu ke bawah."


Dr Prabu bangun dengan tergesa memakai kembali t-shirt dan kembali mengenakan celana kolor nya, lalu membuka pintu kamar dan keluar.


Retno yang melihatnya hanya tersenyum, dasar buaya! biar aku beri manisnya malam ini, dan membiarkan menikmati sepuasnya, karena aku juga menginginkannya, ingin memuaskan rasa di hatiku dan merasakan kegagahannya.


Tapi mulai besok, semua akan aku buat satu pertanyaan yang membuat semua gairah itu musnah dan hilang.


Dr Prabu masuk kembali dengan satu Tumbler jamu dari kulkas dan dua gelas kosong.


"Sepertinya kalau dingin agak lumayan rasanya."


"Rasa jangan di bahas, yang penting khasiatnya, aku sudah nggak sabar mana bagian ku?"


"Kok seperti nggak sabar banget sayang, apa kamu menantang ku malam ini?"


"Pernahkah Mas berkhayal akan indahnya satu malam? mungkin akan kita rasakan malam ini."


Dengan tanpa sehelai benangpun Retno turun dari tempat tidur, membuat suaminya melotot seperti mata capung, gairah dr Prabu melonjak seperti meronta ingin segera melepaskan anak busur pada sasarannya.


Retno berdiri di hadapan suaminya yang terpaku, melepaskan penutup yang menempel di tubuh suaminya secara perlahan semuanya. Dr Prabu terpana dengan pemandangan indah depan matanya yang begitu menarik untuk segera di taklukan.


Tampaklah tubuh atletis tanpa busana seperti dirinya. mengganggu otak dan fikiran Retno, gairah yang sama telah di rasakannya menanti sentuhan lembutnya.


"Mana jamunya sayang?" Retno bergumam perlahan.


Dr Prabu mengambil dua gelas yang sudah di isi dan memberikan satu gelas tanpa kata pada istrinya.


Mereka meminumnya sambil berdiri, dan berpandangan penuh hasrat.


"Aku tak akan tidur malam ini, lakukan apa yang Mas inginkan dariku."


"Biar Mas tahu, bagaimana rasanya di bohongi itu seperti apa."


"Aku tak akan ada yang di bohongi sama kamu sayang."


Tubuh mereka terasa panas saat berdiri tanpa batas.


Penjelajahan di mulai, gejolak keinginan yang tak tertahankan membius keduanya, Retno pasrah dalam kenikmatan tiap sentuhan dan membiarkan suaminya mengeksplor keinginan dan kepenasaran nya.


Dr Prabu mendorong tubuh Retno perlahan hingga terduduk di pinggir tempat tidur.


Mengamati semua tubuh istrinya di remang lampu tidur, tak ada kata hanya gelora yang ingin di lampiaskan dalam kepuasan rasa. Semua telah di sentuhnya.


Membelai nya, mengusap, dan menjamahnya dengan ciuman panas membuat Retno menggelinjang panas dingin dan suaminya semakin liar tak terkendali.


"Seneng banget di area itu Mas?"


"Aku suka semuanya, tapi paling suka ya di sini ini, habis tersembunyi sih."


"Apa kita selesaikan satu babak ini dulu?" Retno seakan menantang dengan pesona yang di pancarkan pada gairahnya.


Dengan nafas tak beraturan dr Prabu tak menjawab, hanya mengangguk dengan menyebut nama kesayangan pada Retno.


"Mas."


"Hemght..."

__ADS_1


Dr Prabu tak membiarkan istrinya dalam keadaan mendamba terlalu lama, lanjut pada permainan yang begitu di sukanya, bergumul dengan gairah yang semakin memuncak menunggu penyelesaian dengan sempurna.


Seperti singa yang kelaparan mengaum dengan dahsyatnya, menunggu pelepasan dalam penyatuan puncak tertinggi.


Seperti magma yang tertahan menanti datangnya saat puncak memuntahkan lahar.


"Aku tanam dengan penuh cinta sayang, semoga jadi buah yang sangat kita tunggu hasilnya."


Retno hanya mendesah manja dengan menahan hentakan teratur saat penyelesaian akhir. Tangannya membelai dada dan perut kotak-kotak kekar suaminya.


Hingga akhirnya mereka mengerang penuh kepuasan dalam satu dekapan.


Retno membelai muka suaminya yang masih mengatur nafasnya.


Menyelusupkan wajahnya di dada suaminya.


"Makasih sayang, akan menjadi malam yang luar biasa malam ini." tangan dr Prabu mengusap-usap punggung Retno.


"Mas, mau berapa kali malam ini?"


"Sampai aku nggak sanggup lagi sayang, mungkin itu artinya cukup."


"Aku ingin menikmatinya dan memberi kepuasan pada Mas malam ini."


"Retno, serasa aku tak percaya kini kita telah berdua."


"Iya Mas, semuanya seperti mimpi."


"Mimpi yang jadi kenyataan, mau berapa anak kita nanti?" dr Prabu memainkan hidung, pipi dan bibir Retno, lanjut jarinya dengan nakal ke arah bawah tepat di dada istrinya.


"Aku belum berpikir, sedikasihnya saja kita syukuri."


"Aku selalu nggak tahan kalau Tangan Mas sudah di situ."


"Aku juga sama, kalau sudah di kasih ini pengen lanjut aja bawaannya."


"Mas emang nakal."


"Sayang kenapa semua begitu nikmat?"


"Kalau nikmat ayo kita mulai lagi."


"Haaa...siapa takut!"


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


Hai, readers tercinta! habis baca


"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, MENITI PELANGI


By Enis Sudrajat juga, baca, like,

__ADS_1


vote dan beri hadiah ya!



__ADS_2