
Dr Imam keluar kamar bersama Vionna di sambut senyum Ibunya di bawah di ruang keluarga.
Selalu ada kebahagiaan di raut muka Ibunya dr Imam saat melihat mereka jalan bersama mungkin putranya sudah luluh dan mengerti lalu mengikuti keinginannya.
Entah apa yang di bicarakan nya di dalam kamar tadi tapi Ibunya dr Imam berharap ada kesepakatan diantara mereka berdua seperti harapannya setiap saat.
Dr Imam menyeret koper satu dan Vionna juga satu tanpa bicara apapun, mereka menuruni anak tangga lalu menyimpan koper di dekat sofa tamu.
"Aku mandi dulu!" ucap dr Imam sambil berlalu tanpa menunggu jawaban dari Ibunya ataupun Vionna juga Bapaknya yang sudah duduk di meja makan.
Apa dirinya berontak atau iya iya saja sama Ibunya juga Vionna? yang penting Vionna pulang mungkin dirinya bisa bernafas lega dan bisa berpikir bagaimana nanti menyiasati memberikan kabar dan keputusan kepada Ibunya supaya jangan sampai keluarganya datang mengunjungi keluarga Vionna di sana, mungkin itu jalan terbaik.
Kalau sekarang dirinya berontak saat Vionna masih ada di sini betapa membuat malu keluarganya dan Vionna sendiri.
Sementara itu yang akan dilakukan dr Imam walaupun tidak 100% menyetujui kalau dirinya merasa jadian dengan Vionna dan menjalin hubungan jarak jauh, Vionna berharap semua berpikir tentang apa yang disarankan orang tua mereka baru nanti kalau orang tua dr Imam datang berkunjung ke tempatnya itu akan menjadi keputusan.
Bukan perkara mudah menolak keinginan orangtuanya dan bicara sama Vionna, tapi harus dengan taktik juga menurut dr Imam.
Setelah selesai mandi dan berdandan dr Imam duduk gabung di meja makan.
Sarapan alakadarnya mungkin sarapan terakhir Vionna di rumahnya karena sebentar lagi dirinya akan mengantarnya ke stasiun dan Vionna akan pulang ke rumahnya jauh di sana.
Hari ini terpaksa Dr Imam telat datang ke tempat kerja mungkin butuh waktu setengah hari dan belum konfirmasi ke Bu suster kepala Miranti.
Sambil sarapan duduk di meja makan dr Imam mencoba menghubungi suster kepala Miranti tetapi tidak diangkat mungkin lagi di perjalanan atau masih di rumah dengan kesibukan paginya.
Dr Imam menghubungi Intan dan langsung bersambut. Seolah tanpa beban dokter Imam bicara di hadapan kedua orang tuanya juga Vionna yang lagi sarapan di sampingnya.
"Halo, Mas ya ada apa?" suara Intan di sebrang sana.
__ADS_1
"Iya Intan, Mas sepertinya praktek datang terlambat ada urusan keluarga dulu. Maaf ya sarapan barengnya batal lain kali saja dan tolong sampaikan sama Suster kepala Miranti kalau Mas datang terlambat," ucap dr Imam di depan Ibunya juga Vionna.
Vionna hanya diam dan Ibunya juga tak sedikitpun berkomentar, kelihatan masa bodoh dengan semua yang di lakukan putranya.
Seperti biasa pura-pura tak mendengar seakan biasa saja tak terjadi apa-apa walau semua jelas putranya menjalin hubungan serius dengan seseorang. Seakan menutup diri dari semuanya kukuh pada keinginannya mendekatkan putranya dengan Vionna karena menganggap hubungan putranya dengan wanita yang lain dianggapnya tidak serius dan akan putus lagi dan lagi.
Ibunya dr Imam merasa kalau Vionna adalah seorang yang sangat cocok dalam segala hal di sandingkan dengan putranya, tampan dan cantik pasti tentunya sama-sama dewasa dan punya karir bagus masing masing juga kedua belah pihak orangtua begitu setuju jadi apalagi?
Sebenarnya itu pemikiran keliru bagi dr Imam. Ada saatnya seseorang masih belum siap dan saat dirinya menemukan kecocokan dengan Intan Ibu Bapaknya menyama ratakan dan tetap pada pandangannya.
Dr Imam sarapan alakadarnya sekedar menghargai siapapun yang menyajikan dan mengolahnya, tak ada sedikitpun rasa lapar di pagi itu.
Sarapan sambil diam dan menyelesaikannya segera itu menjadi pilihan terbaik dr Imam.
"Ibu ingin kalian bisa bersikap lebih dewasa ke depannya, dan tetap berharap bisa menjalin hubungan walau kalian berpisah. Keluarga dari sini mungkin seminggu lagi berkunjung ke tempatmu Nak Vionna sampaikan salam Ibu Bapak juga dari keluarga di sana semoga semuanya sehat-sehat selalu," ucap Ibunya dr Imam sambil mengakhiri sarapannya dengan minum air putih.
"Iya Tante, akan Aku sampaikan. Maaf selama di sini Vio banyak ngerepotin semuanya, tapi janji kalau keluarga Om Tante datang ke sana Aku akan meluangkan waktu biar semuanya bisa menikmati suasana nyaman dan obyek wisata yang ada," jawab Vionna.
Dr Imam bangkit dan menarik satu koper Vionna ke halaman dan memasukkannya ke bagasi mobil tanpa sepatah kata, membuka pintu mobil bagian depan samping masih dengan diamnya sampai Vionna duduk di sampingnya Ibunya masih melongokkan kepala ke dalam mobil.
Dr Imam menjalankan mobilnya perlahan sampai membelah jalan raya yang lumayan padat jam jam sibuk perjalanan kerja sekolah dan aktivitas lainnya.
"Mas senang Aku pulang kan?" suara Vionna hampir tak kedengaran.
"Kamu sendiri gimana rasanya senang atau gimana?" dr Imam malah balik tanya.
"Kalau bukan karena tanggungjawab pekerjaan Aku sebenarnya belum puas berada di sini, Aku tidak tahu ke mana-mana tapi apalah daya," jawab Vionna.
"Itu salahmu, Kamu datang bukan pada waktunya selain Aku tekankan lagi kalau Aku sudah punya kekasih juga tidak bisa meninggalkan tanggung jawab pekerjaan. Sebelumnya Aku minta maaf Vio Aku bukan yang terbaik buatmu," ujar dr Imam berulangkali mengatakan hal yang sama pada Vionna yang tidak mau menerima kenyataan kalau dr Imam kasarnya menolak.
__ADS_1
"Tapi Mas belum menikah dan belum resmi jadi milik seseorang, jangan salahkan Aku jika melakukan bentuk usahaku sendiri karena Aku mendapatkan dukungan penuh dari keluargaku juga Ibu Bapaknya Mas Imam," jawab Vionna datar saja.
"Vio, yang Kamu inginkan itu Aku sebenarnya tidak begitu berpengaruh walaupun tetap ada keterkaitan dengan orang tuaku harus bagaimana Aku meyakinkan kepadamu ada Intan di dalam hidupku!"
"Tapi kenapa Mas seperti begitu tertarik saat kita dekat? Aku melihat ketertarikan Mas Imam, kenapa harus berbohong dan menolak saat Aku tawarkan waktu itu?"
"Vio! semua laki-laki kalau di sodorkan depan mata tak akan bisa menolak sudahlah jangan menggodaku, tapi kalau itu adalah bentuk usahamu Aku begitu menghargainya tetapi kalau semua dilakukan dengan berlebihan mungkin akan berbalik Aku tidak suka cara-cara seperti itu!"
"Mas jangan munafik, Aku melihat sendiri kelakuan Mas di ruang praktek saat bersama Alya dan tidak menutup kemungkinan dengan orang lain dan yang lain-lainnya!"
"Cukup Vio! tak pantas Kamu menghakimi Aku seperti itu, itu semua tidak seperti yang Kamu perkirakan Kamu tidak tahu siapa Alya. Terlalu panjang semuanya kalau harus aku ceritakan."
"Yang Aku lihat itu pandanganku Mas dan itulah kenyataannya, jadi wajar Aku berpandangan negatif dan menawarkan diri jika itu jadi pilihan Mas Imam."
"Itu terserah Kamu Vio yang pasti Aku tidak seperti yang Kamu pikir."
"Apapun itu benar atau tidak Aku tetap berharap Mas Imam bisa berubah pikiran dan bisa kembali memikirkan tentang harapan orang tua kita," jawab Vionna tetap maksa.
"Sudahlah Vio, Aku kehabisan cara kalau harus berdebat dengan Ibuku takut dosa dan di cap pembangkang tapi kalau untuk prinsipku Aku berani menentangnya. semoga perjalananmu menyenangkan."
Sampai di situ pembicaraan mereka selesai karena mereka telah sampai ke stasiun, setelah mencek semua kelengkapan mereka berpisah di ruang tunggu stasiun luar kota.
Ada pelukan hangat Vionna walau dr Imam menyambutnya dengan dingin dan tanpa ekspresi mereka berpisah tanpa kesan tapi bagi Vionna tetap menimbulkan harapan.
.
.
.
__ADS_1
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️