Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Menikmati akhir rasa kecewa


__ADS_3

"Coba dari tadi kamu mau aku ajak jalan-jalan, kita makannya di luar nggak ngerepotin Bu Harni."


Retno hanya diam dengan pandangan lurus ke depan seolah memperhatikan sesuatu padahal tatapannya kosong.


"Retno kamu mau ke mana apa punya tujuan? ini udah jam 9 lebih seperempat kalau mau nonton masih bisa kalau hanya jalan-jalan dan mutar-mutar mau ke mana?"


"Aku nggak mau kemana-mana aku hanya ingin ngomong serius sama Mas Prabu."


"Oke, kita cari tempat duduk yang nyaman dan tenang, kan kalau ngomong dari tadi enak gitu."


Sampai di taman kota yang masih banyak pengunjung muda mudi yang menikmati kegiatannya, ngobrol, skateboard, bersepeda atau hanya duduk-duduk juga jalan-jalan seperti dr Prabu dan Retno mereka menempati satu kursi tempat duduk yang lumayan enak buat bersantai.


"Langsung saja ngomongnya, apa Mas Prabu masih cinta sama aku?"


"Kenapa kamu tanyakan itu?"dr Prabu menatap Retno tak memperkirakan pertanyaan yang akan Retno lontarkan barusan.


"Itu bukan jawaban dan itu adalah pertanyaan juga." Retno gemes.


"Aku jawab ya! aku masih cinta pakai banget sama kamu selain cinta juga sayang dan ingin peluk terus, apalagi aku semakin sayang kalau kamu nggak marah-marah mulu."


"Stop! jawaban panjang banget aku bicara serius bukan lagi ngelawak."


"Ya aku siap jadi pendengar, dan lawan bicara serius kamu, di ajak serius malah cemberut diajak ngelawak marah juga."


"Aku ingin kejelasan."


"Soal apa?"


"Ya soal kita ngapain ngurusin soal orang lain, mau Mas Prabu seperti apa hubungan kita ini mau lanjut atau gimana?"


"Kamu tanyanya aneh-aneh aja." dr Prabu seolah biasa saja.


"Menganggap aneh seorang perempuan bertanya kejelasan?"


"Maksudku ngapain tanya begitu kan kamu sudah tahu aku serius dari dulu juga, aku belum ngambil keputusan dan langkah karena aku ingin selesai satu-satu permasalahannya, kamu selesaikan dulu KKN, sekarang malah tambah kamu mau mengundurkan diri kerja aku malah bingung sendiri menghadapi kamu yang marah-marah terus."


"Mas sendiri yang jadi gara-gara, aku nggak tenang dan akan selalu cemburu pada orang yang penasaran sama Mas."


"Memangnya aku nggak cemburu sama kamu? apalagi kamu selalu memanfaatkan kesempatan, aku ingin melihat chat kamu sama si Arya orang yang nggak jelas itu"


"Sembarangan yang nggak jelas itu ulat bulu yang ngintil Mas terus, itu orang centil bikin muak aja."


"Retno sudahlah, aku kenal baik sama orangtuanya jangan berlebihan memberikan predikat jelek pada orang lain,.hak dia mau suka sama aku atau sama siapa saja tapi kan aku nggak suka sama dia, aku sukanya sama kamu."

__ADS_1


"Tapi aku nggak suka dia cari perhatian Mas, dan orang seperti itu akan merasa penasaran!"


"Oke, akan aku lihat sampai dimana dia penasarannya sama aku, apa aku akan luluh dengan centilnya dia apa dengan pesonamu Retno!"


"Sana cari!"


"Tak mencarinya juga dia akan datang padaku, siapa tahu dia yang akan mengerti padaku tak sepertimu susah masuk pengertian dan hanya marah-marah nggak jelas."


"Oh, jadi benar ada keinginan Mas sama dia ya?!"


"Itu karena kamu yang mendorong aku terus dan menyalahkan aku."


"Jadi aku yang salah selama ini? Mas sendiri nggak salah pegang pegangan dempetan dan bertatapan senyum ketawa bersama apa itu semua maksudnya?"


"Ya aku nggak merasa salah, karena nggak ada gunanya alasan dan bela diri di hadapanmu, dan aku salah juga karena terlalu mencintaimu, cinta membuat aku salah dalam segala hal aku salah mengambil keputusan lima tahun lalu, dan salah juga sekarang ingin memperbaikinya, semua keputusan ada di tanganmu."


Retno diam dan tak memandang dr Prabu.


"Kenapa diam sudah bulat kah keputusanmu? apa kita akan menyiksa diri kita lagi? berapa tahun lagi? sepuluh tahun? dua puluh tahun lagi? belum cukup? jadi kapan mengerti nya?"


"Mas memojokkan aku seakan aku yang salah, padahal kita sama-sama egois dengan perasaan kita masing-masing."


"Stop! Retno bukan penyelesaian seperti ini yang aku inginkan, sekarang aku tanya, apa kamu juga masih cinta sama aku?"


"Kenapa Mas juga tanyakan soal itu?"


"Karena aku ingin tahu dan dengar sendiri dari ucapanmu."


"Sudah kita pulang saja."


"Kok jawabannya begitu?"


"Memang itu bukan jawaban!"


"Lalu? menggantung semuanya tak tuntas dan besok masih mau bersambung marah-marahnya?"


"Aku mau pulang."


"Aku mau jawaban itu!"


"Mas!"


"Terus?"

__ADS_1


"Aku mau tidur ngantuk capek."


"Tidur di sini!" dr Prabu menepuk dada sebelah kirinya.


"Nggak."


"Sana jalan pulang sendiri."


"Nggak lucu."


"Memang nggak lucu, apalagi sedang cemberut."


Selalu dan selalu begitu penyelesaian keduanya dari semua masalahnya tak ada kata selain kata mereka saling cinta tapi dua-duanya susah mengerti dengan ego-nya masing-masing, dulu perasaan nggak begini selalu ada jalan keluar setiap masalahnya tapi kini kok semua buntu banget entah dulu dan sekarang sudah beda lagi masalahnya? masa iya kan usia semakin dewasa harusnya semakin bijak menghadapai masalah? dr Prabu membiarkan semuanya di bawa arus yang mengalir.


Dr Prabu menggandeng tangan Retno dan menuju mobilnya mereka duduk dengan diam-diaman, dan sampai rumah suster Harni sebelum turun dari mobil dr Prabu masih ingin bertanya tapi melirik Retno sudah menguap, jadi urung untuk bicara lagi, perasaan sayangnya mengalah demi semua rasa damai yang di harapkan sejalan dengan harapannya wajah Retno berseri lagi.


Retno masuk ke ruangan paviliun kamarnya dan di susul dr Prabu, lalu dr Prabu duluan tiduran di tempat tidur Retno dan Retno menatapnya, dirinya yang sudah ngantuk tak rela tempat tidurnya di ambil atau harus berbagi degan orang yang bikin hatinya kesal dan marah.


"Kenapa? masih mau di sambung marahnya?"


Retno tak menjawab hanya duduk di pinggir tempat tidur dan dr Prabu memeluk punggungnya dari belakang lembut dan di rasa Retno diam saja dr Prabu bangun dan menaruh kepalanya di pangkuannya.


"Jangan marah lagi ya sayang, aku kangen sama kamu."


"Memang kita habis berpisah?"


"Haaaaaaaa...emang yang kangen itu harus berpisah dulu?"


"Nggak ada keharusan tapi idealnya begitu."


"Aku mau beda lain dari yang lain, terserah aku, atau jangan-jangan mau berpisah lagi? aku nggak akan sanggup sayang."


Sejuta angan melayang memenuhi ruang otak dan fikiran Retno entah seperti apa, tak bisa di jabarkan dengan gamblang, tapi satu yang terasa mengalir nyaman saat dirinya di dekat dr Prabu.


"Sudah bisa jawab pertanyaan terakhirku tadi?" dr Prabu bangun dan duduk berdempetan dan tak ada jarak diantara mereka.


Retno melirik dan dengan jarak beberapa centimeter terasa hangat nafas dr Prabu yang sedang memandangnya dari samping, Retno agak gelagapan dan mau memalingkan lagi mukanya tapi sebelah tangan dr Prabu menahannya, perlahan dan sangat perlahan muka itu tak ada jarak lagi dan sentuhan selanjutnya kelembutan yang di rasakan Retno dan mereka mengulang dengan penuh perasaan seperti saat tadi siang di ruangan dr Prabu di rumahsakit itu.


Dua kali dalam sehari ini dr Prabu menyentuh Retno dan yang di rasakan semakin mendalam saja rasa hatinya.


Sama-sama menikmatinya lupa marah dan kecewa dan lupa segala problematika yang ada hanya perasaan yang tumpah dan tercurah.


Happy readingโค๏ธ๐Ÿ˜˜๐Ÿ’๐Ÿ˜๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2