Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Bukan masalah gampang


__ADS_3

Dr Prabu sebagai direktur dan pimpinan di rumah sakit itu telah menyampaikan pidatonya dan kembali ke tempat duduknya. Tak lupa pembawa acara mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi apa yang telah disampaikan pimpinan kali ini dan lanjut menginjak kepada acara selanjutnya.


Dr Prabu berjalan beriringan bersama Retno dibelakangnya melewati tamu-tamu kehormatan dan tamu-tamu undangan yang hadir pada acara itu dan menyapa semua yang ada di situ dengan anggukan dan senyuman.


Sepasang mata mengekor mereka dengan penuh kebencian ya itu sepasang mata Alya, tak lama setelah dr Prabu dan Retno berlalu Alya pun bersama Desty keluar dari ruangan itu.


"Lihat betapa sombongnya dr Prabu sama ceweknya itu Des!"


Alya menghempaskan pintu mobilnya setelah mereka sampai di parkiran dan berniat mereka akan pulang.


"Ya elo yang salah tak lihat dulu sasaran lo itu seperti apa? gue jujur menyalahkan lo kalau sudah begini tipis harapan kita untuk memasuki celah mereka. Mereka mungkin telah lama berhubungan tanpa kita tahu."


"Jadi orang jangan sombong-sombong amat lah... melirik apa sama gue sedikit jangan seperti nggak kenal sama sekali."


"Stop Neng! nggak ada gunanya menyalahkan orang lain dan juga menyalahkan diri kita, yang kita cari adalah solusi dari permasalahan lo. Lo sendiri yang begitu lambat mengambil keputusan gue bilang dari kemarin-kemarin periksa perut lo apa susahnya tinggal kencing lalu celup testpack akan ketahuan ngapain harus nunggu lama-lama? biar ada kekuatan untuk bicara untuk menyampaikan keinginan lo sampaikan juga kepada orang tua lo agar semuanya jelas.


"Apa semuanya sudah terlambat Des? karena dr Prabu sudah punya cewek?"


"Sejak awal juga lo yang terlambat, karena lo mencintai seseorang yang sudah punya pacar. Dan satu lagi begonya lo adalah mengambil tindakan tanpa kompromi dulu sama gue."


Diam, hening...


"Terus mau lo sekarang apa? memisahkan mereka biar si Prabu bisa berbalik ke arah lo?


Al, Alya...Lo nggak mudah Al, juga belum tentu kamu itu hamil karena sampai saat ini belum lo periksa belum lo cek keadaan diri lo itu."


"Lah terus gue harus gimana sekarang Des?" Alya tampak bloon dan labil dalam mengambil keputusan.


"Baiknya menurut gue, lo cek dulu pastikan kalau lo itu hamil apa tidak dari kejadian waktu itu. satu pertanyaan jawaban ada dua lo hamil dan tidak hamil. kalau kejadian lo itu hamil sampaikan kepada orang tua lo, baru lo minta saran untuk menyampaikan kepada dokter Prabu gimana baiknya."


"Gue hitung-hitung dulu deh dari kejadian waktu itu biar gue nanti testpack ada lo, tapi gue meyakini satu hal Des."


"Jangan dulu berasumsi apapun, tapi ini perlu bukti yang jelas."

__ADS_1


"Di rasa gue waktu itu tidak akan sampai kejadian seperti ini Des."


"Ya itulah bodohnya lo berpikir tak jauh kedepan dan akibatnya. Jauh kalau berpikir Neng akan jadi masalah pelik yang melibatkan orang banyak. Laki-laki dalam keadaan marah bisa melakukan apapun apalagi lo dalam keadaan sama-sama bugil seperti itu ya lo di embat nya."


Alya hanya diam merasa dirinya bodoh dan tanpa perhitungan.


"Jangan menganggap gampang masalah ini Al, ini sudah menyangkut kehidupan orang, harga diri orang, kehormatan orang tua kamu dan yang paling penting adalah masa depan kamu akan seperti apa kalau seperti ini? semua tindakan kamu itu sungguh-sungguh aku tidak mengerti."


"Ya sudah, jangan memojokkan gue terus dong Des, udah gue jadi korban terus tak ada solusi untuk pemecahan permasalahannya, lo memojokkan gue melulu gue malah labil nggak ada yang bisa dipegang."


"Korban kata lo? itu korban jerat lo sendiri Alya."


"Sudah kita ke cafe aja, pusing jadinya."


"Nggak ke kantornya Pak dr Prabu dulu?" Desty mencoba menggoda Alya, tetapi yang di goda tetap dia tidak ada ekspresi apapun.


"Gue jadi pengen getok sekarang kalau lihat muka dia." Alya memukul-mukul stir di hadapannya.


"Haaa...bukannya lo cinta banget sama dia?"


"Pelan kan mobil lo oneng! lo cari celaka? gue masih suka senang-senang dan bebas menghirup udara, gue belum nikah, dan satu lagi belum merasakan sesuatu di malam pertama. Kalau lo mau bunuh diri sendiri aja sana jangan ajak-ajak gue."


"Gue uji nyali dan adrenalin lo katanya nggak takut apapun Des, tapi baru kecepatan segini juga lo udah ngancam."


"Ini jalan raya oneng kalau lo mau kebut-kebutan sana cari sirkuit dan bukan ngajak gue. Juga bukan di jalan raya dalam keadaan banyak kendaraan seperti ini, mau bunuh diri sana trek-trekan tengah malam di jalan raya sepi bebas injak pedal gas lo sekencang kencangnya."


Alya memelankan laju mobilnya tersenyum sarkas entah pada siapa yang pasti pikiran dan otaknya saat ini sangat kalut dan buntu.


Masih terbayang wajah dingin dr Prabu saat melewati dirinya yang tak sedikit pun melirik kearahnya seakan keberadaan dirinya tidak ada di dalam hidupnya, yang padahal Alya tahu dr Prabu sempat menatap keberadaan dirinya saat duduk tadi. Wajah dingin dr Prabu jelas tak sedikitpun memandangnya saat melewati dirinya dan tak sedikitpun melirik kearahnya, seakan keberadaannya tak pernah kenal sama sekali, sungguh menyebalkan.


"Kapan lo mau test Al? gue hanya ingin tenang dengan semua masalah yang sekarang sedang lo hadapi"


"Nanti gue pikirkan dulu cara gue menyampaikan semuanya pada ortu."

__ADS_1


"Perasaan lo gimana sekarang?"


"Gue merasakan hal aneh setiap bangun tidur Des, seperti pusing, mual, dan ngantuk melulu. Tidur nggak ada kenyang nya, apa itu sudah di kategorikan menjurus ke arah sana nggak sih?"


"Itu bisa aja lo malamnya begadang dan kurang tidur."


"Gue bisa bedain mana yang kurang tidur karena begadang, mana perasaan yang aneh dalam diri gue. Jadi gue seperti limbung aja dan seperti mabuk yang gue rasakan sekarang ini."


"Lo buka-buka nggak di mesin pencarian pengetahuan soal begitu pembuahan?"


"Makanya gue merasa yakin ini juga karena gue mencari, kalau habis begadang lain lagi bukan rasa seperti yang gue rasakan setiap bangun tidur."


"Gue saranin cepat dan akan lebih baik, biar nggak ngambang seperti ini, dr Prabu kalau tahu akan seperti apa reaksinya dan juga orang tua lo."


"Justru itu, yang gue belum siap selama ini Des. Gue nggak bisa bayangin perasaan Ibu gue, kecewanya akan seperti apa, gue takut dia sakit"


"Yah... apapun itu semua sudah terjadi semua sudah kejadian, tidak ada yang bisa dihindari semua mesti dihadapi."


Alya memarkir mobilnya di area parkir cafenya, seperti orang yang begitu tertekan dan putus asa. Mobil belok sekaligus sampai berdecit dan di rem sekaligus hingga Desty mengumpat-umpat saking kagetnya.


"Aaaaaaah... stop oneng, bawa mobil sama parkir kayak kesetanan malas gue naik mobil lo lagi!"


"Buktinya lo selamat sampai sini haaaa...ayo kita rayakan malam ini kita pesta sesuka hati kita di tengah masalah yang membelenggu, bebaskan diri kita dari beban hati yang begitu berat Woooooi.....!"


"Dasar gila!"


Alya masuk ke cafenya dan langsung naik ke atas kamarnya di lantai dua cafenya sambil tertawa-tawa seperti orang mabuk. Lalu melempar tasnya sembarangan naik ke tempat tidur dan loncat-loncat di sana seperti anak TK yang begitu kegirangan atau marah saat keinginannya tidak dikabulkan oleh orang tuanya.


Desti yang melihatnya dan menguntit di belakang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu yang seperti sudah kehilangan akal.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta habis baca...

__ADS_1


..."Biarkan Aku Memilih" Jangan lupa mampir ke karya bertitel : "I'M A Night Butterfly" author "gupita" sahabat baikku sangat berbakat, baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!...



__ADS_2