Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Seperti pintu yang terbuka


__ADS_3

"Vionna, maafkan Aku. Memang Aku sangat menjaga sikap dihadapan kedua orang tuaku, tapi hatiku tak bisa pura-pura seperti orang lain, orangtuaku tanpa meminta dulu persetujuanku mereka bertindak sesuai keinginannya tetapi Aku sebagai Anak tidak bisa menolak dan berontak juga marah terhadap orang tua, Aku tetap menghormatinya," ujar dr Imam mulai dengan pendapatnya.


Walau tidak setuju dengan semua yang di lakukan kedua orang tuanya dr Imam tetap semua itu harus di hargainya, kalaupun suatu saat dirinya akan jujur dan terbuka tidak setuju harus memilih waktu dan cara yang tidak menyinggung dengan sedikit sedikit memberi pengertian.


"Aku tahu sikap Mas seperti itu tidak suka, terlebih terhadapku tapi kenapa tidak kita coba dulu? bukalah hati Mas apa yang tidak suka dariku? mungkin Aku bisa perbaiki, kalau memang ada yang tidak suka," jawab Vionna sambil melirik dr Imam di sampingnya.


"Masalahnya bukan tidak suka yang ada di dirimu ini maslah hati Vionna, Kamu itu berlalu sempurna menurutku tak ada kurangnya, baik dari fisik dan kepintaran Kamu semakin mempercantik penampilan dan pembawaanmu," jawab dr Imam. Memang adanya begitu.


"Makanya enjoy aja dulu seakan diantara kita tidak ada apa-apa, Aku tidak mengharapkan rasa itu instan datang, perlu waktu untuk saling adaptasi dan saling mengerti satu sama lain, dan nanti seandainya kita sudah bersama rasa itu semoga datang dengan sendirinya itulah yang kita harapkan," ucap Vionna memang masuk akal dan cerdas dalam jawaban nya.


Tapi dr Imam begitu tak bisa untuk gamblang mengatakan kalau di hatinya ada seorang Intan yang tak bisa tergantikan.

__ADS_1


Betapa sulit bagi dr Imam untuk berkelit dan menghindar, apalagi bicara kalau dirinya sudah punya kekasih di depan Vionna terasa semua akan serba salah, dan sangat menjaga perasaannya walau dr Imam punya perkiraan kalau Vionna akan siap dengan segala kemungkinan, tapi menjaga perasaan hati apalagi seorang perempuan sungguh suatu yang sulit bagi dr Imam.


"Vionna maafkan Aku," ucap dr Imam perlahan.


"Kenapa harus meminta maaf, untuk kesalahan apa? Kita baru saja memulai, kalau Mas sudah meminta maaf berarti selama ini Aku di sini juga salah, kalau hubungan sudah diawali dengan permintaan maaf tak akan nyaman untuk selanjutnya. Diantara kita tidak ada yang salah kedua orangtua kita juga mereka tidak salah, hanya kita belum mengerti dan menerima satu sama lain, juga kita belum tahu arah mana selanjutnya akan seperti apa hati kita kedepannya, kenapa tak kita berteman saja dulu toh Aku tidak menuntut hari ini pernyataan cinta dari Mas Imam kok!" jawab Vionna panjang dan ada benarnya juga sepintas, tapi ada harapan di ujung kata-katanya.


Semakin bingung saja dr Imam di hadapkan pada kenyataan ucapan Vionna yang seakan menghakiminya. Sedang di saat lain menuntutnya juga.


"Begitu dong, apa susahnya, tadinya Aku kalau melihat Mas Imam begitu tak mengerti besok Aku akan pulang Aku sudah bilang pada Ibu tapi Ibu Mas Imam melarang," jawab Vionna sambil tersenyum menyandarkan kepalanya di bahu dr Imam seakan pernyataan tadi adalah pintu yang di buka untuknya.


Dr Imam semakin bingung lagi akhirnya pasrah pada keadaan dalam tatapan empat pasang mata Retno dan dr Prabu yang saat itu juga makan di tempat itu tanpa sepengetahuan dr Imam.

__ADS_1


Sejak dr Imam dan Vionna datang sampai duduknya dr Prabu sama Retno sudah melihatnya tapi mereka hanya diam dan saling berpandangan dan berusaha makan setenang mungkin berharap semua yang dilihatnya tak merusak selera makan mereka.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2