
"Retno, kita sudah sampai apa yang harus aku lakukan?"
"Oh alah Mas, biasa aja walau sama aku juga deg-degan heee..."
"Retno, aku grogi banget."
Retno menatap wajah dr Prabu, mengusap pipinya dan menyimpan tangannya di bahu laki-laki yang sangat di cintainya.
Retno ingin memberi kekuatan dan meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja.
Retno memijit kembali klakson di depan dr Prabu, tak lama tergopoh-gopoh seorang laki-laki paruh baya muncul dengan sedikit menunduk mau membukakan pintu gerbang itu.
Retno membuka kaca mobil di sebelahnya untuk meyakinkan kalau yang datang itu dirinya.
"Pakde Boyo, ini aku Ajeng maaf tolong bukakan pintunya."
Dengan sikap masih tak memperlihatkan muka dengan seutuhnya laki-laki itu yang disebut Retno adalah Pakde Boyo langsung membukakan pintu.
Lalu mempersilahkan masuk. Pakde Boyo berdiri di samping pagar sambil menunduk. Kedua tangannya di simpan bertumpuk di bawah perutnya.
Sampai di halaman pelataran dalam mobil berhenti, dr Prabu mematikan mesin mobilnya. Sekali lagi Retno melirik dr Prabu yang masih saja agak gugup.
Retno mengerti, lalu menepuk pundaknya dan mengusap rambut dr Prabu sambil tersenyum.
"Yuk kita turun, ikuti aja gimana aku nggak usah tegang orangtuaku nggak makan orang, semoga Romo sama Ibu belum tidur."
"Iya Retno, biar aku merasa plong kalau sudah bertemu dan melewati pertemuan dengan orangtuamu."
Retno turun duluan di susul dr Prabu menutup pintu mobil lalu mengekor Retno.
Retno menunggu dr Prabu agar bisa berjalan bersisian. Pakde Boyo berlari kecil membukakan pintu lebar-lebar buat anak majikannya.
"Makasih ya Pakde, Retno membungkuk dan Pakde Boyo sama juga lebih dalam lagi membungkuk sebagai jawaban dari ucapan Retno.
Retno masuk dengan langkah pelan, serasa asing di rumahnya sendiri. Dengan menyapu pandangan ke semua sudut ruangan seperti kembali ke masa kecilnya dulu.
Ada rasa sakit dalam dadanya setelah sekian tahun dirinya tidak pulang. Lima tahun kepergiannya hanya satu kali pulang saat di khabari keadaan Romo nya lagi sakit.
Saat itu otomatis sebagian besar waktu kepulangan Retno ada di rumah sakit, bukan di rumahnya.
Retno berjalan melewati ruang tamu menuju ke samping yang disebut ruang keluarga, datang Dimas Adiknya langsung menghampiri Retno.
Dada Retno terasa sesak dan berat melihat Adiknya yang sudah tinggi besar, bahkan Retno harus sedikit tengadah untuk memandangnya.
Bersimpuh dengan kaki di tekuk di hadapan Retno, Dimas menghalangi langkah Retno, dr Prabu bengong saja berdiri di samping Retno.
Retno merengkuh bahu Dimas dan menarik perlahan pundak Dimas, mengangkatnya berdiri lalu mereka berpelukan setelah Dimas mencium tangan Retno.
"Maafkan Dimas Mbak, selamat datang kembali di rumah kita, Kangjeng Romo sama Kangjeng Ibu begitu senang Mbak Yu Diajeng pulang."
"Mbak memaafkan kamu, Mbak juga minta maaf ya, bukan Kakak yang baik buat adik Mbak."
__ADS_1
"Iya Mbak. Ayo kita bertemu Romo sama Ibu, mereka menunggu Mbak Yu Diajeng."
"Eh...Dimas, ini Mas Prabu calon kakak ipar mu." Retno mengenalkan kembali dr Prabu walaupun mereka pernah bertemu dan berkenalan.
Dimas tersenyum, menyodorkan tangannya kepada dr Prabu lalu menariknya untuk berangkulan beradu bahu.
Bertiga berjalan entah ke ruangan mana lagi, menurut dr Prabu begitu rumit ruangan rumah model joglo megah itu.
Sampai pada yang di sebut ruangan keluarga yang sebenarnya, tampak Raden Haryo Atmojo dan Raden Ayu Tri Hapsari sedang duduk di sofa coklat kehitaman di hadapan TV yang menyala dengan suara kecil.
Raden Haryo Atmojo menatap Retno dan dr Prabu bergantian, dengan sekali anggukan dan mengangkat tangannya.
Retno berjalan cepat menghampiri Romo nya, bersimpuh sungkem di pangkuannya dengan isakan yang tak tertahankan lagi.
Pertemuan yang sekian lama begitu dirindukan Retno kini terlaksana sudah.
Raden Haryo Atmojo menitikkan air mata dan mengusap-usap kepala putrinya tanpa ada satu katapun terucap.
Raden Haryo Atmojo mengangkat kepala Retno, mengamati wajah putri kesayangannya dengan linangan air mata.
Putrinya sudah dewasa, yang selalu protes dengan segala kebijakannya, menolak segala keinginannya dan membuktikan bisa hidup dengan perjuangannya sendiri.
Kini datang, pulang masih dengan pendiriannya juga keinginan dan perasaannya yang kuat. Sama seperti dulu.
Lima tahun kurang lebih berpisah, pulang sekali saat dirinya sakit. Cukup memberi pelajaran bagi Bapak dan anak ini untuk saling introspeksi diri, dan menyadari semua kesalahannya masing-masing.
"Romo, ampunilah, maafkanlah Ajeng."
"Romo tidak salah, Ajeng yang salah. Ajeng ..."
"Ssssst... beri salam pada Ibumu." Raden Haryo Atmojo mengangkat telunjuknya.
Retno melirik pada Ibunya dan langsung pindah bersimpuh sungkem di pangkuan Ibunya.
Raden Ayu Tri Hapsari mencium beberapa kali pipi dan kepala putrinya, mengamati wajah Retno dengan linangan airmata, menarik kepala Retno ke dadanya. Memeluknya dengan erat.
Lama keduanya berpelukan dan ber-tangisan sampai mata dan wajah Retno sembab kemerahan.
Akhirnya Retno sadar ada Mas Prabu yang mungkin terabaikan. Reflek melihat ke arahnya. Dr Prabu lagi bersalaman dan mencium tangan Raden Haryo Atmojo Romo nya Retno, di saksikan Dimas yang masih saja berdiri.
Raden Haryo Atmojo menepuk-nepuk pundak dr Prabu.
Lalu dr Prabu beralih ke Ibunya Retno memberi salam dengan tangan di dadanya menjaga jarak.
"Duduk, duduklah. Gimana perjalanan kalian lancar?"
"Lancar Romo, malah kita sampai lebih cepat dari perkiraan." Retno menyeka airmatanya.
"Ya, ya ya..."
"Bu, Mana Mbok Sum? Ajeng belum di kasih minum juga tamunya."
__ADS_1
"Iya Romo, sudah Ibu kasih tahu, mungkin lagi bikin teh hangat."
"Nak Prabu, minumnya apa?"
"Apa saja Bu."
"Romo sekarang sehat lagi ya Bu?"
"Alhamdulillah, kalau rajin terapi dari dulu juga mungkin sudah sembuh, itu karena Romo mu malas saja."
"Tapi sekarang kelihatan segar kok Romo." Retno yang duduk di sebelahnya memeluk sebelah tangan Romo nya juga sambil menyandarkan kepalanya di bahu Romo nya, menunjukkan kalau Retno begitu merindukannya.
"Dia itu nggak bisa istirahat sama sekali, enggak bisa melihat pekerjaan, maunya turun tangan dalam segala hal." Ibunya Retno bicara tentang kebiasaan buruk suaminya.
"Sekarang, apa yang masih di rasa Romo?" dr Prabu bertanya seperti pertanyaan seorang dokter.
"Oh ndak, ndak ada yang di rasa lagi, selain lebih merasa sehat dan semangat." Raden Haryo Atmojo bicara masih dengan kharismanya.
"Ya syukurlah, tapi bukan berarti mengabaikan segala yang mengakibatkan timbulnya kembali penyakit Romo." dr Prabu tersenyum sambil mengangguk.
"Jangan lupa, istirahat yang cukup Romo." Retno menimpali.
"Ya sudah, Romo istirahat dulu, jangan lupa Dimas antar teman Mbak Yu mu ke kamarnya."
"Iya, Romo." Dimas menundukkan kepalanya.
"Di minum dulu Nak Prabu. Santai saja Ibu ngantar Romo istirahat ini sudah malam."
Retno sigap memberikan tongkat kayu yang berukir dan mengkilap di samping sofa, ikut membimbing Romo nya berdiri.
"Romo kuat kok, nggak usah khawatir. Temani saja dulu tamunya."
Retno berdiri, juga Dimas dan dr Prabu, memandang Raden Haryo Atmojo yang berjalan diikuti Raden Ayu Tri Hapsari di belakangnya.
Retno menghela nafas dalam-dalam memandang piyama batik yang di pakai Romo nya hilang di belokan tembok.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta habis baca Biarkan Aku Memilih...
...Jangan lupa mampir ke karya bertitel :...
..."KRISTAL NAGA PELANGI"...
...karya Eet Wahyuni Shandi baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya! cus.......
__ADS_1