Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Usai pesta


__ADS_3

Tak ada pesta yang tak usai, tak ada sesuatu pun yang sempurna, terkadang dalam hidup perlu introspeksi diri perlu mengaji diri dan ngaji rasa, juga sendiri untuk tafakur diri.


Semua yang terlihat begitu menyenangkan begitu indah ternyata hanya pandangan luar belaka, entah di dalamnya keropos atau sakit terkoyak seperti hampa nya perasaan dan pikiran Retno saat usai pesta resepsi pernikahannya.


Begitupun dalam perhelatan pesta resepsi Retno dan dr Prabu kali ini akhirnya usai juga. Pesta resepsi yang diawali dari mulai 09.00 selesai pada jam 17 seperti biasa ngaret sampai maghrib masih ada saja tamu yang datang terlambat saat semua hampir beres beres,dan pengantin sudah berganti pakaian.


Orang tua Retno dan semua kerabat dan saudaranya, telah berpamitan setelah sholat Ashar menjelang resepsi berakhir.


Ucapan selamat dan tangisan haru juga pelukan kedua orangtuanya terasa sakit di rasa Retno, kata-kata petuah dan pepatah mereka bagai ujung runcing belati yang menusuk tepat di jantungnya.


Apa yang dikatakan Ibunya sebelum pulang tentang ketaatan seorang istri terhadap suami, tentang bakti istri terhadap suami dengan pahala berlipat ganda, dengan kemuliaan yang tiada tara, bagaimana dicerna Retno semua terasa menjadi beban di pundaknya.


Betapa ingin Retno mengamalkan semua yang diucapkan Ibunya itu, dan menerapkan dalam kehidupan sehari-harinya, dalam rumahtangga yang di bangunnya.


Tapi yang di dapatkan dalam kehidupan nyatanya bertolak belakang dengan pandangan semua orang tentang satu kata bahagia. Rupanya kata bahagia belum menjadi suatu kebahagiaan yang sebenarnya di dalam kehidupan Retno dan di dalam rumah tangganya.


Rumahtangganya telah tercoreng oleh aib, dan noda hitam aroma kebohongan dan perselingkuhan.


Tak ada pilihan, selain aku akan keluar dari rumah ini sampai waktu menuntunku ke arah kepastian, juga memberikan satu harapan dan titik terang sehingga BIARKAN AKU MEMILIH jalan mana yang baik menurut kata hati dan perasaanku. Baik buruk semua adalah risiko yang akan aku hadapai. Aku tak mau hidup sama seorang yang menyembunyikan kebohongan dan penghianatan.


Haruskah aku bertanya malam ini? haruskah aku meminta kejelasan malam? akankah aku siap mendengar pengakuan dan kejujuran yang mungkin sangat menyakitkan dari seorang suami yang sangat aku cintai?


Waktu seusai resepsi adalah waktu yang sangat ditunggu bagi setiap pasangan, tapi kenapa yang menimpaku seperti ini?


Apa salah dan dosaku? apa aku terlalu mencintai Mas Prabu, kenapa rasa cinta itu begitu menyakitkan? saat rasa itu terbang dibawa entah kemana.


Perasaan dan hati Retno berkecamuk berperang menarik dan mengulur, hingga sampai pada keputusan malam ini harus aku tanyakan! untuk apa berlama-lama? malam ini atau malam kapanpun sama saja tak akan merubah pertanyaan dan jawaban. Sebelum semuanya terlanjur sebelum semuanya menjadi lebih menyakitkan lagi.


Tapi keinginan itu diurungkan kembali karena di rumah masih ada kedua orang tua Mas Prabu yang kini telah menjadi mertuanya juga saudara-saudaranya masih ada di sini dan juga kerabatnya yang lain. Hatinya kembali melunak mencoba bersabar di dalam keterpaksaan.


Retno duduk di sisi tempat tidur sambil meninggikan kepalanya dengan ditopang bantal, melihat ponselnya yang penuh dengan pesan dan panggilan-panggilan.


Hatinya tak tenang, pikirannya melayang tak karuan, dalam hatinya terus saja beradu pendapat. Satu kebohongan kecil yang dirinya lakukan terhadap suaminya hanya untuk menghindari agar suaminya tidak menyentuhnya, begitu merasa bersalah. Tetapi entah kenapa kebohongan besar yang Mas Prabu sembunyikan sejak dari sebelum menikah begitu menjadi beban di dalam hidupnya.


Semakin di ingat semakin bertambah rasa benci yang semakin ingin segera mendengar penjelasan apa yang akan dikatakan suaminya nanti.


Seorang wanita mengaku hamil atas perbuatannya, mengandung darah daging suaminya, apa seharusnya yang di lakukan sang istri, dan bagaimana harus menyikapinya?

__ADS_1


"Sayang, makan dulu yuk, kelihatannya dari tadi kamu tidak makan apa-apa, kebetulan kan masih ada Ibu bapak juga Intan bagaimana kalau kita makan malam bersama?"


"Aku nggak lapar Mas."


"Tapi setidaknya hargai mereka, kita turun yuk! walaupun cuma nemenin aku."


Retno tersenyum dan mengangguk, hatinya luluh kalau menyangkut kata orangtua.


Dr Prabu menyodorkan tangannya dan di sambut Retno dengan perasaan lunglai.


"Jangan lihat berantakannya ya, karena malah akan menghilangkan selera makan dan selera tidur juga istirahat kita, biarkan semuanya nanti juga akan beres pada waktunya, bekas pesta memang seperti ini."


Dr Prabu merangkul pundak Retno sambil mengecup samping kepalanya. Mereka turun satu langkah satu langkah mencoba mengimbangi langkah Retno yang tidak sama dengan langkahnya yang panjang-panjang.


"Kamu masih belum mood sayang? aku nggak sabar menunggunya."


"Kalau nggak sabar, nggak akan menemukan sesuatu yang kita inginkan."


"Sepertinya begitu tak berpihak padaku sayang, masa hanya satu malam saja sekarang sudah harus jeda berhari-hari penantian yang sangat menyebalkan."


"Enak aja, membiarkan aku sendiri? oh tidak! yang satu kecuali tapi masih bisa yang lainnya."


Retno hanya manyun dan di sambut tertawa suaminya.


Dr Prabu memanggil Bi Iyah untuk menyediakan makan malam mereka dan menemui kedua orangtuanya.


Retno berusaha membantu menyediakan makanan dan menatanya di meja, masih begitu banyak makanan yang tersedia.


Dr Prabu melarangnya,tapi Retno berkeras hati untuk bisa melayani suaminya sendiri, entah esok hari menurut kata hati Retno.


Semua telah berkumpul di meja makan tak terkecuali Intan dan dr Imam SpOG yang belum pulang karena masih banyak yang perlu dibenahi.


Dengan dipimpin Bapaknya dr Prabu, serta ucapan do'a semoga ada keberkahan dari makan bersama ini, terutama untuk kelancaran dan kebahagiaan rumah tangga anaknya bersama Nak Retno.


"Bapak sama keluarga paling pulang besok Nak." Bapaknya dr Prabu bicara sambil memandang anak laki-lakinya di sela suapannya.


"Masih mau beberapa hari di sini juga nggak apa-apa."

__ADS_1


"Rahma yang masih mau di sini Bu boleh Kak Prabu?"


"Ssssssssst...nggak, kamu sekolah besok itu Rahma, lagian pulangnya mau sama siapa? Kakakmu mungkin sibuk setelah sekian hari tidak masuk kerja."


"Kata Kak Imam, Rahma mau diantar katanya sambil apel ke Kak Intan."


"Alah, alah... kamu itu ada-ada aja, apelnya kapan?" Ibunya menengahi sambil menyampaikan tak setujunya pada Rahma."


Dr Imam dan Intan hanya tersenyum melihat Rahma yang cemberut."


"Nanti kamu liburan kakak jemput, mau berapa hari di sini? kita jalan jalan ya kan sayang? dr Prabu menghibur Rahma sambil bertanya dan melirik Retno


Retno mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.


"Kak Prabu, Mbak Retno kita buka kadonya sekarang ya habis makan, Rahma pengen tahu isinya."


"Ish...itu semua buat kakakmu, mereka masih capek biarin besok-besok lagi sampai Kakakmu punya waktu." Ibunya kembali mengingatkan pada anak bungsunya yang serba ingin tahu.


"Iya Rahma, kita buka habis makan biar semua tahu apa isinya, tapi sebagian aja ya, Mbaknya capek banget biar istirahat dulu." Retno begitu bijaksana pada adik ipar perempuannya.


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


Hai, readers tercinta! habis baca


"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, MENITI PELANGI


By Enis Sudrajat juga, baca, like,


vote dan beri hadiah ya!


__ADS_1


__ADS_2