Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Merasa malas


__ADS_3

Paginya.


Dr Imam bangun dengan malas, apa yang diucapkan Ibunya semalam membuatnya tambah malas saja menghadapai hari ini.


Basa-basi ramah-tamah berkenalan, ngobrol tukar cerita makan-makan ujung-ujungnya perjodohan itu yang ada di pikiran dr Imam, tapi tak bisa berkelit hari itu orangtuanya tahu hari liburnya, praktek di gantikan dokter lain karena biasa dr Imam kalau malam minggu suka berkunjung ke tempat Intan, kecuali ada hal urgent ada penanganan pasien darurat atau operasi mendadak dan mendesak baru di diperbantukan.


Mau mencari alasan juga percuma, Ibunya pasti akan datang ke rumahsakit atau menelepon pihak rumahsakit, tak ada pilihan selain pasrah pada keadaan sambil dr Imam juga pengen tahu bagaimana Vionna kini, cantik? apa secantik Intan? sesuai seperti yang diceritakan Ibunya? cantik, baik, lembut, sopan, ramah, pintar, terpelajar, dewasa, berkarir cemerlang dan yang paling utama masih ada kaitan saudara.


Membayangkan Vionna tak habis rasa penasaran dr Imam, walau dalam keadaan malas tetep aja dokter Imam akhirnya bangun dan duduk di tepi tempat tidur malah meraih ponselnya melihat ada chatting dari Intan yang biasanya dengan sapaan lembutnya ada saja perhatiannya, kalau nggak pesan mesra, menelephon sudah jadi rutinitas mereka kalau tidak dr Imam yang selalu rutin menghubunginya.


Rasa bersalah yang begitu besar pada Intan akan dirinya buktikan nanti malam, akan datang ke Bandung setelah acara keluarga ini selesai. Mungkin bisa mengobati hati Intan.


Ingin melihat lagi senyum yang merekah menggetarkan hatinya, wajah yang merona saat dirinya menggodanya, dan saat pulang ada pelukan sayang dan ciuman mesra yang membuat dr Imam selalu tersenyum sepanjang jalan pulang.


Sikap manja Intan membuat kangen selalu, walau baru kemarin mereka bertemu, tapi kemarin Intan pulang dengan air mata dan mungkin kemarahan pada kenyataan, sikap tak menerima kedua orangtuannya dr Imam membuat Intan trauma dan berubah sikap menjadi banyak diam. Hati dr Imam juga sakit dan terluka, apalagi kata-kata saat Intan mau pulang membuat dr Imam hanya diam.


'Kalau itu pilihan terbaik menurut orangtua Mas Imam, tak apa Aku yang mengalah, orangtua bukan untuk di tentang, semua perintah adalah titah yang harus ditaati, betapapun itu bertentangan dengan hati nurani kita, tapi kalau ada kuasa menolak Aku ingin tetap menghargai mereka, dengan perlahan kita bisa menolaknya dengan alasan yang harus di pahami,' ucap Intan di sambut genggaman tangan dari dr Imam.

__ADS_1


Intan menjadi tak banyak bicara setelah tahu alasan kenapa kedua orangtuanya bersikap tidak menerima Intan saat dr Imam memperkenalkan dan membawa Intan ke rumahnya, dr Imam meminta maaf dengan penuh harap Intan bisa mengerti kalau itu adalah kesalahannya belum bisa meyakinkan kedua orangtuanya kalau bersama Intan hubungan mereka begitu serius.


Tapi giliran mau serius orangtuanya sudah punya pilihan lain bagi putra kebanggaan satu-satunya.


Harapan indah yang sekian lama mereka angankan kini semakin pupus terutama di hati Intan, menunggu dalam ketidakpastian hanya janji dr Imam tak ada kepastian mungkin hanya menghibur hatinya Intan.


tok tok tok


Dr Imam kaget lamunannya terlalu panjang dan tak bertepi, pintu di ketuk menjadi buyar semuanya.


"Iya Bi, Aku sudah bangun." Dr Prabu bangkit dengan malas lalu membuka kemejanya yang sejak kemarin masih menempel di badannya, mungkin kalau Ibunya tak masuk kamar sepatunya juga masih melekat di kakinya.


Mandi dan langsung berpakaian kembali dr Imam berdandan alakadarnya, tapi tak urung juga memilih pakaian terbaiknya pakaian santai tapi sopan dengan warna kesukaannya menambah gagah dan ganteng penampilannya.


Keluar kamar terlihat lengang seisi rumahnya, entah pada kemana cuma meja makan penuh dengan berbagai hidangan entah apa dr Imam terasa tidak lapar.


Berjalan melewati ruang keluarga dan ruang tamu semua ditata dengan baik dan rapi, kenapa orang yang seakan belum di kenal dengan nama Vionna tapi di sambut begitu istimewanya? Berbanding terbalik dengan penyambutan pada Intan, di situ dr Imam merasa hatinya begitu sakit.

__ADS_1


Duduk di teras depan yang di meja kecilnya sudah ada surat kabar pagi, dr Imam meraihnya dan tenggelam dalam informasi berita hari itu.


"Dokter mau minum apa?"


"Apa aja," sahut dr imam tanpa melirik


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2