
"Sayang, apa tadi Intan cerita soal semalam?"
"Iya mas kenapa sepertinya Intan marah gitu ya? yang Aku tangkap seperti kesal sam dr Imam juga pada orangtuanya yang seperti tidak memberi pandangan bagus pada hubungan mereka," sahut Retno memberikan pandangan
"Oh begitu ya? tadi juga dr Imam mengatakan tentang Intan yang ngambek, tetapi tidak menjelaskan kalau sikap orang tuanya seperti itu mungkin nanti Aku tanya sebenarnya ada apa." jawab dr Prabu dahinya seperti berpikir kira-kira masalah apa yang lagi di hadapi Adiknya.
Yang pastinya, pasti ada alasan kenapa orang tuanya bersikap seperti itu mungkin bukan karena faktor Intan semata pasti masalahnya ada di dokter Imam sendiri. Tapi dr Prabu tak bisa menebak kira-kira apa yang membuat semuanya jadi tak nyaman di Intan.
Sampai saat ini di ingat ingat rasanya Intan baru pertama kali di bawa dan dikenalkan pada orang tua dr Imam, kecil kemungkinan orangtua dr Imam marah karena Intan, kesimpulan sebenarnya selama ini Antara dr Imam dan orangtua nya ada masalah sebelumnya.
"Ya sudah Aku mandi dulu ya, sepertinya nanti dr Imam ke sini. Aku makannya tunggu Intan sama Bi Iyah kita makan bersama nanti sambil bicara pelan-pelan sama Intan." dr Prabu bangkit tapi sebelumnya mencium dulu perut Retno entah kenapa seperti aneh banget di pandangan Retno. Tapi Retno hanya diam saja membiarkan suaminya bermanja dengan buah cinta mereka yang masih ada dalam perut.
"Iya Mas. Aku turun duluan ya!"
"Nanti saja bareng turunnya, mandi sebentar ini di bawah kan nggak ada siapa-siapa tunggu aja di sini kalau nggak mandi lagi yuk!" dr Prabu malah nyengir memasang wajah tampannya.
"Ih Mas apaan? nggak lihat kalau Aku sudah cantik begini? jangan ah takut masuk angin mandi sore-sore." jawab Retno kontan menolak walau tahu itu ajakan bercanda.
Dr Prabu masuk kamar mandi, Retno berkeliling ke balkon depan, banyak kenangan di sini saat dulu dirinya berkunjung dengan status belum menikah banyak ketakutan yang dirinya rasakan saat itu.
Kelihatan dari atas Intan sama Bi Iyah datang dengan berboncengan motor. Senang rasanya kalau ada Intan di sini terasa rumah jadi ramai.
Tapi entah kenapa sejak semalam Intan kelihatan agak murung, Retno tidak tahu seberapa serius permasalahan yang Intan dan dr Imam hadapi, semoga saja bukan hal yang serius yang membuat Intan tetap senang berkunjung dan berada di rumahnya seperti saat ini.
"Aku sudah wangi juga Sayang." tiba-tiba dr Prabu memeluk Retno dari belakang kala Retno asyik melihat pemandangan sore dari atas, ingin rasanya Retno punya kolam renang di depan rumahnya bukan hanya kolam ikan yang selalu Pak Min dan suaminya sambangi sambil memberi makan ikan-ikan kesukaannya.
__ADS_1
"Mas, Intan sudah datang Aku lapar makan yuk, Aku harus makan sebelum malam untuk jaga kesehatan."
"Yuk turun...."
Dengan rasa sayang yang tak terhingga dr Prabu memperlihatkan perhatian ekstra, apalagi saat ini Retno lagi isi tujuh bulan masa yang paling senang memanja istri dengan curahan kasih sayang yang tak terbatas.
"Mbak, Intan beli sirsak juga buahnya kelihatan bagus-bagus besok kita juice siang-siang sepertinya enak banget." Intan langsung bicara saat melihat Retno turun sama Kakaknya.
BBoleh Tan, apa aja semua buah Mbak suka, sekarang juga juice boleh buat di minum nanti ganti cemilan kan itu sehat ya Mas?" Andhini menjawab Intan sambil melirik suaminya, dan langsung dapat anggukan kepala dr Prabu.
"Mana nih hasil karya Ibu hamil sehari ini katanya ada nasi istimewa?" dr Prabu duduk di salah satu kursi meja makan.
"Ih, Mas. Aku hanya bantuin saja yang bikin Intan sama Bi Iyah ," jawab Retno sambil membuka tudung saji.
"Tapi kan Bu dokter yang kasih petunjuknya, Bibi sama Neng Intan hanya mengerjakan saja," sahut Bi Iyah. Merasa kalau Retno yang lebih punya peranan dalam memasak apapun, semua masakan yang Bi Iyah pasak semua datangnya dari ide Retno, kecuali kalau Retno menyerahkan baru Bi Iyah masak sambil bingung sendiri.
Mereka makan dengan nikmat, bukan hanya makanannya tapi kebersamaan yang begitu mereka nikmati, tak perduli Bi Iyah sama Pak Min, juga Intan semua duduk bersama satu meja makan, walau keseringannya Bi Iyah sama Pak Min makan di belakang di meja yang ada di luar dapur sambil memberi makan ikan-ikan. Sesekali Pak dokter mengundang harus makan bersama seperti saat ini.
"Intan, kamu nggak tunggu dr Imam makan kok sekarang?" tanya dr Prabu pada Intan yang asyik dengan makanannya.
"Enggak, mungkin Mas Imam sudah makan," sahut Intan cuek saja.
"Ya di tanya dulu lah, tawari jangan makan dulu kalau mau ke sini, karena di sini ada paksakan istimewa," ujar dr Prabu, sambil melirik Retno di sampingnya yang tersenyum mengiyakan ucapan suaminya.
"Aku nggak komunikasi sehari ini, lagi malas!" sahut Intan wajahnya langsung tak berseri, kebetulan makannya sudah selesai duluan, lalu minum dan berdiri membawa piring kotor ke tempat cucian.
__ADS_1
Dr Prabu melihat punggung Intan sambil mengerutkan dahinya sepertinya ada yang serius, tapi dr Prabu belum jelas melihat permasalahannya seperti apa, dari Intan juga dari dr Imam sendiri dua-duanya belum terbuka, atau malah mereka tak akan terbuka memilih menyelesaikan masalahnya sendiri.
Pak Min pamit juga duluan, Bi Iyah membawa piring dan tempat makanan yang kotor ke dapur, tinggal Retno yang masih makan di tungguin dr Prabu yang begitu senang melihat cara istrinya makan kelihatan begitu nikmat.
"Lagi ya Sayang? kan buat berdua, makannya harus banyak," Dr Prabu mengusap punggung Retno yang menggeleng sambil melihat istrinya minum, kelihatan apapun yang masuk terasa enak, begitulah kalau menjalani kehamilan dengan sehat.
"Duduk saja dulu jangan langsung berdiri biarkan makanan turun, baru ke depan biar nggak gerah." dr Prabu mengingatkan.
"Mas, apa dr Imam tak bicara soal semalam kenapa Intan ngambek begitu?" tanya Retno sambil perlahan mengelap meja dan mendorong ke samping piring bekas makannya.
"Aku tanya tadi, tapi seperti tak jelas begitu, biarin lah mereka sudah pada dewasa, tahu cara menyelesaikan masalahnya sendiri," jawab dr Prabu sambil berdiri menunggu Retno yang habis menyimpan piring ke belakang.
"Aku juga tadi siang tanya sama Intan, sepertinya yang Intan permasalahkan adalah sikap orang tua dr Imam yang kurang menerima Intan, itu aja!" sahut Retno sambil jalan ke teras depan.
"Kita lihat dulu permasalahannya."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️