
Akhirnya semua keluarga Vionna pulang, dan benar saja menyisakan Vionna sendiri yang tanpa dosa menginginkan seminggu cuti dan liburan di kota ini.
Apa daya dan tak ada penolakan dari Ibunya dr Imam, malah senang kelihatannya di rumah jadi ada teman, masak ngobrol, mengurus tanaman hias dan menemani apa saja kegiatan perempuan.
Dr Imam tahu apa tujuannya selain untuk lebih dekat dengan keluarganya terutama Vionna ingin menyelami dirinya dari dekat dari segala segi mencari kecocokan.
Entah bagaimana kesepakatan orangtua mereka dr Imam tak perduli, yang penting orangtua Vionna dan Kakak Kakak beserta iparnya sudah pulang duluan.
Seperti apa nantinya perlu dipikirkan lagi. Satu kali bohong pada Intan mungkin akan di sambung dengan kebohongan lainnya nanti selama seminggu ini. Dr Imam menarik nafas dalam-dalam begitu dilema semua yang harus di lakukannya.
Mungkin Intan juga akan sibuk dengan kegiatan skripsi yang sudah berjalan dari kemarin-kemarin.
Dr Imam melihat Vionna lagi bantuin Ibunya di dapur kelihatan begitu cekatan apapun dilakukannya tapi semua tak berhasil membuat hatinya simpatik hanya ada pertanyaan besar di dalam hatinya memang harus dengan cara seperti itu untuk menarik perhatiannya?
Sesuatu yang sia-sia bagi dr Imam kalau Vionna mencari perhatiannya dengan cara liburan di sini, hatinya sudah tidak tertarik dengan siapapun selain Intan di hatinya, Intan segalanya walaupun jauh beda usia tapi Intan begitu dewasa dalam bersikap, kadang dr Imam juga merasa kalau Intan terlalu dewasa dari usianya.
Senyumnya, manjanya kadang ngomongnya begitu ketus tapi bikin gemes, saat dr Imam menggodanya ada rona merah di wajah cantiknya.
Haruskah semua hari yang telah begitu indah mereka isi hilang begitu saja? haruskah semua rencana indah berdua pupus tak tersisa? sungguh semua Itu tak rela dr Imam dan harus ada keseriusannya untuk memperjuangkan perasaannya juga menjaga perasaan Intan.
Dr Imam pura-pura duduk dan membaca surat kabar yang entah keluaran hari apa di meja makan pagi itu.
"Biasanya Mas Imam suka sarapan Bu kalau sebelum berangkat kerja?" tanya Vionna sambil mengambil tempat makanan dari lemari piring dan peralatan lainnya.
"Harusnya begitu, tapi kadang bandel juga dengan banyak alasan nanti aja, belum mau, atau, sebentar lagi, kadang sarapan juga walau tak seberapa," jawab Ibunya dr Imam sambil tersenyum pada Vionna.
__ADS_1
"Bu, memang Mas Imam kalau kerja bisa punya waktu kalau Aku minta diajak jalan jalan?" sambung Vionna lagi.
"Mesti bisa dong, masa Ibu yang antar? nggak lucu tentunya, bisa juga Nak Vionna ikut saja ke tempat Nak Imam kerja banyak teman kerjanya dan bisa berkenalan hitung-hitung penyesuaian," sahut Ibunya sambil tersenyum pada Vionna.
Dr Imam yang mendengarnya jadi jengah sendiri, Vionna masih berpakaian pakaian tidur pasti belum mandi kalau di tungguin pasti lamanya nggak ketulungan bisa jamuran menunggunya jadi dr Imam langsung meninggalkan meja makan dan berdandan dengan stelan jas dan seperangkat pakaian kerja lengkap.
Langsung turun dari kamarnya dengan membawa tas kecil di tangannya siap pamitan.
"Bu Aku ada penanganan awal dan ada dokter lain yang tidak bisa masuk untuk hari ini, jadi maaf Aku nggak sempat sarapan karena buru-buru," ucap dr Imam tanpa melihat Vionna yang berdiri memperhatikan gerak geriknya dan memperhatikan dr Imam mengenakan sepatunya. Bohong yang kedua kalinya bagi dr Imam pada Ibunya sendiri.
"Oh, alah Nak Kenapa buru-buru amat berangkatnya? lihat tuh Nak Vionna bikin sarapan enak ya sudah biar nanti Ibu sama Nak Vionna yang antar ke sana," ucap Ibunya dr Imam dengan tanpa mengerti.
Deg! Ibu segitunya pengen mendekatkan Aku sama Vionna?
"Ibu sama Vionna nggak usah repot-repot, Aku bisa sarapan dan makan siang di kantin kok," sahut dr Imam merasa apa alasan yang diucapkannya itu benar tidak?
"Ya ampun Ibu, Aku kan kerja gimana bagi waktunya? Aku tidak sedang ambil cuti?"
"Itu yang Ibu sarankan kenapa tidak ambil cuti saja sekalian? biar banyak waktu yang bisa kalian lewatkan bersama," jawab Ibunya dr Imam malah seperti begitu mudah saja melakukan izin cuti.
"Ibu, mengambil cuti tidak segampang itu harus ada alasan kuat pengajuan dulu lalu di kondisikan kekosongan kita selama seminggu, misalnya itu juga kalau bisa, ini instansi pelayanan jadi kita juga harus jauh hari baru bisa mengajukan," ujar dr Imam sambil mandang wajah Ibunya, bicaranya tetap lembut walau hatinya pagi-pagi sudah agak kesal.
"Maaf Mas Imam, Aku jadi merepotkan. Nggak apa-apa memang tidak segampang itu Bu mengajukan cuti apalagi lama tapi kapan saja Mas Imam ada waktunya saja, kita bisa jalan," suara Vionna begitu bijaksana dan mengerti kelihatannya posisinya.
"Iya, Vionna benar Bu, kalau ada waktu pasti Aku sempatkan juga makan juga sarapan di rumah, karena sekarang sudah kesiangan maaf ya mungin nanti makan siang Aku bisa pulang atau makan malam saja ya," dr imam berkata sambil senyum.
__ADS_1
"Iya Mas, makasih biar Aku masak nanti sama Ibu buat makan malamnya."
dr Imam tersenyum dan mencium tangan Ibunya lalu menyalami Vionna yang masih dengan senyumnya mengantar dr Imam yang bergegas menuju depan dan membuka pintu mobilnya dan memanaskan sebentar lalu hilang meninggalkan pintu pagar yang terbuka.
Vionna juga begitu baik tapi kenapa begitu memaksakan keinginan? Kenapa tidak mencari sendiri calonnya? bukankah itu akan lebih bisa saling mengerti?
Tapi dr imam bukan orang yang tegaan juga, walau pada orang yang bukan dirinya suka, pasti akan mengajak Vionna ke mana saja biar Ibunya merasa senang dan di hargai dan dr Imam ingin punya kesempatan bicara dari hati ke hati sebenarnya seberapa jauh Vionna berharap pada dirinya.
Akan sanggupkah dr Imam bicara yang akan mengecewakan Vionna? juga Ibunya?
Semua dirasa begitu dilema, belum pernah dr Imam di hadapkan pada permasalahan yang serumit ini, kemarin sudah berbohong pada Intan sekarang bohong apalagi?
Intan maafkan Aku, sebenarnya Aku kangen banget, apalagi Kamu pulang ke Bandung kemarin mungkin dalam keadaan kesal tapi Aku yakin bisa melewati semua itu.
Dr imam gelisah, hatinya berperang dengan kenyataan dan keadaan, sampai rumah sakit langsung memarkir mobilnya di tempat biasa kelihatan mobil sahabatnya sekaligus atasannya sudah terparkir juga.
.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1