
Tok tok tok
"Masuk!"
"Maaf Pak, ada yang kirim makanan di kantor. Bapak di harapkan datang katanya makan bersama," suara suster kepala Miranti melongokkan kepalanya dari balik pintu.
"Ada yang kirin makanan?" tanya dr Prabu mengulang kalimat suster kepala Miranti
Deg! jangan-jangan Alya mulai lagi dengan aksi nggak jelasnya.
"Aku sudah makan Sus, silahkan saja buat yang belum makan jangan lupa ajak para suster semua," ucap dr Prabu sambil tetap pada laptop di hadapannya.
"Pak, ini makanan dari Ibunya dr Imam sama cewek yang dikenalkan Ibunya," sahut Suster kepala Miranti.
"Apa? kiriman Ibunya dr Imam sama ceweknya?" jawab dr Prabu seperti kaget banget.
"Kenapa emangnya Pak?" tanya suster kepala Miranti kelihatan heran, bukankah biasa setiap ada personil rumah sakit yang mengadakan acara dan syukuran apa saja selalu ada makanan kiriman atau diundang makan ke rumahnya.
"Oh, nggak. Cuma nggak ada kabar sebelumnya kalau dr Imam ada acara apa? acara apa ya kirim makanan ke sini?" jawab dr Prabu sambil mukanya kembali biasa dengan alasan yang masuk akal
Dr Prabu tahu semua tentang cerita sahabatnya dr Imam, bahkan perasaannya pada Adiknya Intan, tapi begitu mengundang penasaran dr Prabu seperti apa cewek yang di kenalkan Ibunya dr Imam itu?
"Makannya sekarang?"
"Iya menunggu Pak direktur saja, yang bisa hadir sudah hadir di sana," ucap suster kepala Miranti sambil tersenyum.
Lalu dr Prabu bangkit dan berjalan diiringi suster kepala Miranti di belakangnya.
Masuk kantor tempat berkumpulnya semua personil tanpa kecuali, tempat rapat dan bersantai menunggu jam praktek juga istirahat sesudah tindakan dan lain-lainnya.
Dr Prabu masuk di sambut dr Imam dan diperkenalkan pada Vionna, Ibunya dr Imam sudah kenal lama dan dulu Prabu single suka main ke rumahnya dr Imam.
__ADS_1
"Masya Allah Ibu ada acara apa ini pake kirim makanan segala?" ucap dr Prabu sambil duduk di sofa panjang di samping dr Imam.
"Ini Nak Prabu, Nak Vionna pengen tahu aja ke rumahsakit tempat Nak Imam kerja katanya, kenapa nggak sekaligus kata Ibu kirim makanan Nak Vionna ini pintar sekali masak, segala masakan Dia bisa segala Dia bisa dan segala dikerjakan," ucap Ibunya dr Imam bicara dengan begitu menyanjung dan memuji Vionna dengan segala kepintarannya.
"Oh alah, terimakasih banyak Bu mungkin mewakili dari semua jajaran rumah sakit ini, semoga rezekinya tambah berkah," jawab dr Prabu sambil melirik Vionna yang hanya senyum-senyum saja, hanya dr Imam yang tetap mukanya kelihatan kusut.
Lalu Ibunya dr Imam mempersilahkan kepada semua yang hadir mencicipi makanannya. Begitu banyak makanan karena mungkin mereka memang merencanakan semuanya tidak mungkin kalau untuk konsumsi di rumah bisa masak sebanyak ini.
Jarang-jarang ada makanan gratis kalau nggak ada acara atau ada yang ulang tahun dan baru di todong traktir.
Dr prabu mau tidak mau sedikit mencicipi makanan yang ada, begitu juga dr Imam walau mereka sudah makan bareng belum lama.
Merasa kasihan juga sama dr Imam begitu kelihatan tertekan, tapi tak ada yang bisa di lakukan selain mengikuti keinginan Ibunya walau itu bertentangan dengan hatinya.
Vionna datang menghampiri dr Imam yang duduk sebelahan dengan dr Prabu, kelihatan dewasa dan mandirinya, cantik dan juga modis, dr Prabu merasa pesimis Intan Adiknya bisa bersaing dengan perempuan ini yang katanya seorang manager satu perusahaan besar di kotanya.
Semua ada di tangan dr Imam, mau memilih pilihan orang tuanya atau memilih pilihan hatinya mungkin hanya pengertian yang dr Prabu bisa berikan kepada Intan suatu saat harapan indahnya kandas di tengah jalan.
"Makan dong sekalian, masa cuma kita aja yang makan?" goda dr Prabu pada Vionna.
"Masakannya enak banget, mungkin semua dari mata turun ke perut," ujar dr Prabu sambil senyum.
Maksudnya apa?" tanya Vionna memnag tak mengerti maksud yang di ucapkan dr Prabu barusan.
"Iya, melihat yang masaknya begitu cantik masak apapun pasti enak saja rasanya," jawab dr Prabu membuat rona merah di muka Vionna.
"Ah, Pak direktur bisa aja," Aku merasa biasa."
"Sudah cantik, pintar masak, rendah hati lagi," tambah dr Prabu sambil melirik dr Imam di sampingnya.
"Hati-hati saja Vionna, semakin di layani semakin keluar gombalnya," timpal dr Imam, membuat dr Prabu tertawa.
__ADS_1
"Minta jalan-jalannya jangan ke rumah sakit dong, minta ke tempat lain," ucap dr Prabu pada Vionna.
Vionna hanya tersenyum dan mengangguk, dr Prabu pamitan dan mengucapkan terimakasih pada Ibunya dr Imam juga pada Vionna juga semua rekannya yang masih ada di situ.
Sepanjang jalan ke kantornya dr Prabu berpikir, kenapa orang secantik Vionna bisa susah mencari jodoh? padahal bukan orang jelek dan mungkin bukan orang bodoh kesempatan pasti banyak tetapi mungkin yang berpotensi dan cocok belum ditemukan, kelihatan cocok sama dr Imam tapi itu hanya pandangan luar saja entah bagi yang menjalaninya.
Sampai ruangannya dr Prabu melihat dulu ke ruangan suster kepala Miranti biasa dirinya ada perlu apapun dan selalu berhubungan dengan suster kepala dulu.
Suster kepala Miranti sudah kembali juga dari makan siangnya terlihat sedang ngobrol dengan seseorang.
Dr Prabu merasa tak mengenalnya tapi masuk juga mau sekedar meminta pendapat pribadinya tentang masalah dr Imam dan gadis yang barusan dikenalkan Ibunya dr Imam.
Alya? mau apa berada di sini? dr Prabu mau mundur tapi Alya keburu berdiri dan meraih tangannya dan mengajaknya duduk si sofa ruangan suster kepala Miranti.
Maaf dok, Aku menunggu mau konsultasi dengan dr Imam tapi kata suster kepala Miranti lagi ada makan-makan di kantor jadi aku menunggu di lobby dan bertemu suster kepala Meranti aja ke sini lalu menunggu di sini,' ujar Alya duluan mengatakan alasannya berada di situ.
"Alya, dr Imam prakteknya di ruangan bagian SpOG di sana sepertinya dr Imam sudah mulai praktek lagi, Jadi Kamu takut kelewat antriannya nanti silakan suster kepala Miranti Ibu Alya diantar ke sana," jawab dr Prabu sedikit ketus.
"Nanti saja, Aku selalu meminta waktu konsultasi terakhir, ada yang ingin Aku sampaikan sama Pak Prabu gimana?"
"Soal apa? bicara di sini saja Aku sama suster kepala Miranti sudah seperti keluarga sendiri kalau soal umum silakan bicara saja di sini," dr Prabu seperti mulai kesal dengan ulah mengada ada Alya.
"Apa dokter punya waktu sebentar kalau memang pada waktu aku mau bicara dan kalau konsultasi bisa ganti dengan hari ini mengingat pentingnya apa yang aku sampaikan pada Pak Prabu."
.
.
.
.
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️