Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Perjalanan tak tentu tujuan


__ADS_3

Flashback 3 hari lalu.


Duduk seorang wanita di satu jok mobil bus malam jurusan ke arah Jawa. Tanpa tujuan tanpa bicara hanya memejamkan mata dan sesekali mengusap mukanya menghilangkan beban di dalam hatinya yang semakin kisruh dan kusut jelimet .


Kemana mobil ini membawanya, dan dimana mobil bus ini berhenti terakhir, di situ dirinya akan turun. Naik dari terminal keberangkatan dengan membeli tiket langsung di agen loket terminal.


Bus berhenti dan di kontrol di agen bus resmi, penumpang ada yang keluar turun entah ke kamar kecil atau sekedar beli makanan dan penumpang baru masuk.


Seorang laki-laki ingin bertanya pada wanita itu kalau kursi di sampingnya isi apa ada penumpangnya, karena dirinya mau menempatinya seandainya kosong.


Laki-laki itu duduk saja karena wanita di sebelahnya memejamkan mata walaupun mobil dalam keadaan berhenti, karena takut mengganggu lebih baik duduk secara perlahan, setelah menyimpan ransel di rak atas tempat penyimpanan barang barang penumpang.


Si wanita bergeser semakin merapat ke samping sambil membetulkan posisi duduknya tahu kursi di sampingnya ada yang mengisi dan duduk di sebelahnya.


Berarti tidak tidur, pikir si laki-laki mungkin mabuk kendaraan, atau pusing atau mungkin juga sakit?


Mobil mulai berjalan kembali awalnya terasa pelan tetapi lama-kelamaan menjadi stabil, laki-laki itu melirik ke samping ingin rasanya mengobrol kenalan dan berbasa-basi sekedar membunuh sepi dalam perjalanan sendirinya.


Kenapa ini wanita? sakit kah? apa malas sekedar menyapa teman satu perjalananan, hanya memejamkan mata, padahal tak tidur kelihatan dari gerakannya, minum, dan memejamkan mata kembali tak perduli sama siapapun dan apapun yang ada di dekatnya.


"Maaf Mbak, Mbak sakit? atau mabuk kendaraan?"


"Emght...aku hanya pusing."


"Mau obat mabuk, biar sedikit meredakan pusingnya?"


"Enggak, terimakasih." jawaban pendek sedikit ketus.


"Mbak mau ke mana?"


"Entahlah!"


"Loh!? kok pergi tanpa tujuan? apalagi ini malam sampai sana nanti kira-kira sebelum subuh Mbak mau ke mana?"


"Ke tujuan akhir mobil bus ini."


"Maksud saya lanjut ke mana?"


"Aku tidak tahu, kemana langkah kakiku membawa ke situ aku berpijak."


"Mbak kabur dari rumah ya?"


"Bisa di bilang begitu."


"Apa nggak ada jalan lain selain kabur, minggat tanpa tujuan? lagi bermasalah sama ortu? pacar? apa suami?"


Wanita itu hanya tersenyum sarkas tak menjabarkan permasalahannya. Membuka mata meminum air mineral botol di tangannya.

__ADS_1


"Kenalan, biar enak ngobrolnya, Rendra!"


Si wanita tadi melirik untuk pertama kalinya, dan menyambut tangan yang di sodorkan.


"Alya!"


"Serius Mbak Alya ini mau ke mana?"


"Aku nggak punya tujuan, situ eh Rendra mau ke mana?"


"Aku mau pulang kampung menengok keluarga, sekaligus melihat kampung ku yang terkena dampak letusan erupsi Semeru beberapa waktu lalu."


"Kamu mau jadi relawan di sana?"


"Bukan saya orang sana, maunya sih seperti itu tetapi aku terhalang pekerjaan dan tugas di keseharian ku di sini."


"Memang mobil bus ini menuju ke arah jurusan bencana letusan gunung yang ada di berita itu?"


"Iya, masa kamu Alya tak membacanya kan mobil ada jurusannya?


"Aku naik bus acak aja dan tak melihat jurusannya ke mana, yang penting aku keluar rumah dan menghindar dari pertengkaran kedua orang tuaku setiap harinya."


"Jadi kamu beneran minggat dari rumah?"


"Iya."


"Pikiranku mumet dan buntu tiap hari orang tuaku bertengkar mencari solusi permasalahan ku, dan tiap aku pulang selalu dijejali dengan semua nasehat posisiku dalam keadaan salah tetapi semua telah terlanjur."


"Kamu masih sekolah? kuliah? apa kerja?"


"Aku sudah kerja, lebih tepat mengurus usaha sendiri belajar usaha kecil-kecilan dimodali orang tua."


"Maaf, kalau boleh tahu, tapi sekali lagi maaf! permasalahan apa yang kamu hadapi sehingga begitu berat untuk dicari jalan keluarnya? karena saya pikir semua masalah pasti ada solusinya."


"Aku putus asa, aku tak bisa berpikir jernih lagi kalau bukan karena kehidupan di dalam perutku ini, mungkin aku sudah melakukan hal nekad."


"Astaghfirullahaladzim, kamu ini lagi berbadan dua?"


"Ya, aku hamil tanpa suami, dan tanpa nikah, semua kisruh keluargaku berawal karena kehamilanku ini, mereka pasti malu, aib yang ada di diriku ini, jadi aku memutuskan hengkang dari rumah juga dari kehidupan mereka."


"Sebenarnya itu bukan solusi terbaik malah menimbulkan kecemasan pada diri kedua orang tuamu, tetapi semua telah terlanjur berarti kamu merahasiakan kepergian mu ini? apa rencana mu selanjutnya?"


"Aku tidak tahu, mungkin aku akan mengasingkan diri hidup sendiri, mencoba mandiri dan ingin melahirkan anak ini dan mengurusnya, walaupun nggak tahu akan seperti apa jadinya."


"Tak mudah sobat, menjalani semua itu, perlu kesiapan mental dan juga biaya hidup yang bukan sedikit."


"Aku akan mencobanya."

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku tawarkan satu opsi terbaik menurutku walau mungkin bukan terbaik buat mu."


"Apa itu?"


"Jadi relawan aja di kampung ku untuk sekedar membantu mereka yang dalam kesusahan, sambil menenangkan diri, siapa tahu kamu mendapat ketenangan di sana, tenaga kita bermanfaat juga kita bisa berbagi dengan sesama daripada pergi tanpa tujuan."


Alya tertegun, menatap Rendra di sampingnya yang menanti jawaban dan reaksi dari Alya.


Hati Alya tergugah, dan begitu tertarik dengan penawaran laki-laki yang baru beberapa menit di kenalnya.


"Pikirkanlah dulu, aku tidak memaksa, aku hanya menawarkan, kamu kelihatan dalam keadaan labil carilah ketenangan di sana. Di sana bisa berkenalan dengan sesama relawan dari tiap daerah, begitu banyak orang-orang yang membutuhkan tenaga kita, siapa tahu tenaga kita bisa kita sumbangkan untuk kemanusiaan."


Alya masih diam.


"Aku punya banyak kenalan relawan di sana Kamu bisa tinggal di tempat orang tuaku tidak perlu mengontrak, kamu bisa punya kegiatan sehari-hari di sana bahkan bisa punya penghasilan kalau kamu mau, pernah kuliah dibidang apa? bisa dialokasikan ilmu di sana sebagai tenaga penyedia makanan, sebagai tenaga kesehatan, sampai tenaga pengajar bagi anak-anak yang terlantar dalam pendidikan, juga bisa sebagai penghibur sekedar mendongeng bagi anak-anak yang trauma akan musibah yang menimpa mereka banyak sekali kesempatan disana."


"Rendra! apa kamu adalah malaikat yang Tuhan kirimkan untukku disaat seperti ini? aku begitu tertarik dengan penawaran mu dan aku akan ikut bersamamu walaupun aku baru kenal kamu."


"Haaaa...biasa saja Alya, aku orang biasa yang punya hobi berkelana sejak kuliah, pecinta alam, berkemah, naik gunung, climbing traveling dan juga dalam misi kemanusiaan ke daerah bencana alam, tapi sekarang aku terbatas dalam menyalurkan hobi ku, paling Sabtu minggu main bulutangkis itu juga kalau sempat dan mau, teman-temanku sudah pada menyebar sebagian ke luar kota mencari arti kehidupannya dan menapaki nasibnya masing-masing."


"Kamu kerja sekarang?" Alya mulai akrab.


"Ya, aku terdampar di kota Tasikmalaya dan menikmati dunia nyata yang sebenarnya."


"Maksudnya?"


"Aku menikmati dunia kerja dalam kesendirian, menanti yang tak pernah pasti haaaa..."


Kerja apa ya seorang Rendra?


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya πŸ€¦πŸ˜†πŸ’πŸ™


Hai, readers tercinta! habis baca


"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, PESONA ARYANTI


By Enis Sudrajat juga, baca, like,


vote dan beri hadiah ya!


Slow ya, karena Author punya on going dua boleh baca dua-duanya di jamin melelehπŸ‘©β€β€οΈβ€πŸ’‹β€πŸ‘¨πŸ™

__ADS_1



__ADS_2