Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Masih tidak percaya


__ADS_3

Dr imam mengetuk pintu rumah dr Prabu yang kelihatan sepi, dr prabu yang lagi tiduran di pangkuan Retno di karpet depan TV tak bergeming walau Retno menggoyangkan pangkal lengannya memberitahu, Intan yang asyik dengan earphone ponselnya tiduran juga di atas sofa panjang.


Bi Iyah duduk juga tak jauh dari Retno yang katanya mau di pijit kakinya.


Retno tahu suaminya tidak tidur, tapi saat Bi Iyah bertanya Bu dokter mau di pijat kakinya dr Prabu tak mengangkat kepalanya dari pangkuan Retno.


Bi Iyah jadi diam tak bertanya lagi.


"Intan! buka tutup kupingnya, denger nggak ada orang yang ketuk pintu?" ucap dr Prabu mengagetkan Intan.


"Oh, eh apa Kak?"


"Biar Bibi saja yang bukakan pintunya," sela Bi Iyah sambil mau bangkit berdiri.


"Jangan Bi biar intan saja yang lihat siapa yang datang."


Intan cemberut, mungkin tahu siapa yang datang pasti dr Imam.


Mau tidak mau Intan membuka earphone dan menyimpannya di meja sama ponselnya, lalu berjalan ke depan dengan ogah-ogahan.

__ADS_1


Dr Prabu bangun melihat punggung Intan yang berjalan ke arah depan melewati ruang tamu.


"Sepertinya itu dr Imam Mas, jangan lupa tawarin makan." ucap Retno sambil menyodorkan kakinya saat Bi Iyah mau memijitnya.


"Orang lagi marahan biasanya nggak doyan makan, biarin mereka ngobrol dan bicara dulu syukur-syukur bisa menyelesaikan masalahnya, nanti Aku panggil mereka kalau kelihatan mereka belum menemukan jalan keluar permasalahan mereka." sahut dr Prabu sambil mengambil makanan dari toples.


Dr Prabu mengusap usap punggung Retno sambil melihat Retno di pijat kakinya. Kaki yang dulu begitu langsing dengan betis ideal kini sedikit membesar seiring usia kandungannya.


"Rasanya gimana sayang, pegel apa sakit?" tanya dr Prabu pada Retno, matanya sesekali melirik istrinya sambil memilih Chanel layar TV di hadapannya.


"Sakit enggak, cuma pegel aja, mungkin seiring bertambah besar kandungan bertambah juga beban berat di tubuhku, badanku hanya perlu adaptasi sepertinya ini kaget saja kakiku biasa menopang tubuhku dengan ukuran standar sedangkan sekarang bertambah beban." jawab Retno sambil menikmati usapan suaminya dan pijitan lembut Bi Iyah.


"Iya Pak, nanti setelah melahirkan beberapa bulan kedepan akan biasa lagi, Bu dokter nggak gendut lagi dan capek mengurus bayi membuat Ibu habis melahirkan kurus dengan sendirinya tak perlu senam dan diet segala." jawab Bi Iyah memberikan sedikit pengalaman walau dirinya kini tidak punya anak karena meninggal saat masih bayi dan tak bisa mengandung lagi.


"Mas, lihat Intan di depan sana!"


"Ngapain lihat orang pacaran? biarin saja sudah pada dewasa ini." jawab dr Prabu tetap duduk dalam posisinya.


"Ya ajak masuk lah, Intan juga malah nggak di ajak masuk tamunya bikinkan minum atau tawari makan."

__ADS_1


Dr Prabu bangkit berjalan ke arah depan terdengar debat seperti debat calon pimpinan mempertahankan prinsip dan pandangannya.


"Intan, Aku minta maaf sekali lagi itu bukan sikap orangtuaku yang sebenarnya, orangtuaku sangat ramah pada siapapun apalagi sama teman dekatku, sebenarnya Aku juga tidak tahu ada apa?" ucap dr Imam seperti ingin di mengerti.


"Mas Imam sendiri tak tahu! kalau bukan karena kedatanganku yang salah masalah apa lagi? pokoknya Aku tidak mau lagi datang ke tempat Mas Imam seperti jadi orang yang tak dianggap sama sekali, sakit hatiku! jangankan menyapa hanya memandang dari ujung kaki sampai ujung kepala seperti menelanjangiku memangnya Aku ini pesakitan apa?" Intan bicara begitu kencang. Dr Prabu menahan langkahnya mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.


"Tapi Aku mencintaimu Intan, tolong maafkan kedua orang tuaku atas segala sikapnya yang kurang mengenakkan di hati kamu." jawab dr Imam sambil meraih tangan Intan, tapi Intan semakin menjauh dan menghindar.


"Kalau memang benar Mas Prabu mencintaiku buktikan yakinkan kedua orang tua Mas Prabu kalau Aku adalah pilihan hatimu, semua itu sungguh membuat Aku trauma! jauh dari perkiraan awal rasanya ingin mendapatkan calon mertua jangan begitu ramah baik dan menyambutku tapi semua itu adalah berbanding terbalik dengan kenyataan." jawab intan ketus.


"Intan, Aku akan berusaha meyakinkan dan memperbaiki semuanya, tapi kamu tolong maafkan Aku yang tak bisa membelamu saat itu, karena Aku juga jujur kaget dengan sikap mereka." dr Imam berusaha meyakinkan Intan kalau semua akan baik-baik saja.


"Baiklah, jangan temui Aku kalau Mas Imam belum menemukan jawaban kenapa kedua orangtua Mas Imam tak menerimaku? apa salahku? Aku hanya memperkirakan kedua orang tua Mas Imam Aku hanyalah seorang cewek perayu yang tidak bisa diajak serius."


"Ya ampun Intan jangan dulu menilai begitu, mungkin kedua orang tuaku belum tahu siapa kamu, jadi mereka memberikan sedikit pelajaran terutama untuk diriku sendiri."


******


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2