
Dalam perjalanan ke Bandung tak henti-hentinya dr Prabu melirik ke sampingnya dimana Retno duduk sambil memejamkan kedua matanya dan sesekali memegang dan meremas jemari Retno di sela-sela mengoper kopling dan fokus pada jalan yang akan di lalui kendaraannya.
Seperti mimpi saja rasanya tapi seakan nggak ada firasat dan pertanda apapun sebelumnya, wajah dr Prabu begitu sumringah tapi tidak sampai bersiul, kebahagiaan tersendiri bagi dirinya bisa mengantar dan berduaan dengan Retno yang selama ini hanya ada dalam khayalannya saja.
Lain lagi dengan Retno yang tak bisa lepas dari perasaannya sendiri dan mengakui pesona sang Prabu di hatinya, seakan mimpi juga saat dirinya tak bisa menolak ciuman paksa tadi yang sebenarnya dirinya begitu merindukannya dan begitu menikmatinya menyingkirkan semua rasa bencinya, aaaaah...
betapa tak kuasa menolak semua itu dirinya memang mendambanya, laksana siraman air pada musafir yang telah jauh berkelana.
Dan akhirnya dirinya pasrah dalam status setengah berdamai dengan dr Prabu dan tak berdaya di pelukannya dan dalam ciuman panasnya, ya setengah berdamai karena hatinya masih saja was-was dan perlu meyakinkan diri dulu, dan satu yang ingin Retno inginkan mulai sekarang yaitu lebih hati-hati lagi dengan perasaannya sendiri, cukup kesalah pahaman sekian lama menjadi penghalang cinta mereka, saling menunggu, saling merindu, saling ingin mendapat kabar dan membuahkan sakit tak terkira.
"Mau berhenti dulu? kita makan ya?" Retno membuka matanya karena dr Prabu menyentuh pundaknya.
"Nanti saja."
"Terus terang sebenarnya aku juga tidak lapar, hanya memandang mu saja aku sudah kenyang, dan mungkin kalau melihat senyum mu bisa seminggu kuat nggak makan."
"Mas!"
"Iya sayang, aku berusaha jujur padamu."
"Aku nggak suka kejujuran mu."
"Kejujuran nggak suka, pura-pura nggak suka, bohong juga nggak suka, maunya apa...nanti aku kasih yang pasti kamu suka."
Retno hanya diam dan memejamkan matanya kembali, nggak mau berdebat juga nggak mau ngobrol, nggak mau apapun, hah? jangan-jangan seperti Mas Prabu aku juga, hanya memandang mu saja aku sudah kenyang, dan mungkin kalau melihat senyum mu bisa seminggu kuat nggak makan, akhirnya Retno geli sendiri berpikir apa yang di omongkan Mas Prabu.
Retno menutup mukanya dengan ujung kerudungnya dan dr Prabu tersenyum masih saja seperti Retno yang dulu selalu menutup mukanya dengan ujung kerudungnya saat marah dan saat malu.
Dr Prabu menyentuh pundak Retno dan Retno terkejut mungkin lagi melamun, atau lagi tidur.
"Hai, tidur ya? mau ke mana ini sebentar lagi sampai nih."
"Oh, aku ketiduran, ke kost tempatku saja Mas."
"Baik, sayang di daerah mana?"
"Ke arah rumah sakit saja dulu dari situ biar aku pandu nanti."
"Siap."
Mobil melaju ke arah rumah sakit dan setelah dekat Retno memandu nya ke jalan yang belum pernah di lalui dr Prabu dan akhirnya sampai di sebuah rumah yang begitu resik dan cantik, seorang perempuan yang dr Prabu kenal yaitu suster kepala Harni keluar beserta suami dan anaknya menyambut yang datang dan dengan tersenyum khasnya.
"Retno malam-malam pulangnya sayang, tidur di sini saja kamu masih masa pemulihan, sebenarnya kamarnya di bersihkan setiap hari walau orangnya nggak sempat pulang, ayo mari silahkan masuk Pak Prabu di kira mau besok-besok pulangnya."
"Iya Bu makasih, maksa ini juga nggak bisa di tahan-tahan." dr Prabu menjawab suster Harni.
Retno menghampiri suster Harni dan memeluknya sambil menangis, seperti mengadunya seorang anak pada orangtuanya dan suster Harni mengusap-usap punggung Retno dan membawanya duduk.
"Ssssssssst... sudah-sudah nggak usah ngomong apa-apa Ibu tahu hatimu, ayo duduk dulu Alhamdulillah sudah sehat."
Istirahat di kamar depan ayo Ibu antar... Retno masuk kamar dalam pandangan dr Prabu yang begitu terenyuh melihatnya, kehidupan Retno selama ini hanya dengan orang lain yang begitu baik pada dirinya mungkin karena kebaikannya pula, dr Prabu merasakan perasaan hati Retno jauh dari orangtuanya hanya berharap pada keajaiban menunggu dirinya sekian lama dengan cinta dan kesetiaan yang di jaganya, dan pada kenyataanya dirinya yang di harapkan nya telah begitu melukai perasaannya, dirinya malah membalaskan sakit hati dengan penuh keegoisan dan arogansi sebagai orang yang punya kuasa di tempatnya.
__ADS_1
Suster Harni keluar dan duduk berhadapan dengan dr Prabu.
"Sudah sehat tinggal pemulihan, dua tiga hari lagi seperti biasa bisa beraktivitas lagi Bu"
"Syukurlah Pak Prabu, sebenarnya Retno menempati kamar paviliun samping rumah tapi keluar masuk di rumah ini sama saja dan biasa."
"Saya benar-benar minta maaf Bu telah melibatkan dan sekaligus merepotkan Ibu dengan permasalahan saya."
"Kok minta maafnya pada saya? pada Retno lah."
"Saya sudah berkali kali Bu meminta maaf tapi sepertinya Retno belum bisa memaafkan saya."
"Belum bisa memaafkan tapi mau diantar pulang heee..."
"Entahlah Bu terlalu banyak kesalahan saya pada Retno, mengingat perjuangannya dan mempertahankan perasaanya pada saya serasa jauh berat melampaui saya, selama ini saya hanya sibuk dengan perasaan benci dan dendam saya, tak aku fikirkan perasaan Retno sendiri."
"Sudah sudah... Ibu tahu hati Retno begitu lembut, hati dan perasaannya, dia bisa melewati semuanya sendiri dengan kesabarannya, Ibu yakin kalian masih saling cinta bersabarlah, Retno perlu menenangkan diri biar dia tenang dalam mengambil keputusan apapun."
"Iya Bu, saya pamit dulu keburu malam."
"Height, mau ke mana Pak Prabu?"
"Saya sebenarnya mau nungguin dia tapi nggak enak juga, biarlah saya cari penginapan saja."
"Tidur saja di sini nanti keburu malam, kalau enggak tidur di kamarnya Retno karena Retno kan tidur di kamar sini."
"Memang boleh Bu?"
"Boleh saya masuk?"
Suster Harni memang orang yang paling pengertian pikir dr Prabu, selalu memberi kesempatan pada orang yang masih begitu ingin berduaan.
Dr Prabu mengetuk pintu dan masuk, terlihat Retno belum tidur lagi duduk di ujung atas tempat tidur sambil melihat-lihat ponselnya.
"Boleh aku masuk?" tak ada jawaban Retno hanya melirik dan kembali asyik dengan ponselnya.
"Saya hanya mau ingatkan kamu sudah minum obatnya?"
"Sudah."
"Ya sudah, tapi jangan manyun begitu."
"Mau ngapain masuk sini?"
"Mau melihat kamu cemberut, eh bukan,bukan aku tak boleh pulang sama suster Harni, tapi aku nggak ada kamar buat tidur, boleh kalau kamu berbagi tempat tidur denganku?"
"Apa? nggak mungkin suster Harni menyuruh begitu."
"I-iiiiiiiiii ya sorry bukan begitu maksudku aku minta izin untuk tidur di paviliun kamu boleh nggak?"
"Terserah!"
__ADS_1
"Berarti artinya boleh, makasih ya sayang, sebenarnya aku maunya tidur di sini heeee..."
"Sudah keluar!"
"Iya aku keluar, tapi...biarkan aku memelukmu dulu."
Seperti biasa tanpa aba-aba dr Prabu memeluk Retno dan terlebih dulu mengambil ponselnya perlahan, dan meletakkannya di tempat tidur.
"Mas ngapain sih nanti ada Bu Harni."
"Aku di kasih waktu leluasa sama dia." dr Prabu mengusap-usap dan mendekap tubuh ramping itu yang dalam posisi duduk di ujung tempat tidur dan dr Prabu berdiri di hadapan Retno.
"Keluar sudah ah..."
"Sebentar lagi."
"Mas iiiiiiiiiih..."
"Katakan dulu kamu kangen sama aku ayo, ya kan?"
"Apaan sih?"
"Aku kangen kamu Retno."
"Aku nggak."
"Heee...jangan bohong aku sudah baca semua catatan di ponselmu."
"Lancang tanpa izin mengobrak abrik dan buka buka ponsel orang, nggak sopan banget."
"Kalau nggak di curi nggak akan di izinin, aku suka semua catatan mu."
"Aku nggak minta pendapatmu."
"Aku tahu hatimu."
"Kalau sudah tahu mau apa?"
"Aku mau semuanya." dr Prabu menarik paksa tubuh Retno dan merapatkannya ke tubuhnya,dan Retno berontak merasa nggak sopan di tempat orang juga dalam kamar berduaan, tapi dr Prabu memaksanya.
"Silahkan teriak biar semua orang datang melihat kita, atau kamu diam aku hanya ingin mengucapakan selamat malam dan biar kamu bermimpi tentang cinta kita."
Tak ada pilihan buat Retno benci di hatinya masih saja belum hilang tapi dengan setengah emosi Retno melayani apa maunya dr Prabu yang seperti lupa diri, Retno berdiri tangannya di lingkarkan di pinggang seperti menantangnya dan membiarkan dr Prabu memeluknya menciumi semua wajahnya dengan penuh kerinduan, seperti mendapat lampu hijau dr Prabu tak melepaskan ciumannya, Retno membiarkan dirinya dalam rengkuhan tubuh kekar itu, dan dengan setengah emosi Retno melayani ciuman itu menggigit gigit kecil bibir yang dulu pernah menyentuhnya, dan ... tok tok tok...
"Retno kunci kamar mu di meja ya biar nanti Pak Prabu tidur di kamarmu saja..."
Retno seperti tersadar dan mendorong tubuh dr Prabu sekuat tenaga, dr Prabu tersenyum merasa menang, dan memandang Retno dengan wajah ketakutannya.
"Oh, iya Bu sebentar lagi..."
"Ya ya ya, nggak apa-apa Ibu hanya ngasih tahu saja kalau Ibu mau tidur."
__ADS_1
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝