Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Kegelisahan Prabu


__ADS_3

Sepeninggalnya Intan dan dr Imam ke Bandung. Dr Prabu termenung sendiri di ruangan kantornya yang sangat nyaman sejuk juga sangat bersih, tapi semua itu tak membuatnya tenang, nyaman perasaanya selalu bimbang dan nggak tenang.


Bayang-bayang Alya hadir di hadapannya seperti hantu yang setiap saat bisa mengejutkannya dan siap dengan pengakuan yang paling di takutkan nya.


Alya adalah satu kesalahan di dalam hidupnya di dalam perjalanan cintanya. Kenapa semua ini terjadi? kenapa aku semudah itu melakukan perbuatan itu? kenapa aku tak berfikir panjang akan akibat yang di timbulkan dari perbuatan sesaat tanpa rasa itu?


Hanya amarah yang mengungkungnya saat itu.


Aaaaaaah...persetan dengan semuanya! dr Prabu ingin mengusir bayangan momen-momen itu yang sekarang mulai seperti parasit yang menempel di semua anggota tubuhnya.


Aku seorang pimpinan, seorang dokter, seorang yang berpendidikan, tapi kenapa perbuatan ku seperti tanpa pikir panjang dan perhitungan? seperti orang jalanan saja. Dimana sikap pimpinan yang sabar aku saat itu? dimana bijaksananya aku saat itu? Semua di luar logika dan akal sehatku.


Sama saja seperti si Alya yang tanpa perhitungan dan akal sehat. Sungguh dr Prabu tak mau mengingatnya kembali, ingin membuang jauh-jauh seandainya bisa dan menghapus nama Alya dari catatan perjalanan hidupnya.


Senyum Retno berkelebat di hadapannya. Senyum yang sangat menusuk hati sampai ke jantungnya mungkin meresap sampai ke tulang-tulang sumsumnya, senyum yang selalu dirindukannya dan bertahun tahun menunggunya.


Ya Allah. Akankah aku merubah kembali senyum itu menjadi kesedihannya, menjadi rasa yang paling menyakitkan kembali bagi Retno dan juga keluarganya, juga keluargaku.


Dr Prabu tak sanggup membayangkan semuanya. Ya, hanya membayangkan saja tak sanggup dan untuk kenyataannya dr Prabu sampai saat ini masih memilih waktu, entah sampai kapan dirinya bisa berterus terang di hadapan Retno sedangkan semua itu harus dilakukannya.


Dr Prabu menatap ponselnya yang tergeletak. Semua pekerjaannya terlihat terbengkalai tak ada amunisi yang bisa memberi semangat saat ini selain kehadiran Retno disisi-nya.


Butuh waktu sekitar 6 jam lagi bagi dr Prabu untuk bisa melihat dan bertatap muka dengan Retno. Jauh di lubuk hatinya ingin mengubah segalanya tetapi apalah daya semua telah terjadi dan sekarang menjadi masalahnya.


Harus ada teman diskusi dan konsultasi yang baik untuk menyelesaikan masalahnya, bukan dr Imam juga bukan orang tuanya ataupun Intan adiknya, tetapi dirinya dibutuhkan keberanian untuk bisa berterus terang terhadap orang yang suka memberi solusi untuk permasalahan hidupnya masalah cintanya yaitu dr Burhan dan Suster kepala Harni.


Ingin rasanya menelephon dan mendengarkan suaranya hanya sekedar untuk melepaskan beban perasaannya, tetapi dr Prabu melirik jam dinding di atas sofa tamunya waktu masih menunjukkan pukul 10:15 pasti Retno masih kerja dan dirinya tidak boleh mengganggu saat waktu bekerja.


Kegelisahan melingkupi dr Prabu. Hanya menimbang-nimbang ponselnya, dan akhirnya menulis pesan kebetulan ponsel Retno lagi kelihatan online.


Kangen.


??????


Serius, aku kangen...


Aku nggak.


Maksudnya?


Nggak bisa bohong, aku juga sama kangen!


Awas ya, nanti aku cium!


Mau cium kok pake ngancam segala?


Udah kerja lagi, pokoknya aku kangen banget! Kamu suka bikin aku nggak fokus.

__ADS_1


Itu bukan masalahku.


Tapi menyangkut diri kamu.


Kenapa di sangkut-sangkut?


Alah, jawabannya panjang, bukan jari jempol mu yang ingin menjawabnya di keypad ponselmu, tapi bibirmu yang tanpa jarak di hadapanku.


Bye!


Hai?


Dr Prabu tersenyum menanggapi pesan yang dirinya kirimkan dan dibalas Retno dengan bercanda pula sebagai perwakilan perasaannya. Yang akhirnya Retno memilih menutup percakapannya, mungkin mulai kerja lagi atau takut ketahuan lagi kerja membuka-buka ponselnya. Retno mulai berubah mulai menata dirinya dan masa depannya kini, semua tampak begitu bahagia.


Dibalik kebahagiaan yang di perlihatkan Retno ada sakit yang begitu mengiris di lubuk hatinya, kenapa semua datang masalah saat Retno mulai memandang baik pada diriku?


Sungguh semua tidak adil, tapi pada siapa pemberontakan hati ini aku tujukan? Rasa takut kehilangan kepercayaan, cinta Retno membuat dr Prabu gelisah luar biasa.


Tok tok tok...


Ketukan harus di pintu membuyarkan lamunan dr Prabu, buru-buru dr Prabu mengubah posisi dan sikapnya seakan dia lagi mengerjakan sesuatu tidak enak jadinya kepergok suster Miranti, saat sendiri di ruangan itu melamun hanya berteman sepi dan bengong seorang diri.


"Ya, masuk."


"Pak Prabu apa khabarnya, katanya kurang enak badan kemarin."


"Heeee... perasaan baru dengar sakit seperti itu."


"Masa? berarti suster tidak mengikuti perkembangan penyakit zaman sekarang."


"Ya ya ya, mungkin baru Pak Prabu yang divonis punya penyakit seperti itu."


"Masih meriah acara hari jadi di turnamen itu?" dr Prabu malah mengalihkan pertanyaan suster Miranti yang menjurus menelisik pribadinya.


"Semakin meriah pastinya Pak, kan nanti sore Pak Prabu yang akan turun."


"Iya suster, tapi sepertinya aku kurang semangat."


"Lho kenapa?"


"Aku terlalu capek, dan sibuk dengan kerjaan."


"Kerjaan apa? kesibukan Pak Prabu masih seperti biasanya Pak Prabu terlalu sibuk memenangkan kembali hatinya suster Retno kali?"


"Mungkin."


"Kan, sekarang sudah baikan aman damai sentosa bukan?"

__ADS_1


"Ya, begitulah."


"Kenapa jadi kurang bergairah? kan nanti sore juga ketemu penyemangat Pak Prabu."


"Iya suster. Malah Retno mau mengajukan pindah kerja ke sini untuk kebaikannya dan itu saran ku."


"Apa? serius Pak Prabu?"


"Iya, kami ingin membawa hubungan kami ke arah yang serius lagi dan di bawa menghadap kedua belah pihak orang tua kami."


"Waaaah, selamat Pak Prabu Semoga lancar semuanya, juga kalau Retno pindah ke sini aku bisa lebih leluasa untuk meminta maaf atas kejadian kemarin."


"Untuk soal itu Retno sudah mengerti."


"Sekali lagi selamat Pak Prabu semoga kali ini cita-citanya tercapai dan bisa memboyong Retno kesini sekaligus menjadi nyonya Prabu."


"Terima kasih atas do'a-do'anya suster, semoga semuanya seperti harapan kita."


"Sepertinya ada dua dokter di rumah sakit ini yang lagi bahagia."


"Semoga kami benar kelihatan bahagia suster bukan hanya pura-pura saja."


"Kenapa harus pura pura-pura Pak? Kalau bahagia sudah seharusnya orang lain tahu, beda kalau sedih mungkin gak usah kita ekspos keluar, karena mungkin orang akan merasa kasihan kepada kita."


"Ya suster seharusnya begitu. Baiklah aku akan selalu tampak bahagia, biar orang melihat dan melihat fikirannya kita bahagia."


"Pokoknya harus bahagia apalagi nanti main di depan orang banyak. Seandainya dr Prabu menang sudah pasti itu harus memperlihatkan muka bahagia, masa iya menang dalam suatu pertandingan merasa tidak bahagia?"


"Iya suster, bagaimana sikap Retno sekarang terhadap suster Miranti?"


"Begitu aja, sepertinya masih ada sakit hati dan kebencian terhadap saya, walaupun pada dasarnya saya sudah mengungkapkan kebenaran di hadapan dirinya, masih perlu waktu buat suster Retno memaafkan saya."


"Lakukan aja apapun itu. Saya minta maaf atas sikap Retno yang mungkin balik membenci suster Miranti. Karena nanti akan jadi team work suster kepala Miranti di sini."


"Oh, dengan senang hati Pak Prabu."


"Sungguh semua di luar ekspektasi kita."


"Itu yang aku takutkan dari awal Pak Prabu, saya nggak salah salah amat kan dari awal?"


"Ya ya ya...aku terima salah."


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


Hai, readers tercinta habis baca 'Biarkan Aku Memilih' jangan lupa mampir ke karya Author Emma Risma sahabat terbaikku yang paling hebat, baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!


__ADS_1


__ADS_2