Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Merasa di tantang


__ADS_3

"Aku merasa tak betah lagi di sini, Aku merasa nggak tenang," ucap dan kata-kata Retno membuat dr Prabu merasa takut.


"Jangan bicara begitu Sayang, ingat buah hati kita, mungkin akan sedih kalau mendengar kita berselisih paham begini."


"Apa tindakan Mas juga yang tidak pantas tadi tak ingat kalau kita sebentar lagi akan punya Anak? Aku bisa saja pergi jauh dengan Anakku menebus waktu yang terbuang lima tahun lalu dari orangtuaku, silahkan jalani penantian lagi kalau Mas tak merubah sikap! Ada Anak diantara kita, bagaimana rasanya jauh dari anakmu sendiri!" jawab Retno seakan benar-benar ada firasat buruk dalam rumahtangganya dan kalau mungkin dirinya akan mengantisipasinya sejak dini dengan memberikan ultimatum pada suaminya dan Dirinya tidak akan main-main kali ini.


"Tak akan terjadi apapun sayang, kamu jangan ngelantur begitu, kita akan tetap bersama-sama, ayo kita pulang istirahat jangan terlalu berlebih-lebihan, positif thinking itu lebih baik jangan terlalu suudzon, apa Intan bicara sesuatu padamu? biasanya sesama cewek bisa saling satu rasa," ucap dr Prabu mengalihkan pembicaraan.


"Satu rasa pasti! saling tidak suka ada yang merongrong satu hubungan yang di bangun dengan hati, Aku kasihan sama Intan tapi sepertinya Aku lebih kasihan sama si Alya! kenapa untuk kebahagiaan harus merusak kebahagiaan orang lain dan kebahagiaan keluarganya? sedang pada Intan Aku kasihan masih harus memperjuangkan kebahagiaannya," jawab Retno begitu praktis bicaranya mencerminkan intelektual tinggi yang di milikinya.


"Aku tahu kamu cemburu Sayang, tapi jangan berlebihan begitu, Aku ikuti semua saranmu dan keinginanmu apa yang terbaik untuk Aku jalani ke depannya dan kalau memang tadi Aku bersikap menurutmu tak berkenan Aku minta maaf, tetapi ada campur tangan orang lain dr Imam yang meninggalkanku saat Aku datang mengabarkan Intan mau pamitan di mana salahku? mungkin menurutmu Aku tidak pergi saja meninggalkan Alya tetapi dalam lingkungan banyak orang perasaanku itu bukan suatu penghianatan Ajeng!" jawab dr Prabu memberikan pengertian pada Retno sepertinya belum bisa menerima kenyataan suaminya ngobrol kembali bertemu kembali dan berakar pria dengan seseorang yang membuat dunianya hampir jungkir balik.


"Aku tanya jujur pada Mas bicara apa tadi? sama si Alya dan si Alya membicarakan apa se-akrab itu? Aku tidak mempermasalahkan Mas bicara pada siapapun tetapi pada si Alya Aku tidak suka itu seakan memberi hati dan peluang sok akrab begitu!" Retno masih saja bicara pedas, dan dr Prabu menanggapinya dengan bijaksana menyikapi semuanya tidak harus dilakukan dengan emosi tetapi harus dengan memasukkan pengertian sehingga siapapun bisa mengerti dengan alasannya.

__ADS_1


"Alya belum punya Anak, dia lagi melakukan program kehamilan setelah melakukan serangkaian test dalam pengawasan dr Imam, Dia juga bilang tidak bahagia dengan pernikahannya, tapi Aku tentang semua omongannya karena menurutku itu salah, kebahagiaan adalah datangnya dari hati dan niat ikhlas dengan mensyukuri apa yang kita miliki saat ini, itulah bahagia."


"Itu mungkin karma! walau sebenarnya tak ada karma yang bisa di buktikan tapi manifestasi dari perbuatan diri sendiri itulah apa yang kita tanam,kita sendiri yang akan menuai. Aku sudah menduganya Alya hatinya liar tak bisa menerima kenyataan bahkan Aku sudah memprediksi dia akan datang kembali dengan niat jeleknya selama kita lengah! Dia sepertinya berprinsip memiliki Mas Prabu tapi kalau tidak harus menghancurkannya." Retno seakan begitu berapi-api mengungkapkan kekhawatiran kegelisahan hatinya tentang ketidaksukaannya melihat suaminya kembali dekat dengan seseorang yang telah menghancurkan segala-galanya di dalam tatanan hubungan antara dirinya dengan suaminya dari duku hingga kini mereka telah saling sama-sama berumah tangga.


"Ajeng! kenapa kamu begitu jauh berpikir seperti itu sedang Aku bertemu Alya tidak disengaja rubahlah pikiran jelek kamu, mungkin Alya sudah berubah, perjalanan hidup seseorang kita tidak tahu mungkin kesadarannya telah datang dia hanya ingin menjalin pertemanan baik kembali," ucap dr Prabu masih dengan nada lembutnya mencoba menyelami hati istrinya.


"Oh, alah! begitu klasik alasan ulat bulu itu, fantastik dan sangat membius, baiklah Aku sudah menangkap semuanya, pulang sekarang Aku pegal!" Dr Prabu diam tak menjawab hanya tangannya memutar kunci kontak dan menjalankan mobilnya.


Mereka diam membisu hanya suara kendaraan yang terdengar sedang melaju Retno seakan menutup pembicaraan dan dr Prabu juga bingung harus bicara apa lagi, kejujuran yang di ucapkannya akan menjadi bumerang juga pada dirinya dan seandainya juga tidak jujur mungkin terlalu lama bicara tadi sama Alya apa yang dibicarakan menurut Retno.


Sampai halaman rumah Retno langsung turun, dan masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya.


Betapa ingat dalam pikirannya saat Alya mengabarkan kehamilannya pada ponsel suaminya, dan yang membuka pertama adalah Retno jelas menyentuhkan Apalagi itu hanya beberapa hari setelah mereka melangsungkan akad nikah dan dalam perjalanan pulang menuju ke Tasikmalaya dari Pekalongan menuju resepsi kedua pernikahannya.

__ADS_1


Siapa yang tak sakit hati? kini seakan luka itu terkoyak dan berdarah lagi walau keadaan dan status Retno kini telah berubah menjadi istri dr Prabu Seto Wardhana, Retno merasa di tantang sama Alya dalam hal ini maunya seperti apa itu orang?


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2