
"Jangan sampai kamu itu sakit, gara-gara terlalu memforsir diri dalam bekerja."
Alya tak menjawab hanya diam saja sambil makan, duduk di tungguin sama Ibunya.
"Gimana khabar sahabatmu itu?"
"Dian nggak bisa Bu. Desty sudah bekerja dia sudah betah katanya di tempat kerjanya yang sekarang."
"Tanya gajinya berapa? kalau merasa butuh dan memungkinkan dia bisa pindah apa salahnya di nego dan di rayu. Mungkin dia bisa mempertimbangkan tawaran kamu. Pada dasarnya semua orang bekerja itu untuk mencari penghasilan, satu pekerjaan akan menjadi pilihan seandainya ada tawaran yang lebih menguntungkan bagi siapapun."
Alya diam menyudahi makannya sambil meminum air mineral. Selalu tak pernah menang setiap debat dengan Ibunya dan Alya lebih baik diam menghindari lebih lama dan lebih lanjut percakapan mereka.
Tapi kali ini sepertinya dirinya tidak bisa menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang Ibunya lontarkan. Ibunya mungkin melihat akhir-akhir ini Alya semakin tidak karuan dengan kesehatannya.
"Kerja apa Desty temanmu itu sekarang?"
"Marketing, Di usaha pamannya kerjanya ke pasar-pasar, ke Mall pokoknya memasarkan hasil bordiran di media kain, seperti kerudung, kain mukena baju koko dan segala aksesoris komplit seorang muslim muslimah."
"Nggak mau dia kerja yang standby gitu?"
"Katanya tanggung, pengen ngerasain berkembangnya seperti apa yang diusahakannya sekarang ini."
"Berusaha mencari orang lagi yang bisa kamu andalkan. Yang bisa membagi kesibukan kamu jangan sampai kamu ambruk sendiri. Pokoknya Ibu nggak mau kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan menenggelamkan diri dalam pekerjaan yang tidak ada habisnya."
"Berapa orang sekarang karyawan kamu di cafe?"
"Ada enam Bu."
"Di Bakery?"
"Sepuluh." Alya menjawab pendek-pendek.
__ADS_1
"Seharusnya sudah ada yang bisa memanage kedua perusahaan kamu itu, biarkan semua berjalan di atur manajemen yang benar. Jadi kamu tinggal ngontrol saja, otomatis kamu pasti punya banyak waktu untuk diri sendiri."
"Iya Bu. Alya coba melihat dulu siapa kira-kira orang yang berpotensi untuk bisa memegang perusahaan dan bisa dipercaya."
"Iya, begitu harusnya sejak awal kamu punya usaha sudah harus memperhitungkan dan memikirkan semua itu.
Sekarang usaha sudah besar dan semakin maju semakin tahu dan di kenal sama orang-orang baik di bakery juga di cafe. Kamu sendiri yang merasa kewalahan karena tidak ada pengkaderan dari awal."
Alya mengambil satu apel yang begitu menggiurkan dengan berwarna belang-belang merah muda, lalu menggigitnya langsung walau ada pisau di tempat buah itu, tak cukup satu Alya ngambilnya lagi dan memakannya kembali sampai habis tinggal tulang tengah yang ada bijinya yang tersisa.
Dalam hatinya berkecamuk perasaan serta sanggahan yang ditujukan pada dirinya. Apa aku hamil? mungkinkah kalau aku hamil? kenapa baru kali ini aku merasakan enak banget makan apel, tapi di sisi lain terkadang Alya juga menginginkan jangan sampai dirinya hamil dan semoga dirinya tidak hamil, dengan alasan melakukannya hanya sekali dalam ke terburu-buru an dalam keterpaksaan mungkinkah semua itu akan membuahkan satu kehamilan?.
Tanpa Alya sadari semua yang dilakukan dirinya dari mulai makan dan segala macam sampai selesai tak luput dari perhatian Ibunya. Rasa cemas terhadap putri satu-satunya selalu menghantui pikirannya. Inginnya Ibu Sofyan Wijaya melihat anaknya bisa bergaul keluar dan membuka diri untuk bisa mendapatkan pasangan hidup minimal membawa dan mengenalkan seseorang pada orang tuanya.
"Terkadang selalu dan selalu Ibu Sofyan Wijaya membatasi pertanyaan ke arah yang lebih pribadi pada anaknya karena takut Alya merasa tersinggung. Sebenarnya menjadi dilema bagi Ibu Sofyan Wijaya, tidak diingatkan yah seperti ini anteng-anteng saja tetapi kalau diingatkan takut membuat anaknya tersinggung, mungkin beginilah perasaan orang tua yang sudah memiliki anak dewasa dan juga terlalu mandiri seperti Alya.
Malam itu Alya tidur di rumahnya. Badannya terasa lelah dan ingin istirahat, Ibu Sofyan Wijaya memandangi punggung anaknya sesaat setelah Alya berpamitan untuk masuk ke dalam kamarnya di lantai atas.
"Sudah pulang Pak?"
"Ya, Alya pulang Bu? mobilnya ada."
"Iya, habis makan sambil Ibu nasehati."
"Apa lagi? jangan suka berlebihan kalau bicara sama anak."
"Ah, Ibu memberikan nasehat biasa hanya mengingatkan, bukan mengingatkan apa-apa mengingatkan kesehatannya. Jangan terlalu memforsir diri dalam bekerja sampai habis waktu dan kurang tidur, cari orang yang bisa dipercaya untuk bisa membantu pekerjaannya sekarang sudah mulai menyita semua waktu dan hal-hal pribadinya, Ibu khawatir akan kesehatannya."
"Ya, kita sebagai orang tua wajib mengingatkan, kalau tidak ada yang mengingatkan semua akan berjalan tak terkendali."
"Itu juga kelihatan tidak sehat maklum tiap malam kurang tidur stand by di kafe sampai jam sepuluh malam apalagi malam minggu sampai jam dua belas. Kadang kalau malam minggu tutup jam dua belas pasti dia paling bisa tidur jam satu atau jam dua dinihari."
__ADS_1
"Ya, ya ya tuntutan pekerjaan tapi selagi kita bisa mengatur waktu kita bisa bahagia di bidang apapun juga enak saja dijalani. Tapi sepertinya ada yang kurang dengan Alya, ya seperti kata Ibu tadi kurang bisa memanage waktu dan membagi tugas dengan orang lain sehingga semuanya bisa berjalan dengan baik."
"Iya, maunya Ibu juga seperti itu jadi dia kerja normal aja berangkat pagi pulang sore paling kadang-kadang malam hanya sekedar mengontrol. Bertemu dengan para pelanggannya kalau kerja di cafe mungkin seperti itu kehadiran pemilik juga sangat dibutuhkan karena marketingnya ya dari mulut ke mulut, sahabat bawa sahabat teman bawa temannya akhirnya semua berkaitan."
"Tapi dia nggak kelihatan sakit kan Bu, cuma kurang tidur aja?"
"Iya, berawal dari kurang tidur jadi kelihatan loyo seperti itu, udah suruh istirahat sama Ibu."
"Kita beri motivasi aja pelan-pelan bagaimanapun juga ada campur tangan kita dalam karakter Alya, Kita terlalu memanjakannya terlalu posesif setengah mengekangnya mungkin semua itu berimbas kepada kehidupannya nggak apa-apa."
"Terlalu sayang juga kita salah ya Pak. Walaupun secara kemandirian tidak bisa diragukan lagi."
"Harus tetap di dampingi Bu. Jadikan kita orangtuanya sebagai sahabat terbaiknya."
"Tadinya Ibu mengusulkan sahabatnya itu Pak yang suka ke rumah kita Desty untuk bisa bekerja sama Alya. Biar mengurangi beban Alya yang selama ini full pengurus cafe dan bakery nya, tapi terlambat Desty sudah bekerja di tempat lain."
"Apa Alya nya sudah merasa kewalahan dan berat menangani semuanya? kalau masih dirasa mampu kenapa harus mencari orang lagi? nanti juga dia akan mencari dengan sendirinya saat dirasa semua tak tertangani lagi dan tenaganya tak sanggup dipaksakan."
"Gimana sih Pak? kalau nunggu sampai kewalahan itu terlambat namanya, harusnya sejak awal sudah di persiapkan, Ibu bukan mau anak kita seperti ini, berkarir boleh berkarir tetapi biasa saja jangan sampai Ibu mau bertemu juga tidak bisa."
"Itu resiko dari pekerjaan Bu, dari perusahaan kecil kita berharap besar dan maju kalau sudah maju kita merasa kewalahan."
"Itu semua bisa mencari solusinya Pak, tapi anak kita Alya semakin tenggelam ke dalam pekerjaannya kapan dia mengenalkan seseorang kepada kita? ataukah kita bahas lagi seperti yang kemarin-kemarin kita cari kan jodoh dan kenalkan seseorang untuk bisa dekat dulu?
Ibu khawatir semakin terlewat usia semakin malas seorang perempuan mencari teman hidup, semakin mandiri seorang perempuan semakin segan laki-laki untuk mendekatinya."
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
Hai, readers tercinta habis baca
"Biarkan Aku Memilih" Jangan lupa mampir ke karya bertitel "My Husband Is A Vamvire " author ntaamelia sahabat terbaikku sangat berbakat, baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!
__ADS_1