Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Sama-sama kecewa.


__ADS_3

"Baiklah Aku pamit ya dok, minggu depan ke sini lagi hanya cek saja kan?"ucap Alya dengan senyum manisnya.


lalu bangkit dan mereka bersalaman.


"Ya baiklah." jawab dr Imam sambil tersenyum memandang dan mengangguk pada Alya


Dr Imam langsung menelephon dr Prabu, tapi tidak di angkat. Satu kebiasaan yang tak biasanya mematikan ponsel kecuali sedang rapat.


Celaka! sepertinya Mbak Retno bertemu Alya di rumah makan itu, tapi semoga tak ada apa-apa.


Dr Imam menjadi gelisah, satu kesalahannya adalah meninggalkan Alya bersama dr Prabu di rumah makan, sepertinya bahagia bagi Alya tapi bagi dr Prabu itu jadi satu masalah mungkin, melihat Alya begitu sumringah raut mukanya itu yang baru saja bertemu dr Prabu. Dr Imam tahu kalau dr Prabu tadi tidak tahu kalau dirinya sama Alya, Dr Imam tak sempat memberitahukan kalau dirinya bersama Alya, yang ada di otak dr imam Intan sudah ada di kantor Kakaknya itu saja.


Dr Imam termangu sendiri, wajah Intan yang pulang ke Bandung dalam keadaan muram membuat hati dr imam tidak tenang, apalagi besok hari yang dijanjikan orang tuanya kalau ke rumahnya akan kedatangan diundang beserta keluarganya walaupun kata Ibunya semua itu hanya bersilaturahmi tahu tujuan utamanya mereka adalah mengenalkan dirinya dengan lebih jauh lagi sama Vionna.


Menimbang-nimbang ponselnya mau menelepon Intan tetapi hati menolaknya, membatalkan niatnya dan berharap Intan bisa istirahat dan berpikir tenang tak di ganggu terus dengan kegelisahan dirinya.


Perasaan kecewa dan dilema Intan antara cinta dan sikap orangtuanya mungkin sangat mengecewakan Intan, dr Imam juga merasa kecewa dengan sikap orang tuanya. Tapi sebagai Anak dr Imam mencoba lunak bersikap pada kedua orangtuannya berharap ad pengertian suatu saat nanti.

__ADS_1


Dr Imam memandang galery di ponselnya melihat satu wajah cantik entah itu tipuan dan filternya yang bagus, Vionna memang cantik tapi entah kalau sudah bertemu.


Poto postcard yang di kirim dari orangtuanya ke ponsel miliknya begitu lama dr Imam memandangnya, tapi masih cantik Intan bathin dr Iman.


Tak hanya poto, satu nomor ponsel Vionna sudah masuk di daftar kontaknya.


Dr Imam hanya melihatnya, tapi akhirnya entah dorongan apa memijitnya juga. Berharap Vionna juga seperti dirinya tak mau di jodohkan juga maunya sama pilihan hati yang sudah ada.


Tapi demi rasa hormat pada kedua orang tuanya akhirnya dr Imam tanpa bisa menolaknya untuk bertemu besok dan apa salahnya diterima dan nurut saja dulu, toh hanya perkenalkan dulu biar nanti tidak terlalu kaget kalau sudah bertatap muka minimal ada basa-basi bersama terlebih dahulu.


"Iya, ini Mas Imam ya? tumben nelepon ada apa Mas?" jawab Vionna kedengaran suaranya begitu renyah.


"Aku mau telepon aja dan kenalan dulu sama kamu, nggak ganggu kan?"


"Sepetinya Mas Imam juga nggak sabar ya? pengen segera ketemu, sama dong sepertiku tapi Aku yakin Mas Imam tidak jauh dari bayanganku selama ini, orang yang baik, ramah ganteng dengan postur tinggi gede dengan muka mirip aktor Korea semoga itu seperti harapanku," jawab Vionna di luar dugaan dr Imam. di akhiri dengan terkekeh begitu serak memikat.


Dr Imam juga tertawa, entah apa yang lucu dari ucapan Vionna tadi.

__ADS_1


"Aku no comment kalau soal bayang membayangkan,"


"Setidaknya punya gambaran dong Mas, haya satu pintaku semoga kita cocok nantinya!" ucap Vionna.


Deg! kenapa jadi begini?


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2