Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Aku serius


__ADS_3

"Mas silahkan duduk, kenapa bengong, apa ada yang aneh? mau minum apa? biar aku bikinkan."


"Perasaan aku pernah datang ke sini Al sama temanku, serius!"


Alya sumringah, walau dirinya tak bisa mengingat setiap tamu yang datang ke cafenya karena mungkin pelanggannya sudah begitu banyak.


"Ternyata cafe cantik ini punya seorang yang cantik rupanya." Rendra memandang aksesoris dan properti yang mengisi cafe itu. Selera Alya memang tinggi mengisi semua cafenya dengan sesuatu yang unik dan berbeda.


Alya merasa tersanjung, rona merah di wajahnya begitu kentara saat Rendra memujinya cantik.


Tak bisa berkata-kata selain diam terterpana, sama seperti saat mereka pulang bareng di dalam mobil bus. Rendra belum mengungkapkan perasaannya tapi prilakunya menyiratkan ke arah itu dan Alya hanya degdegan saat Rendra menggenggam jemarinya, dan Rendra membiarkan saat Alya tidur di pundaknya.


Alya mengambil minuman yang di bawa barista ke mejanya, menyimpan di hadapan Rendra dan di hadapannya satu.


"Betah banget berada di sini, tapi aku merasa nggak enak."


"Mas sungguh? aku senang banget, setiap saat Mas Rendra boleh datang ke sini kok. Tapi nggak enaknya kenapa?"


"Aku nggak enaknya akan ada yang marang nggak ya? juga nggak mau sekedar datang, duduk, hangout dan ngobrol ngobrol saja di sini, Aku mau ajak kamu bukan untuk pacaran, dan aku mengajak kamu serius, apa kamu mau aku ajak serius?"


"Mas mau ajak aku serius? aku bertanya kini, apa Mas Rendra serius? aku jamin tidak akan ada yang marah!" Alya balik tanya dan memberi kejelasan kalau dirinya orang bebas dalam arti tak di miliki siapa-siapa.


"Aku sangat serius Alya. Sejak kita berboncengan motor menuju barak pengungsian dari situ aku mulai nggak ngerti perasaanku sendiri, lanjut memeriksakan kehamilanmu saat itu aku sudah berniat ingin mencari keluargamu, agar aku bisa menyatakan keseriusanku. Kalaupun kamu saat ini sekarang masih dalam keadaan hamil aku bersedia untuk menjadi penolongmu, aku mau menjadi bapak buat anakmu, tapi kini aku menyatakan cinta kepadamu dalam keadaan kamu tidak hamil, aku bukan untuk menolong mu kini, tapi aku menyatakan perasaan cintaku yang sebenarnya." Rendra begitu serius kini.


Alya tersenyum hatinya haru, masih ada seorang pria berhati malaikat datang dan menyatakan cintanya dengan serius pada dirinya.


Alya tahu begitu hina dirinya, begitu jelek seorang Alya dengan predikat pernah hamil di luar nikah, tapi semua itu bukan suatu masalah buat Rendra, yang terpenting masa depannya akan lebih baik, dan Ibunya yang lebih dulu jatuh cinta kepada Alya bukan dirinya. Juga Ibunya yang mendorong Rendra untuk segera menyatakan cintanya.


Tapi Rendra nggak perduli dengan masa lalu Alya, baginya Alya sudah memperlihatkan niat baik dan perilaku baik. Aslinya juga dari keluarga baik-baik, apalagi Ibunya yang memberikan penilaian, Rendra tidak bisa menolak


"Al, kok malah bengong? apa boleh aku masuk di kehidupanmu dan menjadi bagian masa depanmu, aku hanya orang kampung yang tak berarti mencoba memberanikan diri mengajak kamu serius." Rendra begitu merendah.


"Maaf Mas Rendra aku terkesima, justru aku yang merasa tersanjung sama Mas Rendra, jangan memujiku terlalu tinggi, karena aku bukan siapa-siapa, aku malu sama Mas Rendra."

__ADS_1


"Malu? malu kenapa?"


"Aku malu sama kepala pimpinan cabang Bank swasta terkenal di Tasikmalaya." Rendra agak terkejut padahal dirinya tak pernah bercerita apapun tentang pekerjaannya kepada Alya, juga kepada kedua orang tua Alya yang waktu itu sama-sama menjemput Alya.


"Hah? dari mana kamu tahu?"


"Dari Ibumu!" Alya tersenyum merasa menang.


"Ya sudah, kalau identitas ku terbongkar duluan, terus ajakanku tadi gimana jawabannya?" Rendra harap-harap cemas.


"Makasih banget atas ajakannya Mas, atas pujiannya, atas penghargaannya tak ada kata penolakan untuk laki-laki yang begitu baik di hadapanku ini, mari kita menatap masa depan bersama-sama, ajarkan kebaikan padaku, bimbinglah aku menjadi wanita yang bisa lebih baik lagi, aku bersedia menjadi istrimu Mas Rendra."


Rendra tersenyum, menggapai tangan Alya dan meremas jemari itu perlahan di atas meja.


"Berarti kita jadian malam ini?" Rendra tertawa kecil memperlihatkan giginya yang putih rapi, baru kali ini Alya melihat orang tulus di hadapannya.


Alya mengangguk, mereka sama-sama tersenyum. Alya balik saling meremas jemari mereka.


"Kita pacaran mulai malam ini? Aku ingin merasakan pacaran, tapi nggak mau lama-lama sebulan aja habis itu aku akan melamarmu pada orangtua mu dan kita meresmikan hubungan kita menjadi halal." ucap Rendra mempertegas keseriusannya.


Ada rasa sedih di hati Alya, kenapa dirinya harus mengalami mengejar cinta yang begitu sulit untuk di gapai, tapi dengan sadar juga disadari semua begitu menyakitkan dan tak bisa di paksakan, akhirnya Yang Maha Kuasa punya rencana indah di balik semua permasalahannya itu, penyelesaian yang begitu baik dan bahagia.


"Hemght ... hemght ....Ngapain kalian berdua duaan di sini? ini ada apa? coba jelaskan padaku!" Tiba-tiba Desty datang mengagetkan Rendra dan Alya yang sedang berpegangan tangan.


"Gue lagi pacaran Desty, pokoknya lo jangan iri!"


"Oh, jadi serius kalian pacaran?"


Rendra sama Alya mengangguk hampir berbarengan.


"Gue nggak iri sama kalian karena gue duluan mau nikah bro and sis! nih undangannya, pokoknya jangan lama-lama pacaran deh, keburu lo berdua ngeces nggak tahan! kalau gue saranin langsung aja di sah kan."


"Haaaaaaaa ... dasar lo!" Semua tertawa.

__ADS_1


"Lo sama siapa ke sini?"


"Tuh! calon gue. Bukan direktur bukan manager, tapi pengusaha kecil-kecilan nanti setelah menikah sama gue pasti usahanya akan besar!" Seorang laki-laki berjalan menghampiri meja mereka dan bersalaman.


"Ini yang lo beri julukan 'direktur kios' Desty?" Calon Desty hanya nyengir saja, tahu kalau kekasihnya suka nyablak seenaknya.


"Haaaaaaaa ... lo ingat aja Al, nanti usaha gue tiba-tiba aja besar! setidaknya kita punya harapan dan motivasi untuk terus maju dan merubah diri."


"Gue do'ain dan Aamiin kan Desty, semoga semua jadi kenyataan, yang pasti setelah lo menikah yang akan membesar duluan adalah perut lo!"


"Haaaaaaaa ...."


"Pokoknya jangan lama-lama deh, biar kita bebas celap-celup."


Rendra tertawa, merasa lucu melihat kebebasan dua sahabat itu dalam mengekspresikan perasaan ke dalam obrolan mereka yang begitu akrab dan hangat.


"Paling gue juga sebulan, nanti siap nyusul, Mas Rendra pengen merasakan dulu yang namanya pacaran katanya, ya kan Mas?"


Rendra mengangguk, menatap senang pada wajah Alya yang kelihatan bahagia.


"Boleh lah, selagi kita masih bisa, lakukan yang membuat kita sama-sama senang, sambil memupuk perasaan kita. Kalau gue jujur dua-duanya udah pada nggak tahan, karena pemupukan terlalu lama dan banyak, jadi siap menuju pembuahan."


"Haaaaaaaa ...."


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2