
"Desty, jujur dan terus terang padaku agar aku sebagai orangtua Alya bisa mengambil keputusan yang bijaksana.
Seandainya tidak ada cerita yang di karang-karang, semua akan mudah mencari jalan keluarnya."
Desty diam. Pikirannya bingung entah harus darimana ia mulai bicara, dan bercerita mengatakan yang sebenarnya.
"Aku mengharapkan kejujuran mu, cerita yang sebenarnya karena kalau aku bertanya kepada Alya aku takut malah menjadi beban dan dia malah depresi nantinya."
Desty masih diam, menyimak dulu apa yang di katakan Pak Sofyan Wijaya.
"Kamu temannya Alya pasti tahu yang terjadi dengan temanmu, mustahil kamu nggak tahu."
Haruskah Desty berbohong pada orangtua Alya? apakah kebohongannya suatu saat tak akan terungkap? Desty bingung di satu sisi dirinya ingin membela Alya dengan mengalihkan alibi. Tetapi di sisi lain seandainya semua ini sampai mengarah ke jalur hukum akan celaka dan terungkap ucapan kebohongannya.
"Saya bingung Pak, saya harus. cerita apa dan darimana."
"Ceritakan, yang menurut apa kata hatimu, sepengetahuan mu dan yang sebenar-benarnya."
Kebimbangan masih tetap saja meliputi hati Desty hatinya berperang antara sahabat dan orang tuanya. Antara kebenaran dan kesalahan, Desty juga tahu dr Prabu yang akan menjadi objek korban apapun alasannya memang tak di benarkan melakukan pemaksaan.
Apakah itu di paksaan? bukankah Alya sendiri yang memancing mancing sehingga terjadi pemaksaan, Bahkan perbuatan Alya pun termasuk tindakan pidana meracuni orang dengan tujuan tertentu Itu memang masuk ke ranah tindakan melawan hukum juga.
Entahlah semua ini siapa yang benar dan salah, dirinya pun masih bingung.
"Awalnya seperti apa, ceritakan semuanya sedetil detilnya! karena kamu juga sebagai sahabatnya akan terbawa-bawa, kesaksian kamu akan aku bawa ke jalur hukum seandainya dr Prabu tak mau bertanggung jawab."
"Maafkan saya Pak Sofyan, saya hanya mendengar dari pengakuan Alya saja, saat kejadian yang sebenarnya saya tidak tahu, saya sedang tidak bersama Alya saat itu karena saya punya kesibukan dan juga bekerja."
"Oke, saya mengerti, ceritakan saja pandangan kamu terhadap kasus anakku ini."
"Sebenarnya gini Pak, Alya yang menurut saya bersalah." Desty bermaksud jujur dengan sejujur jujurnya.
"Hah, Apa? Alya yang bersalah? bukankah Alya korban pemaksaan hingga hamil dan di mana letak salahnya?" Pak Sofyan menggebrak meja terras hingga Desty merasa takut."
__ADS_1
"Pak! mau dengar cerita dan pendapat juga pandangan saya? coba tenang dulu saya minta waktu untuk bercerita dulu, bukankan belum ada kesimpulan kalau belum tahu cerita yang sebenarnya dari a sampai z kronologis kejadiannya seperti apa? saya juga bisa marah dan tak perduli, apa untungnya buat saya melibatkan diri dalam kasus dan masalah ini!" Alya balik marah dan emosi.
Baru kali ini rakyat seperti Desty memarahi dan membentak walikotanya, ya Desty hanya orang biasa cuma punya hubungan pertemanan luar biasa dengan Alya, sehingga dalam masalah ini mau tidak mau menjadi masalahnya juga, karena kesaksiannya dianggap tahu masalah Alya.
Pak Sofyan Wijaya menyadari kesalahannya, meminta maaf kepada Desty karena dirinya terlalu emosi dan juga dirinya terlalu tidak fokus karena masalah besar yang sedang menimpa keluarganya.
"Sekali lagi maafkan saya, Desty silahkan lanjutkan. Saya janji akan mendengarkan kesaksian kamu."
"Waktu itu Alya mau nonton pertandingan turnamen bulutangkis di GOR rumahsakit, bertemu dr Prabu di parkiran atau entah di pelataran rumahsakit, Alya mengajak dr Prabu mengambil kameranya yang tertinggal di cafe. Dari situ niat jelek Alya timbul, Alya begitu menyukai dr Prabu, itu sudah lama saya tahu."
Desty menarik nafas berat, memandang Pak walikota yang terlihat kusut.
"Alya menaburkan obat tidur di kopi twister dr Prabu."
"Astaghfirullahaladzim, apa maksudnya?"
"Sudah aku bilang, kalau Alya menyukai dr Prabu, dan saya tahu Alya pernah menyatakan perasaannya. Tapi dengan halus dr Prabu mengatakan sudah punya kekasih dan sudah merencanakan masa depannya.
Pak Sofyan Wijaya, menyimak dengan seksama, tak ingin kehilangan satu katapun dan ingatannya akan ucapan keterangan Desty.
"Kamu yakin seperti itu?"
"Jujur tadinya saya ingin berbohong dan mengatakan kalau dr Prabu yang maaf melakukan pemaksaan pada Alya, tapi saya tak mau mengambil resiko dapat masalah ini berlanjut panjang dan melibatkan saya terlalu jauh untuk menjadi saksi."
Pak Sofyan terdiam lama mencoba mengerti apa yang di katakan Desty kata demi katanya.
"Dr Prabu melakukan itu mungkin dengan sangat marah, merasa di lecehkan dan merasa di hina, mungkin semua orang juga akan merasa seperti itu, apalagi ini di lakukan dan di jebak seorang perempuan."
"Desty, maaf memotong dulu. apa keterangan yang kamu ucapkan ini pengakuan dari Alya sendiri?"
"Ya, sesaat setelah kejadian saya di telephon dan di paksa datang, saya mendapatkan Alya dalam keadaan masih kusut dan panik, juga stress, masih di tempat tidur sementara dr Prabu telah menghilang dan kata Alya dr Prabu pergi dengan membanting pintu dan dengan amarahnya."
"Ya ampun, Desty apa yang harus aku lakukan? apa kamu ada saran terbaik untuk jalan keluar masalah Alya?" Baru kali ini seorang walikota meminta saran dan pendapat dari seorang rakyatnya yaitu teman anaknya Desty yang juga masih seorang gadis.
__ADS_1
"Satu lagi Pak, kata-kata dr Prabu saat meninggalkan Alya dia mengatakan seperti ini katanya, Jangan cari aku untuk meminta pertanggungjawaban seandainya kamu hamil, nikmatilah karena itu adalah kemenangan mu, dan itu yang kamu harapkan. Daripada aku bertanggung jawab dan menikahi kamu lebih baik aku dipenjara, kurang lebih seperti itu ancaman dr Prabu Pak."
"Ya Desty, akan aku cari jalan solusinya. Seandainya ada masukan dari anak muda sepertimu katakan pasti akan aku pertimbangkan."
"Bagaimanapun juga semua telah terjadi Pak, cobalah bicara dulu pada dr Prabu, baik-baik dan dengan cara kekeluargaan, dia nggak bisa lepas tangan begitu saja, ada darah dagingnya di perut Alya. Bagaimana baiknya. Apa menikah dulu sampai anaknya lahir, mau resmi mau siri apa baiknya, kecuali dr Prabu menolak mentah-mentah mungkin maaf Bapak bisa mencarikan suami buat Alya."
"Desty, semua yang kamu katakan belum terpikirkan olehku. ada sedikit terbersit dalam hatiku untuk datang baik-baik kepada dr Prabu tetapi melihat permasalahannya aku sendiri yang merasa malu."
"Jangan pesimis Pak, kalau belum di coba, jadi cobalah... jalan apapun harus di upayakan terlepas siapa yang salah dan siapa yang benar."
"Terimakasih telah proaktif, dan kamu begitu baik Desty, aku mohon jangan tinggalkan Alya yang saat ini perlu teman dan pendampingan."
"Ya Pak."
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta! habis baca...
..."Biarkan Aku Memilih" Jangan lupa mampir ke karya...
...terbaik bertitel,...
..."Pesona Aryanti"...
...By Enis Sudrajat, baca, like,...
...vote dan beri hadiah...
__ADS_1
...juga ya🙏...