Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Pengakuan dr Imam


__ADS_3

"Lesu amat kenapa? apa karena Intan sakit jadi merasa ikut sakit juga?" ucap dr Prabu saat dr Imam masuk ke ruangannya.


Deg! Intan sakit? Dr Imam langsung tertegun, terakhir bicara saat dirinya bohong ada panggilan penanganan darurat dan tak jadi datang malam minggu itu.


Dr Imam langsung duduk di sofa ruangan dr Prabu, dan dr Prabu tetap di meja kerjanya.


'Ya Allah begitu bersalahnya dirinya, Intan maafkan Aku,' mungkin dari tak tenang pikiran Kamu dan berpikir terlalu berat, terus di tambah dengan kesibukan akhir masa kuliah yang begitu menyita waktu dan tenaganya akhirnya Kamu tumbang juga. Dr Imam kelihatan semakin gelisah saja.


Hati dr Imam sedih mengingat dari mulai pulang ke Bandung, Intan sudah begitu sedih dan kecewa, tapi mau gimana lagi kalau harus memilih antara kedua orang tuanya juga Intan kekasih hatinya sungguh itu bukan pilihan mudah bagi dr Imam.


"Kok, Intan tak kabari Aku Bos? Intan sakit apa?" jawab dr Imam memperlihatkan perhatiannya.


Wajah Intan seperti membayang di depan matanya, saat sedih begitu manja memeluk sebelah lengannya dan bercerita apa saja.


"Mungkin meriang biasa, tapi sudah Aku suruh pulang dulu istirahat di rumah saja biar Rahma yang jemput, kalau di kost-kostan siapa yang akan mengurus? jadi kapan sembuhnya, tadinya kalau dr Imam ada waktu biar tolong diantar dulu tapi Intan menolak katanya mau pulang sama teman saja ada yang mau antar," jawab dr Prabu, sambil meneliti wajah dr Imam yang gelisah dan agak muram juga kusut.


Dr Prabu tahu, hanya sekedar basa-basi saja, bahkan dr Imam bohong juga pada Intan tahu semuanya karena Intan sendiri yang tanya waktu itu kalau dr Imam benar masuk dan ada penanganan darurat?


Pada kenyataannya tidak ada panggilan dan menggantikan dr lain yang berhalangan, dr Prabu cukup tahu saja, mengerti kegalauan sahabatnya.


"Aku merasa bersalah Bos pada Intan, di rumahku ada saudara jauhku ambil cuti seminggu kedepan dan da di sini, Aku bingung apa yang harus Aku lakukan? sedang orangtuaku begitu menekanku sedemikian rupa." Akhirnya keluhan dr Imam keluar juga.

__ADS_1


Mungkin sekedar mengatakan saja karena semua dirinya yang menjalani.


Sekarang Intan sakit, mungkin dirinya juga kalau hatinya begitu rapuh seperti perempuan pasti sudah sakit juga, tapi dr imam berusaha setegar mungkin dan harus bisa memberi semangat pada Intan.


Satu lagi harus bisa lebih bijaksana kalaupun menolak pada Vionna harus dengan alasan yang bisa di pahami.


"Itu masalah yang sangat pribadi, Aku tidak bisa berkomentar banyak, menurutku balik lagi pada hati dan niat diri, Maaf bukan karena Aku ada di posisi keluarga Intan, tapi secara pandangan umum saja, lebih baik terus terang walau itu menyakitkan daripada berlaku dan berkata iya tapi hati berkata tidak! atau ikuti saja apa maunya orang tua walau itu pahit dan mengorbankan perasaan diri sendiri juga Intan, seiring berjalannya waktu semua akan baik baik saja." Panjang dan bijaksana semua yang diucapkan dr Prabu.


"Aku tidak bisa sejalan dengan Vionna, kalau kecocokan semua bisa belajar pelan-pelan, tapi semua Aku pikir dengan sejujurnya satu kata Aku tidak mencintainya," ucap dr Imam dengan sejujurnya.


"Tapi apa yang dr Imam perjuangkan dengan Intan yakin akan mendapat restu seandainya dr Imam menolak apa yang di sodorkan orangtua dr Imam?" tanya dr Prabu melihat peluang Intan Adiknya sebagai bahan masukkan nanti lebih baik bertanah dengan cintanya terus atau mundur secara pelan-pelan.


"Oke, kalau itu keyakinan dr Imam, perjuangkan dan bijaksana lah dalam mutuskan karena salah mengambil keputusan akan ada sesal di sisa hidup kita, itu benar adanya, satu lagi waktu itu dr Imam pasti tidak menyangka kalau saat Intan mau pulang ke Bandung dr Imam meninggalkan Aku sama Alya di rumah makan Itu, Retno datang bawa ponsel Intan yang ketinggalan di rumah maksudnya menyusulkan ponsel punya Intan, Retno mendapatkan Aku bersama Alya di satu meja dan bisa di bayangkan apa yang terjadi? Retno meradang sampai saat ini belum baikan," ucap dr Prabu seperti menyayangkan kejadian yang tak harusnya terjadi saat itu.


"Astagfirullah, ya ampun Bos maafkan Aku, Aku tidak sadar semua jadi kacau ya? sedikitpun Aku yak menyangka akan seperti itu," jawab dr Imam SpOG dengan mimik muka begitu merasa bersalah.


"Sebenarnya bukan hanya kejadian di rumah makan itu, Retno sama Bi Iyah ke pasar belanja bertemu Alya juga di sana, entah apa yang diucapkan Alya Retno begitu sakit hati dan marah besar sampai rumah, Aku belum bisa meredakan marahnya sampai saat ini, Retno mau pindah dokter dan mau melahirkan di rumah sakit lain yang tadinya mau di Pekalongan, Aku jadi cemas juga." penuturan dr Prabu membuat dr Imam kaget luar biasa menyadari itu kesalahannya.


"Bos Aku minta maaf, Aku tak sengaja meninggalkan Bos di rumah makan itu berdua sama Alya, pikiranku banyak orang di situ tak tahu kalau Mbak Retno mau datang ke situ, Astaghfirullahaladzim kok Aku jadi begitu kacau ya?" jawab dr Imam memejamkan mata sejenak dan mengusap mukanya.


"Minta maaf sama Retno, tapi sekarang masih marah, kalau bisa bujuk Dia biar tidak pindah dokter dan tetap kalau bisa jangan pindah rumah sakit lahiran di sini saja, tapi mungkin yang paling bisa Aku terima apa boleh buat demi kenyamanan sepertinya pindah rumahsakit itu keputusannya, walau itu yang tak bisa Aku terima Retno mau pindah dokter dan rumah sakit ini mungkin yang paling penting pokoknya tidak mau berurusan dan bertemu dengan yang namanya Aliya lagi, bagaimana?"

__ADS_1


Dr Imam terhenyak sendiri di sofa ruang tamu dr Prabu, satu belum selesai ada lagi maslah baru.


"Sana praktek dulu, nanti di sambung obrolannya kita makan siang bareng biar nanti leluasa ngobrolnya," ujar dr Prabu mengingatkan kalau mereka mengobrol sudah terlalu panjang dan makan waktu.


Dr Prabu menepuk pundak sahabatnya, sling senyum dan anggukan itu perpisahan mereka pagi itu.


"Mungkin nanti menjemput Intan bisa ya? kalau sudah sembuh?"


Dr Imam mengangguk samil menyunggingkan senyum dingin tanpa ekspresi seperti biasanya.


Makan siang ya? kalau makan siang bersama Bos pasti makan siang ada alasan pada Ibunya juga pada Vionna nanti.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2