
"Kalian rapi banget juga putri Ibu sangat cantik dengan penampilan barunya, kalian mau ke undangan?" ucap Ibu Sofyan Wijaya sambil duduk di meja makan menemani Anak dan menantunya yang baru keluar kamar.
"Nggak Bu, mau ke cafe seperti biasa persiapan malam minggu, mau mengontrol ke bakery juga mungkin kalau sudah beres semua pekerjaan mau jalan-jalan karena Mas Rendra kebetulan lagi cuti hari ini dan dua hari ke depan katanya," jawab Alya sambil tersenyum pada Rendra.
"Oh, alah... begitu dong kalian saling nyenengin Ibu juga jadi ikut senang melihatnya," ucap Ibu Sofyan Wijaya dengan mimik muka gembiranya melihat Alya begitu berseri di pagi menuju siang hari itu.
"Mas Rendra mau kasih Alya kejutan Bu katanya, nggak tahu apa semoga saja membuat Alya benar-benar terkejut tetapi apapun itu Aku tetap berterima kasih pada Mas Rendra," ucap Alya sambil mengusap pipi suaminya.
"Eh, barangkali Ibu juga mau ikut boleh kok!" ucap Rendra sambil tersenyum pada Alya juga Ibunya.
"Kalian saja yang pergi, Ibu mendengar saja nanti kejutannya apa, Ibu banyak kegiatan di lingkungan juga di kantor Bapak." Bu Sofyan Wijaya memberi alasan padahal yang sebenarnya bukan masalah kegiatan tetapi tak ingin mengganggu kemesraan dan kebahagiaan putrinya.
"Bener Ibu nggak ikut nih?" sambung Alya.
"Ibu sudah tua mendengar kejutan kejutan sepertinya sudah kurang greget lagi, nggak kayak kalian yang masih muda carilah kebahagiaan sana, dulu juga Ibu sama seperti itu selalu menyempatkan jalan-jalan dan pergi bersama untuk menambah rasa dan saling memiliki malah Ibu sama Bapak dulu kadang menginap di hotel ada dua atau tiga malamnya kalau lagi libur, begitulah mencari suasana baru tidak ada salahnya saling menyenangkan pasangan."
"Aih.... romantis banget ternyata Ibu sama Bapak ya?" ucap Alya di sambut senyum Rendra dengan senangnya.
"Ibu sama Bapak masih kelihatan romantis sampai sekarang Al!" timpal Rendra sambil meminum minumannya.
"Alya minta maaf ya Bu, karena Alya belum bisa memenuhi harapan Ibu sama Bapak juga Mas Rendra sampai saat ini, tetapi mulai saat ini Alya menyadari semua itu adalah kesalahan. Alya ingin segera memprogram Anak dengan sebenarnya tidak hanya alasan seperti kemarin-kemarin," ucap Alya dengan sedikit malu. segala hal yang dirinya lakukan kemarin-kemarin semua di rasa tidak masuk akal hanya untuk pergi ke rumah sakit dengan tujuan hanya untuk melihat dari dekat dr Prabu, melihat senyum dan bicaranya adalah kebahagiaan bagi Alya saat itu.
__ADS_1
"Aku selalu memaafkan mu Al, dan berdo'a semoga keinginan kita bisa di mudahkan dan di beri jalan, kalau mau mengikuti seperti Ibu Bapak juga ayo aja kita liburan ke mana Kamu mau mencari suasana baru."
"Bener Mas?" ucap Alya tak percaya. Rendra selama ini yang dipikirkannya hanya pekerjaan serta disiplin waktu yang dijalaninya makanya Alya merasa heran saat mendengar Mas Rendra ingin menyenangkan dirinya dan mengajak berlibur satu kesenangan dan Alya sudah punya satu tujuan untuk berlibur yang diidamkannya.
"Boleh banget kok Al, masa buat istri dan keluarga Aku nggak bisa sempatkan waktu? nanti Kita rencanakan dengan matang sekarang Kita keluar dulu katanya nggak sabar ingin melihat kejutannya?"
Alya tersenyum sambil merangkul Rendra yang masih duduk di meja makan. Semua perhatian Rendra mengikis khayalan Alya tentang fantasi liar yang selama ini menghantuinya membuat Alya hilang kontrol.
Mungkin juga ultimatum Bapak Sofyan Wijaya karena sudah terlalu bosan mendengar ulah putrinya dari semasa masih single sampai sekarang masih saja membuat Pak Sofyan Wijaya dan Istri tidak tenang Akhirnya Pak Sofyan Wijaya menyerahkan sepenuhnya kali ini Alya pada suaminya ternyata terbukti dengan cara seperti itu Alya juga merasa agak takut dengan peringatan yang disampaikan Bapaknya yang sudah di ucapkan dengan kemarahan.
Alya sadar semua rasa cintanya pada dr Prabu harus dikubur dalam-dalam dan harus bisa menata dirinya sendiri juga masa depannya kalau cinta yang sebenarnya ada di depan mata adalah Rendra suaminya kini.
Kata cerai dan perpisahan sempat terucap Alya walau Rendra tidak begitu menanggapinya mungkin semua itu adalah ucapan perasaan putus asa seorang Alya yang tidak punya pegangan dan saat hatinya galau.
Tapi semua itu ditanggapi Bapak Sofyan Wijaya dengan kemarahan kalau sampai Alya minta cerai dan mereka tidak bersatu lagi mungkin pupus sudah harapannya kegagalannya sempurna dalam mendidik Anak lebih baik Alya hengkang dari hadapannya daripada terus-menerus mendatangkan masalah di dalam keluarganya dan ancaman itu memang cukup manjur membuat Alya sadar diri dengan kesalahannya selama ini.
Ibu Sofyan Wijaya mengantarkan Anak menantunya ke depan dengan perasaan bahagia melihat kemesraan yang diperlihatkan Alya membuat hatinya begitu bersyukur dan dadanya yang dari kemarin-kemarin dirasa sesak kini semakin longgar disertai harapan dan do'a semoga kebersamaan Itu membuahkan hasil karena melihat Anaknya bahagia adalah suatu kebahagiaan juga bagi dirinya.
Satu harapan akan hadirnya cucu dalam keluarga kecilnya tak bisa di pungkiri lagi, semua itu jadi harapan yang paling diidamkannya.
Terbongkarnya kebohongan putrinya selama ini kalau program anak yang selama ini dilakukan pergi ke rumah sakit hanya formalitas saja dan juga setelah tahu selama pernikahannya Alya memasang kontrasepsi tanpa izin suaminya begitu menohok perasaan Bapak Sofyan Wijaya beserta Ibunya, karena tak habis pikir apa yang diinginkan putrinya selama ini.
__ADS_1
Kini semua itu kelihatan telah Alya sadari sepenuhnya kalau semua itu adalah kesalahan luar biasa yang telah dilakukannya.
Memikirkan orang lain tidak salah tetapi apa untungnya Kita memikirkan orang lain yang sama sekali tidak memikirkan Kita? begitulah pemikiran Ibu Sofyan Wijaya pada putrinya dan semua itu telah dijejalkan sebagai nasehat seorang Ibu kepada Anaknya. Kenyataan di depan mata suamimu itu baik suami kurang apa? suaminya begitu tinggi jabatannya, apa yang Kamu cari kalau hanya mencari kebahagiaan ciptakan sendiri kebahagiaan itu dari dalam hatimu dan semua itu kini terlihat Alya meresapi semua apa yang dinasehati Dirinya sebagai Ibu.
"Mas, Kita ini mau ke mana?" tanya Alya sambil tangannya dengan nakal menggelitik paha Rendra yang asyik mengendalikan kemudi.
"Ada deh, tapi Kamu janji Al kalau memang menyukai kejutanku cium Aku ya?" ucap Rendra berusaha menggoda Istrinya.
"Jangankan cium Mas buka baju juga boleh!" jawab Alya seperti menantang. Karena merasa tak ada gambaran sedikitpun apa yang akan menjadi kejutan suaminya saat ini.
"Hahaha.... dasar Kamu nakal nggak ada kenyangnya, semalam sampai pagi berapa kali? masih kurang? untung Aku lagi cuti kalau nggak cuti bisa bisa tidur di kantor!" jawab Rendra membuat Alya tersenyum sambil mencubit pinggang suaminya.
.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1