
"Retno duduk sini sayang, sudah lebih dua minggu Ibu hitung semenjak kedatangan kamu ke sini tak ada riak-riak langkah kamu untuk keluar dari permasalahan atau menyelesaikan masalah, akan seperti apa rumah tanggamu?"
Retno hanya diam, tak banyak yang dilakukannya setiap harinya hanya keluar naik motor beli makanan, dan melakukan riset riset kecil untuk bahan skripsinya. Ke kampus bertemu temannya dan balik lagi mengurung diri di kamarnya.
Menghabiskan hari dengan merenung dan mengalihkan semua masalahnya yang tak bisa di alihkan dan di lupakan, malah semakin ingin melupakan suaminya malah semakin sakit dalam dada dan perasaannya.
Mendengarkan musik, terasa tiap bait lagu malah mewakili perasaannya, dan menyindir permasalahannya.
Adakalanya seperti kisahnya yang sangat menyakitkan.
Belum sedikitpun menyentuh laptopnya, untuk memulai menjabarkan, mempresentasikan, menuangkan hasil risetnya. Retno hanya merenung dalan sunyi, dalam sendiri di tengah keramaian. Begitu terasa hanya dirinya yang paling terpuruk begitu dalamnya.
"Aku bingung Bu."
"Ibu mengerti, kamu malah semakin kelihatan kurus, jaga kesehatanmu gimana mau menyelesaikan masalahmu kamu sendiri bermasalah."
Retno hanya diam.
"Kelihatannya kamu nggak pernah makan, Ibu nggak mau kamu seperti itu, hak tubuh kita mendapat asupan makanan, apa aja asal masuk, makanan di meja makan nggak pernah di sentuh, jangan siksa tubuhmu, cukup hati dan perasaan yang belum bisa terobati, semua orang pernah dalam kondisi lemah terpuruk dan jatuh, merasa terlempar ke jurang terdalam dan tak ada harapan."
Retno masih saja diam, dan hanya memainkan ballpoint di tangannya.
"Tapi bangkit lawan semua itu, Mau konyol, mau berubah? ya rubah sama kita! memang tak mudah tapi setidaknya harus memulai. Ajak temanmu, biar berdiskusi di sini siapa tuh teman kuliahmu yang heboh itu?"
"Ella sama Ismi, tapi aku terlalu takut karena mereka terlalu ingin tahu akan masalahku."
"Ceritakan sekalian pada mereka biar tidak menjadi beban di hatimu, teman setia akan membantu dan memberi solusi bukan malah membenci, biar tidak membebani mu dalam membikin skripsi kamu itu."
"Tapi aku merasa belum siap Bu."
"Jadikan teman-teman kamu sebagai teman diskusi, dan teman berbagi, kecuali tetap simpan rapat rahasia rumahtangga mu, jangan sampai bibir kamu membukanya."
"Iya saran Ibu akan aku coba, aku ajak teman ke sini untuk bisa saling tukar pikiran."
"Kenapa kamu menutup diri untuk komunikasi dengan suamimu? alangkah tidak baiknya putus komunikasi sama sekali, kalau ada apa-apa kamu akan menyesal, bagaimanapun dr Prabu masih suamimu."
"Aku merasa belum siap Bu, untuk berkomunikasi ataupun ngomong aku sungguh belum bisa."
__ADS_1
"Kamu tak sedikitpun memberi celah suamimu untuk memberi khabar, saran Ibu berikan nomor telepon mu untuk memudahkan kalau ada apa-apa walaupun pasif dan kamu nggak mau menjawab teleponnya atau membalas pesannya."
Retno diam dan sesekali menatap suster kepala Harni.
"Kalau kamu belum siap enggak apa-apa, tapi kalau kamu sudah siap biarin nanti Ibu yang ngasih nomor telepon kamu.
Biar kamu juga tahu seberapa jauh dia melakukan tanggung jawabnya seberapa jauh dia berusaha menyelesaikan masalahnya."
Pembicaraan selesai dan Retno hanya melihat tudung saji meja makan suster kepala Harni tak sedikitpun semua menu menariknya, Bu Harni hanya geleng-geleng kepala.
Retno keluar dari ruang tamu Bu Harni dan masuk ke kamarnya membuka laptop dan memeriksa e-mail dan yang lainya.
Hati Retno berdebar, ada e-mail yang entah kapan di kirimnya, begitu panjang dan mungkin di kirim bukan hanya sekali. Retno mulai menelusuri kata dan kalimat mulai membaca demi bait, kata kata yang membuat hatinya perih.
Retno, aku paling tahu dan mengerti isi hatimu, kamu marah kamu benci, kamu kecewa padaku aku tahu! Kamu memutuskan hubungan hingga tak ada nomor yang bisa aku hubungi, aku coba mengerti semua itu.
Mengerti, itulah sekarang kata yang sedang aku maknai dari semua kejadian yang kita lalui, kini aku jalani semuanya dengan ikhlas.
Aku tahu kamu belum membuka e-mail ini tapi aku tak perduli, aku ingin menyampaikan catatan perjalanan hidupku padamu sayang...
Aku telah datang pada keluarga A sebagai bentuk tanggung jawab penyelesaian masalah yang entah seperti apa, tapi A menghilang entah ke mana, sanak saudara telah di hubungi, nggak satupun yang tahu atau kedatangan dirinya.
Tak ada rasa yang lebih menyiksa selain saat aku tak tahu khabar istriku, tapi aku berdo'a semoga kamu dalam keadaan baik-baik saja.
-Sangat merindukanmu...
Berjuta kerinduan di hatinya merasa tergugah, tapi kalah dengan ego bencinya. Hatinya berperang melawan perasaan nya sendiri.
Kata-kata mendamba dan harapan akan khabar baik tentang dirinya begitu menguras perasaan dan hatinya sangat hampa kini, airmatanya tak sanggup membendung perasaannya, Retno terisak sendiri di depan laptopnya sambil mengusap tulisan di layar monitor yang menjadi wakil dari suaminya.
Di bacanya berkali kali dengan hati yang begitu sakit tinggalkan sesak dalam dadanya, dan buliran bening diujung bola matanya.
"Mas Prabu...aku juga merindukanmu, tapi hatiku belum bisa memaafkan mu. Aku akan mencoba maafkan tapi entah sampai kapan hati ini bisa berdamai dengan kenyataan."
Retno sayang, kuharap kamu dalam keadaan baik-baik saja, oh ya sudah sampai di mana skripsi mu, kalau ada masalah aku siap memberikan referensi kemampuanku, kamu bisa mengandalkan ku.
Retno, tak pernah aku merasakan kerinduan seperti ini, selain kerinduan pada istriku tersayang, tapi aku tak berdaya, hanya kata 'maafkanlah aku' itulah kata yang selalu bergaung di dalam hatiku.
__ADS_1
Retno semakin tak kuasa hatinya, begitu banyak yang Mas Prabu kirimkan melalui e-mail, dengan memanggil nama suaminya Retno bercucuran air mata di depan laptopnya.
Retno sayang, serasa tak berguna hari hariku, aku tak ingin gila dan jadi orang yang merindu tak berpadu, Aku ingin memanfaatkan ilmu dan tenagaku di tengah masyarakat, aku akan menjadi relawan tenaga kesehatan untuk kemanusiaan di tengah bencana alam yang terjadi di Jawa Timur.
Aku memohon izin mu.
-Aku sangat merindukanmu sayang...
"Mas, kita akan semakin jauh, ada do'a terbaik juga untukmu, semoga Mas selamat."
Jauh di salah satu sudut hati Retno begitu tak rela berpisah jauh, walau sekarang juga mereka telah berpisah, tapi semua telah terjadi, dan satu pikiran yang tambah mengganggunya kemanakah menghilangnya si ulat bulu gatal Alya?
Retno membuka e-mail yang ada di ponselnya sama ada pesan yang di kirim sama Mas Prabu, Retno mencari tanggal pengiriman terakhir, sudah dua hari yang lalu.
Berarti Mas Prabu sekarang sudah ada di daerah bencana.
Mungkin sudah sibuk dengan kegiatan medisnya di tengah-tengah masyarakat yang terdampak erupsi awan panas gunung itu.
Tak salah sedikitpun apa yang di sampaikan Ibu Harni, beri celah untuk informasi walau kita tak mau menerima panggilan dan membuka pesannya.
Sekarang terbukti dirinya tak tahu sama sekali kegiatan yang Mas Prabu lakukan kalau tak mengirim e-mail.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
Hai, readers tercinta! habis baca
"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, PESONA ARYANTI
By Enis Sudrajat juga, baca, like,
vote dan beri hadiah ya!
__ADS_1