
Retno memalingkan mukanya tak mau melihat dr Prabu yang tetap bicara lembut pada dirinya, hanya satu yang ingin Retno lakukan ingin cepat sehat dan bisa pulang secepatnya dan mengakhiri keberadaannya di sini.
"Ajeng saya kembalikan ini punya kamu kan?" masih seperti dulu dr Prabu memanggilnya dengan panggilan istimewa, ada rasa tersendiri di hati Retno saat mendengarnya.
Sekilat Retno melirik ponselnya ada di tangan dr Prabu, dan Retno mau mengambilnya tapi dr Prabu malah menjauhkannya dari jangkauan tangan Retno dan malah menangkap tangan itu lalu memasukkan satu cincin dan mencium tangan itu begitu lama, lalu memberikan ponsel itu ke tangan Retno.
Retno hanya tertegun dan bengong, kok ponselnya bisa ada di tangan Mas Prabu? berarti semalam dia merayap mencari cari dari saku jaket yang melekat di tubuhnya, sembarangan banget tuh orang, dan pasti ponselku sudah di buka bukanya.
"Maaf, tadi aku meminjam ponselmu untuk minta izin ke suster Harni kalau kamu hari ini tak masuk kerja karena lagi sakit, satu lagi suster Harni titip salam buat kamu dan semoga cepat sembuh dan istirahatlah katanya."
Kepintarannya masih saja di pakai nih orang, dengan mengabsen kan aku pikir Retno, tapi tak akan ada terima kasih untuknya masa bodo amat, sekarang aku tenang sudah ada pemberitahuan ke tempat kerjaku, dan sekarang ingin istirahat biar cepat sehat dan aku hanya ingin pergi jauh dan tak melihatnya lagi.
Akhirnya Retno memegang ponselnya kembali dan menatap dr Prabu dengan muka masam seakan bertanya kenapa ponselnya ada di tangannya.
"Aku nggak ngapa-ngapain ponsel kamu hanya lihat-lihat saja dan cuma masukin nomorku saja."
Retno mendengus saja dan tak perduli apa yang di katakan dr Prabu mau ngapain mau ini itu juga terserah.
"Aku beli buah dulu ya, barangkali ada yang mau di pesan kamu mau apa? jangan pikirkan dulu apapun yang penting dan yang utama sehat." dr Prabu menatap Retno dan Retno memalingkan mukanya jangankan untuk ngomong merespon apapun yang di lakukan dan di omongkan dr Prabu Retno tak mau, hilang semua rasa di hatinya mengingat semuanya hanya sakit yang di rasakan Retno.
"Aku tahu kamu masih marah, silahkan saja mau sampai kapan? tapi suatu saat kamu akan mengerti dan kita tak bisa bohong lagi pada diri kita kalau kita masih saling sayang dan aku tak memaksa kamu untuk menjawab pertanyaan ku tapi setidaknya aku bilang kalau aku mau keluar dulu." dr Prabu mengusap tangan Retno dan memegangnya sebentar lalu berjalan keluar.
__ADS_1
Retno merasa bersyukur dr Prabu keluar jadi dirinya bisa bernafas dengan tanpa beban dan suasana tak terlalu sesak, maaf dr Prabu sampai saat ini hatiku belum bisa damai dengan perbuatan mu, dan mungkin dari kemarin rasa itu masih memenuhi perasaannya tapi kini semua terkikis habis oleh rasa kecewa yang sangat mendalam.
Retno memandang punggung dr Prabu orang yang selama ini ada di hatinya, dan kini telah merubah semuanya menjadi kebencian, dan dr prabu berjalan keluar menuju ke ruangannya.
Sampai di ruangannya baru saja masuk Intan sudah datang dengan satu keranjang sedang parcel macam-macam buah buahan.
"Kak ini pesanannya dan yang di kotak ini apa Kak?"
"Yang mana?"
"Ini di meja."
"Aku nggak tahu ada tulisannya nggak?"
"Dokter saya kirim roti yang manis dan mungil-mungil bikinan perdana bakery saya, baru coba dan semua lancar semoga dokter bisa menikmatinya, di tunggu di cafe kapan main lagi.
Salam !
- Alya
"Cieee... penggemar baru rupanya banyak penggemarnya diem-diem juga heee... penikmat suasana cafe rupanya, ajak dong aku ke cafe nya dia Kak."
__ADS_1
"Apaan sih kamu mikir nggak? Retno lagi sakit masalahku lagi bertumpuk ngajak ke cafe lagi."
"Idiiiih... Kakak siapa suruh masalah di tumpuk-tumpuk, di cicil dong biar menyelesaikannya mudah."
"Alah, kamu sok pintar dan sok ngatur saja."
"Ya Kakak sok super sibuk sih, kapan ngajak keluarnya jalan-jalan, ini mah libur di rumah saja, paling keluar ke rumah sakit, ajak kek aku ke mana gitu yang indah sedikit, ke Pantai Cipatujah, ke Wisata Galunggung ke Mall atau ke Alun-alun sekalian naik delman kayak liburan anak TK! jenuh deh hadeuuuuuuuh.... mending di rumah saja tidur."
"Iya, nanti kalau sudah kelar masalah aku."
"Kapan kelarnya? keburu nanti musim liburan baru datang, katanya masalahnya bertumpuk-tumpuk, ya sudah aku pulang lagi ah masa jalan-jalan sama piknik liburannya ke rumah sakit?"
Intan keluar dan mungkin pulang ke rumah lagi, dr Prabu hanya menghela nafas, sebenarnya kasihan juga pada Intan, sejak diajak ke sini belum diajak kemana-mana tapi dr Prabu kapan punya waktunya? akhir-akhir ini terasa sibuk sekali dengan urusan pribadinya, dan dr Prabu memandang kotak kemasan roti Unyil dan teringat sinpengirimnya Alya, dan ini sudah yang ke sekian kalinya Alya mengirimkan makanan dengan alasan bikinan perdana, inovasinya, dan itu memang hanya alasan saja, Alya seorang pengusaha muda yang sangat inovatif dan kreatif memanfaatkan peluang usaha di era ponsel gadget dan internet.
Perkenalan bermula saat dr Prabu dan Pemda mengadakan kerjasama olahraga dan tournament bulu tangkis Memeriahkan 17 Agustus, Alya sebagai anak walikota Bapak Sopyan Wijaya turut hadir dalam acara itu dan mereka berkenalan, sepertinya Alya menaruh hati dan terpanah pada pandangan pertama sama dr Prabu dan perkenalan di akhiri datang lho ke cafe saya di jalan Asia Afrika dan ke toko bakery saya di jalan Cihideung, Alya mempromosikan tempat usahanya dan mengundang ke cafenya yang ada di pusat kota.
Dr Prabu pernah datang satu kali ke cafe nya dan merasa suka dengan pembawaan Alya yang supel dan banyak ngobrol juga tahu segalanya enak banget diajak ngobrol dan satu lagi pintar usaha, tapi walaupun Alya cantik dan cukup mapan bagi seorang perempuan milenial tak membuat hati dr Prabu kepincut, tapi sebaliknya Alya seperti memberi lampu hijau dan berusaha menarik perhatian dr Prabu seperti yang tadi itu, mengirim makanan dan ucapan di kartu, mengundang dr Prabu sekedar minum dan ngopi di cafenya dan dr Prabu mengerti roman muka yang ingin penjajakan walau kelihatannya basa-basi biasa.
Perjalanan menanti lima tahun kurang lebih membuat dr Prabu juga mulai akan mengakhiri semuanya, semua masa lalunya dan akan mulai menata hatinya dan membuka diri untuk masa depannya tapi takdir berkata lain seakan ini semua di bukakan jalannya Retno tiba-tiba hadir di hadapannya dan menyita semua perhatiannya.
Perbedaan yang mencolok antara Retno dan Alya jelas perbedaannya dan yang utama kalau kecantikan fisik jauh Retno memenangkannya, Alya cenderung agak agresif malah kelihatan agak offer dari cewek cewek biasanya, dan keberaniannya memang diatas cewek-cewek lain.
__ADS_1
Astaghfirullahaladzim, kok aku jadi ngelantur dan menilai orang begitu jauh? dr Prabu mengusap mukanya sendiri dan lamunannya terlalu jauh pada Retno dan juga Alya, aku tak mudah jatuh cinta Alya apalagi mulai saat ini separuh jiwaku ada di sini dan aku perlu perjuangan untuk meyakinkannya, dan perlu kesabaran tinggi untuk menaklukannya karena Retno kini tahu aku telah menghinanya, aku telah membalaskan dendam ku kini Retno sangat membenciku dan tak mau bicara apapun padaku, apalagi mendengar penjelasan ku, Retno merasa di permainkan, dan dari awal aku memang salah tak membuka diri di hadapan Retno.
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝