Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Penasaran Alya


__ADS_3

Paginya Retno bangun kesiangan sama seperti dr Prabu, Retno yang tidur sudah larut dan keluar dari paviliun nya dan masuk ke kamar rumah Bu Harni dengan kunci cadangan, dengan perasaan bersalah dan berjingkat pelan-pelan takut mengganggu penghuni lainnya yang sudah tidur pulas sampai juga di kamarnya dan merebahkan diri dengan nikmat.


Retno masih sempat berpikir atau jangan-jangan Bu Harni belum tidur cemas akan dirinya yang selarut ini masih dua-duaan di dalam kamar, ah...Bu Harni mungkin berlebihan kalau sampai selarut ini belum tidur, aku bisa jaga diri Bu.


Bisa di katakan masalahnya selesai begitu saja dengan tak ada lagi yang di bahas dan kedua hati bisa rujuk dengan sempurna sesempurna sentuhan dan pelukan yang membuat Retno sulit memejamkan mata, dan merasakan kehangatan berdua dengan membayangkannya kembali dan meraba bibirnya Retno tersenyum sendiri.


Begitu juga dr Prabu merasa tak sia-sia dengan usahanya meminta maaf dan membuat Retno tersenyum kembali itulah harapannya.


Terasa kembali ke lima tahun yang lalu saat cinta pertama kali menyentuh hati dan mengisi ruang ruang kosong sanubari mereka, dan sekarang suasana itu mereka miliki lagi dengan suasana yang berbeda, manjanya Retno mengalihkan perhatian dr Prabu semakin ingin memberi ketulusan hatinya, dan perlihatkan betapa cintanya begitu besar pada Retno.


Bu Harni mengetuk pintu kamar Retno setelah memastikan kalau Retno tidur terpisah dan tidak berdua di dalam paviliun nya. Retno bangun dengan kaget lalu duduk di tepi tempat tidurnya dan melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul setengah tujuh.


Retno turun dan menemui Bu Harni sambil mengucek matanya, dan Bu Harni sudah berpakaian rapi layaknya mau berangkat ke tempat kerja.


"Kerja nggak hari ini?"


"Kerja Bu."


"Kan kamu dapat keringanan, bukannya lagi ikut turnamen?"


"Kerja aja, biar nanti kalau masuk final baru aku benar-benar manfaatin waktunya, ini lagi nunggu lawannya di babak selanjutnya."


"Berarti sudah dapat tiket dong?"


"Ya, di babak penyisihan lolos masuk babak selanjutnya."


"Baguslah, tapi jangan kurang tidur dan jaga stamina, akhir-akhir ini kelihatan kamu loyo banget bukannya semangat."


"Hehehe...masa sih Bu?"

__ADS_1


"Sudah sana mandi, Ibu mau sarapan dulu."


"Retno keluar dan masuk ke kamarnya. Dr Prabu terlihat masih pulas dengan tidurnya dan hanya bergerak sedikit saat Retno memasuki kamarnya, Retno langsung menuju kamar mandi.


Sehabis mandi Retno membiarkan dr Prabu yang masih tidur, dan dirinya berdandan ingin Retno pergi ke tempat kerjanya dengan menaiki motor dan membiarkan dr Prabu Istirahat di kamarnya atau kalau mau pulang duluan Retno membiarkannya.


Retno pelan-pelan mengeluarkan motornya tapi walaupun pelan tetap saja bersuara.


"Maaf mengganggu, aku mau kerja kalau masih mau tidur, tidur saja."


"Ngapain ngeluarin motor?"


"Memang aku harus jalan kaki apa?"


"Kan ada aku, biar nanti aku yang antar."


"Takut Mas capek, istirahat aja atau mau pulang duluan silahkan monggo saja."


"Aku kan kerja dulu, sampai siang."


Dr Prabu menarik mundur lagi motor yang mau masuk melewati pintu, Retno yang berada di atasnya menjadi ketarik sama motornya.


"Mas, apa-apaan sih aku mau kerja, takut jatuh nih."


"Turun, biar aku standar kan lagi."


"Nggak jelas banget gimana ini."


"Aku yang antar kamu ke tempat kerja kamu, dan langsung kita ke Tasikmalaya lagi, jangan berdebat masih pagi buat berdebat aku mandi dulu dan tunggu sepuluh menit saja. Retno tak bisa berbuat banyak dan hanya mengikuti keinginan dr Prabu.

__ADS_1


****


Pagi di rumah Alya


"Ma, Papa kenapa nggak mau ngundang dr Prabu ke rumah kita?" Alya sambil duduk di meja makan dan merenggut sendiri akhir akhir ini merasa kedua orang tuanya begitu sibuk dengan urusannya masing-masing seakan Alya merasa sempurna kesendiriannya, teman-temannya pada nikah duluan dan satu satunya Desty yang masih lajang sudah punya pacar dan sekarang mulai kerja juga.


"Apa yang akan kamu lakukan Nak, seandainya dr Prabu kita undang? lalu apa yang akan Papa bicarakan dan obrolkan?" Papanya Alya memandang putri nya yang belakangan ini aneh aneh permintaannya.


"Iya Nak, kamu yang sama-sama anak muda mungkin punya cara untuk bisa berteman dulu." Mamanya menambahkan.


"Papa merasa malu untuk bicara masalah lain Nak, selain yang menyangkut hubungan lain di luar kepentingan pekerjaan dan kedinasan walau Papa bisa saja mencari alasan, tapi serasa Papa tak punya harga diri kalau ujung ujungnya ngobrol masalah perasaan anak Papa sendiri."


"Papa Alya bukan menyuruh Papa yang bicara perasaan Alya pada dr Prabu, tapi bantu Alya seolah Alya sama dr Prabu bertemunya secara nggak sengaja gitu masa nggak ngerti, kalau membuat satu acara Papa nggak mau lalu kapan Alya bisa dekat?"


"Alya, Mama sulit mengerti kalau kamu begitu memaksakan keinginan sendiri dan Mama tidak begitu kenal sama dr Prabu itu juga orangtuanya, kalau misal kenal sama orangtuanya mungkin akan lebih mudah menggali informasinya, bahkan bicara perasaanmu walau mungkin hanya basa-basi aja."


Alya berpikir kedua orangtuanya tidak bisa menjadi jembatan perantara dirinya dan dr Prabu untuk bisa berteman lebih dekat, juga Desty yang jelas-jelas sekarang jarang bertemu karena kerja dan memberi masukan, saran juga teman curhat apapun persoalan dirinya.


Semua serasa buntu bagi Alya. Apalagi pertemuan kemarin di GOR rumah sakit dari mulai pernyataan dr Prabu yang mengatakan telah memiliki kekasih juga soal dr Prabu yang tanpa pamit dan entah dengan alasan apa dr Prabu meninggalkan dirinya di arena GOR. Dan tak kembali terlihat batang hidungnya sampai pertandingan usai.


Tak terbayangkan dongkolnya hati Alya, dan di sampaikan pada orangtuanya tapi lagi-lagi mentok dan tak ada yang bisa di harapkan lagi dari kedua orangtuanya dan satu-satunya sahabatnya Desty.


Alya bertekad masih belum terlambat dan hanya kesedihan yang paripurna yang Alya rasakan. Akan aku lakukan sendiri apapun caranya karena sampai saat ini hanya dr Prabu yang menarik hatinya diantara banyaknya laki laki.


Dr Prabu belum menikah dan itu penyemangat nya, dan janur kuning belum melambai berarti di situ masih ada harapan dan Alya akan mencari celah dengan segala dayanya, dan selama dr Prabu belum menikah itu adalah kesempatanku titik.


Bukannya Alya sendiri tak merasa kalau usahanya ini hanya akan sia-sia, tapi rasa penasaran nya yang mengalahkan semuanya dan mungkin rasa cintanya yang mendorongnya untuk melakukan apapun asal yang di inginkan nya tercapai walau harus menyakiti seseorang.


Ambisi yang gila dan hanya akan lebih menyakiti diri sendiri menurut Desty sahabatnya, tapi Alya bersikukuh dengan penasarannya.

__ADS_1


Happy readingโค๏ธ๐Ÿ˜˜๐Ÿ’๐Ÿ˜๐Ÿ™


__ADS_2