
"Apa yang kamu pikirkan sekarang sayang?" dr Prabu melirik dan bertanya pada Retno saat mereka masih dalam perjalanan pulang dari Bandung ke Tasikmalaya.
"Banyak banget Mas. Mungkin karena terlalu banyak jadi susah untuk menjawabnya."
"Mikir apa sih?"
"Konsep undangan kita seperti apa ya nanti? Masukan dari adikku Dimas ada banyak sample, dia punya kenalan temannya punya percetakan, nanti dia akan kirim, kita tinggal ngasih konsepnya saja."
"Itu sudah ada yang nge-handle"
"Kata Dimas ada design yang seperti surat raja-raja jaman dulu. kemasannya di gulung gitu nanti deh aku lihatin sama Mas kalau Dimas sudah kirim contohnya."
"Design undangan, konsep pernikahan, prosesi pernikahan dan segalanya aku serahkan sama kamu, pokoknya aku terima tidur aja sama kamu, haaaa..."
"Ini orang, benar-benar nggak bisa diajak serius ya?" Retno kelihatan ngambek.
"Maaf Retno, aku juga sama sebenarnya banyak pikiran."
"Kalau Mas Prabu, apa pikirannya sekarang?"
"Aku? aku malah ngebayangin habis resepsi nanti."
"Iiiiiiiiiih... dasar mesum aja otaknya."
"Haaa...justru kamu tuh yang negatif, yang aku bayangkan adalah capeknya Retno. Bayangin aja kita resepsi sama akad nikah di Pekalongan lanjut resepsi kedua hari berikutnya di Tasikmalaya. Boyong semua ke sini apa itu nggak makan energi?"
"Iya, ya Mas."
"Aku cuti satu minggu, nggak mau keluar kamar mau berduaan sama kamu."
"Mau ngapain tuh di dalam kamar?"
"Emght... mungkin kita ngobrol apa berantem? masa pengantin baru berantem? haaa..."
"Kok minggir Mas?"
"Aku ingin memandang kamu, dan memeluk kamu. Masa nggak boleh kan dua minggu lagi kita jadi suami istri."
"Kebiasaan banget. Kalau sudah minggirin mobil dan berhenti, selalu saja begini di setiap perjalanan."
__ADS_1
"Jangan marah dong. Aku membuat sesuatu yang akan selalu di ingat sama kamu."
"Memang Mas mau kemana? mesti membuat momen untuk diingat segala?"
"Aku mau masuk ke hatimu haaaa..."
"Sekarang juga Mas udah ada di sini." Retno menunjuk dadanya sambil tersenyum.
"Retno, kamu jangan menggoda aku. Aku sudah mabuk kepayang begini jangan coba-coba kamu pancing nanti aku nggak tahan lalu pingsan gimana?"
"Haaaa...coba aja pingsan. Nanti aku tinggalin."
"Ih, tega amat kamu. Harusnya kalau aku pingsan begini nih... Kasih nafas buatan."
Dr Prabu menarik tangan dan tubuh Retno sampai mendekat dan hampir tak berjarak. Tangannya mengusap wajah Retno sambil hidung mereka beradu.
"Retno, kamu adalah kebahagiaanku. Aku takkan sanggup lagi jika kita harus berpisah dan berjauhan lagi, sekarang mimpi itu sudah mulai mendekat dan sebentar lagi menjadi kenyataan. Aku mencintaimu Retno."
Dengan nafas sesak penuh kerinduan Retno memeluk pujaan hatinya, mengalungkan kedua tangannya di leher dr Prabu dengan manja, senyum yang teramat manis hanya untuk sang pencuri hatinya. Apa yang harus di katakan nya semua seolah hilang dengan aroma kebahagiaan mereka.
Luka yang sekian lama menganga menanti kesembuhan. Hilang semua tak berbekas hanya kebahagiaan yang mereka miliki, hanya sukacita yang mereka rasakan saat ini.
"Dua minggu lagi kamu jadi milikku. Tak akan ada kata penolakan lagi dan kalau kamu menolak aku berhak meminta dan memaksanya." suara dr Prabu seperti berbisik hangat di telinga Retno. Membuat Retno merinding tak karuan.
"Mungkin aku juga akan selalu meminta, agar Mas jangan jauh-jauh dariku."
"Dengan senang hati Retno sayang. Kamu boleh meminta apapun dariku, juga hidupku."
"Aku tidak meminta hidupmu Mas. Yang jelas-jelas hidup Mas Prabu bukan hanya milikku, tetapi milik semua orang, tapi hiduplah di dalam diriku dan dalam kehidupanku."
"Ah, Retno...rasa rindu ini seakan abadi di hatiku tak pernah habis dan selalu datang kembali, tak akan cukup waktu ku untuk melampiaskan kerinduan ini."
Retno kehilangan kata-kata saat bibir panas itu menyentuh pipinya. Dan bergeser menyelusuri bibirnya, memaksa membukanya, satu katup bibirnya dalam penguasaan dr Prabu, dan lagi-lagi Retno menikmatinya hingga pagutan terasa ke seluruh jaringan urat nadinya.
Gelanyar aneh memenuhi jaringan pembuluh darahnya. Retno tak mampu menolaknya, berdua seperti musafir di tengah gurun yang sangat gersang, menemukan satu oase pelepas dahaga yang begitu lama dan panjang mereka jalani.
Selalu dan selalu ada kemesraan yang mereka ciptakan bersama, saat-saat indah mereka yang tak akan terlupakan.
Setelah sekian lama mereka melepaskan dahaga gejolak rasa, tanpa kata, bukannya selesai tapi malah dr Prabu semakin kuat memeluk dan memagut.
__ADS_1
"Mas, akh udah aku kesakitan nih." Retno seperti lemas sendiri dalam pasrah rengkuhan dr Prabu.
Dr Prabu kaget, sadar dirinya telah memaksa. Apalagi dalam posisi tak nyaman seperti ini di dalam mobil lagi.
"Ya, ya ya sudah. Maafkan aku ya aku nggak sadar diri heee..."
Retno hanya tersenyum sambil memperbaiki kembali seat belt nya, begitu juga dr Prabu seperti malu karena telah menekan Retno tanpa sadar.
"Maaf ya sayang, kamu nggak apa-apa?"
"Enggak cuma pinggang aja perasaan melintir, harusnya posisi ke depan tadi di paksa ke samping."
"Justru itu yang sulit di lupakan nya heee..." Retno memanyunkan bibirnya lalu tersenyum.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta! habis baca...
..."Biarkan Aku Memilih"...
...Jangan lupa mampir ke karya...
...terbaik bertitel,...
..."Pesona Aryanti"...
...By Enis Sudrajat, baca, like,...
...vote dan beri hadiah...
...juga ya🙏...
__ADS_1