
"Bos aku harus bagaimana? biar sedikit saja bisa membantu yang aku mampu."
Dr prabu hanya diam tak ada kata yang tepat untuk menjawab semua kata-kata dr Imam yang selalu datang ke ruangannya. Sekedar menengok atau melihat kondisinya yang semakin hari semakin kusut, kucel, muram dan mencemaskan.
"Sebenarnya aku tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan, juga kamu sebagai temanku Mam, Retno pergi semuanya buntu, pergi meninggalkanku dengan kemarahan aku tak berani menyusulnya. Dia memutuskan hubungan denganku ponsel aku hancur dan sudah diganti sama yang baru aku tak bisa menghubungi hanya sekedar bertanya lewat e-mail sudah terbaca ataupun tidak aku tidak tahu. Alya pun begitu pergi entah kemana meninggalkan orang tuanya yang sedang sakit dirawat di sini, kamu pikir apa yang harus aku lakukan aku terlalu banyak dosa dan salah sehingga aku hanya introspeksi diri, dari sekarang sudah tidak bisa emosi dalam hal apapun, Aku tak punya keinginan hanya ingin menenangkan diri."
Dr Iman kembali diam memang bukan bertanya seharusnya yang dirinya lakukan tetapi memberikan saran hasil pemikirannya mungkin sebaiknya seperti itu.
Apa yang di ucapkan dr Prabu memang itulah kenyataannya, semua langkahnya menjadi terhenti mau menyelesaikan tanggung jawab seperti apapun tidak ada kepastian Alya yang menjadi tokoh sentral dalam masalahnya pergi entah ke mana, menyusul Retno ke Bandung yang sedang marah bukan suatu jalan keluar terbaik.
Hanya tafakur diri dan berdoa memohon ampunan atas segala musibah yang menimpa dirinya, ya! musibah yang menghempaskan dirinya ke dalam jurang terdalam penyesalan dan kesedihan.
"Bos, jangan terpuruk seperti ini kita harus bangkit bagaimanapun caranya, aku akan berusaha mencari jalan untuk bisa menyatukan kembali cinta kalian yang telah retak. Aku sama Intan telah sepakat Intan akan mendampingi Retno di Bandung, dengan sewaktu-waktu akan datang berdiskusi dan mencari solusi terbaik dan Bos di sini bisa mengandalkan aku untuk hal apapun."
"Terima kasih sahabatku, tapi dalam waktu sekarang nggak ada yang bisa aku ambil keputusan, semua serba salah, satu yang pasti aku sangat merindukan istriku, entah lagi apa sekarang, apa dia sehat, atau sedang di kampus entahlah tiap hari hanya pertanyaan itu yang menggangguku dan keinginanku untuk bertemu yang semakin tak tertahankan."
Dr Prabu menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, begitu tak ingin dirinya melewati malam, waktu inginnya bergulir siang saja hingga nggak ada waktu sedikitpun untuk berlama-lama dalam pikiran kosong hanya memikirkan istrinya.
"Tapi Bos harus berpikir juga kesehatan sendiri, aku yakin suatu saat akan ada sedikit celah jalan keluar permasalahan ini dan titik terang dari semuanya."
Aku sudah hampir di ujung putus asa, semua yang aku lakukan tak ada tujuannya, untuk apa aku bekerja? dan untuk apa aku bertahan hidup?"
"Astagfirullah, Bos istigfar jangan membiarkan diri dalam keadaan lemah, bangkit dan tatap lah masa depan dengan harapan, jangan seperti ini, aku jadi ikut cemas dengan kesehatan Bos."
Dr Prabu diam, walau kata-kata dr Imam benar tetapi dirinya tak mampu menjalankan semuanya.
"Bos bisa menelephon suster kepala Harni seandainya ingin tahu khabar Retno walau tanpa sepengetahuan Retno sendiri."
"Ya, aku baru kepikiran seperti itu Mam, betul itu mungkin aku bisa merasa sedikit tenang kalau tahu khabar istriku, aktifitasnya apa juga dalam keadaan sehat."
__ADS_1
"Satu lagi Bos, kalau ingin membuang semua permasalahan dan masuk ke dunia yang berbeda, sebagai pengabdian pada kemanusiaan, Aku sarankan untuk mengambil cuti kembali dan izin untuk menjadi relawan sebagai tenaga medis di daerah bencana Alam yang sekarang lagi membutuhkan segala macam tenaga, baik medis, sukarelawan pencari korban, penyedia konsumsi, pengajar, perawat, dan lain lain."
"Astaghfirullahaladzim...dr Imam, semua yang disampaikan dr Imam adalah benar, kita harus merefresh diri, meleburkan diri dengan bermanfaat, bahkan membuang diri sebagai pengabdian kepada lingkungan baru di tengah masyarakat yang membutuhkan"
"Jadi? Bos tertarik?"
"Ya, aku sangat tertarik, semua tugas harian aku serahkan dan kuasa kan pada kamu saat ini juga, dan memutuskan segala bisa dari jarak jauh, rapat bisa tele konferensi atau zoom
sekarang jaman serba gampang.
Aku semangat banget dr Imam, aku akan menjadi relawan di bencana alam itu dan ingin mengukir sejarah menjadi bagiannya."
"Haaaaaaaaaaa...begitu dong aku sangat senang mendengarnya Bos, begitu juga Intan adikmu yang juga cemas mendengar perkembangan dari hari ke harimu."
"Semoga dengan suasana berbeda dan jauh dari permasalahan aku bisa menjadi pribadi yang ikhlas menjalani semuanya, aku akan mengabdikan hidupku sementara dalam misi kemanusiaan, semoga ada hikmah yang bisa aku petik."
"Semoga bos, itu juga harapanku juga pasti harapan semua orang. Bos tadinya aku begitu merasa khawatir tapi kalau Bos sehari-hari menyibukkan diri dengan melayani orang mungkin semua itu tidak akan terasa dan jangan lupa memantau kabar istrimu dan juga perkembangan kabar si Alya."
"Haaaaaaaa...Bos bisa aja."
"Kamu masih punya link untuk tenaga relawan kesehatan kan?"
"Tenang saja, nggak usah daftar jajaran direktur sudah pasti dapat prioritas, aku telephon dulu siapa saja dari jaringan rumahsakit kita yang sudah di sana."
"Aku terima kasih banyak untuk semuanya atas sumbangan ide dan segala macam masukan yang begitu sangat berharga, juga telah beri aku setitik pencerahan juga harapan dalam kebuntuan ku."
"Aku juga sangat bahagia dan kabar ini bisa aku sampaikan kepada Intan dan keluargamu Bos, mereka begitu cemas melihat perkembangan masalahmu akhir-akhir ini."
"Genap dua minggu aku berpisah dengan istriku, kalau tetap di sini atau di rumah mungkin aku akan gila lama-lama, juga menunggu kepastian Alya yang tak kunjung ada khabar, biarlah semua masalah aku tinggalkan dulu."
__ADS_1
"Apa Ibunya Alya masih di sini?"
"Sepertinya sudah pulang, soalnya terakhir aku menengok sudah kelihatan segar, hanya depresi dan dehidrasi tak ada masukan makanan karena pikiran."
"Jadi terakhir pembicaraan dengan Pak walikota seperti apa?"
"Aku berjanji akan menikahi Alya secara Agama, dan selanjutnya aku juga tidak tahu akan seperti apa. Untuk istriku aku tak akan memutuskan apa-apa, biarlah Retno yang memutuskan apapun itu aku harus terima dan ikhlas."
"Harus seperti itu, biarlah Retno yang mengambil peranan karena kita ada di pihak salah."
"Iya, Mam. Sungguh aku tak berani mengusik keputusannya, tapi nanti aku akan bicara sama suster kepala Harni dan memberi sedikit demi sedikit masukan buat Retno saat hatinya sudah mulai mencair, aku akan sabar menunggunya."
"Semoga semuanya sesuai harapan Bos, aku hanya turut prihatin dan mudah-mudahan semuanya bisa cepat terlewati."
"Iya Mam, aku menghitung hari demi hari seakan lambat dan tak berguna, tapi kalau aku isi di tempat pengungsian di area bencana alam semoga semuanya menjadi lebih bermanfaat."
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
Hai, readers tercinta! habis baca
"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, PESONA ARYANTI
By Enis Sudrajat juga, baca, like,
__ADS_1
vote dan beri hadiah ya!