
Dr Prabu keluar ruangan perawatan Alya yang terasa panas, membiarkan Intan dengan Alya yang sepertinya Intan juga tidak begitu nyaman, baru kenal masa harus menjadi teman dan harus ngobrol, ngobrol apa hayo? yang ada dirinya yang harus aktif memancing-mancing obrolan malas banget banyak nggak nyambungnya juga manjanya Alya bikin enek.
Tapi dr Prabu bersyukur karena ada Intan yang bisa mewakilinya. Biarlah Intan sedikit berkorban asal dirinya bisa lepas dan bisa melanjutkan kegiatannya dan satu yang ingin dipastikan dr Prabu, Retno tidak salah paham terhadap dirinya dan semoga ini tidak menjadi masalah untuk hubungan mereka.
Dr Prabu nggak habis pikir dengan Alya dari kemarin dr Indah yang menanganinya mengatakan kalau Alya itu tidak apa-apa tidak sakit dan sebenarnya apa yang dikeluhkannya itu hanya pura-pura saja, satu lagi keyakinan justru dari cleaning servis mengatakan pasien di kamar ini membuang obat ke tempat sampah, dari kamar Alya di rawat menemukan obat yang bertumpuk di tempat sampah tidak diminum dan dr Prabu mengerti apa keinginan Alya, hanya mencari perhatian dirinya.
"Ya, halo dr Indah."
"Oh, iya Pak Prabu. Ada apa Pak ?"
"Bisa pinjam dulu suster Retno untuk bisa datang ke ruangan saya? ini saya ada perlu dan ada yang ditanyakan."
"Oh ya bisa Pak, tunggu ya suster Retno sedang meng-infus seorang pasien yang baru masuk."
"Ya, ya ya nggak apa-apa, terima kasih dr Indah selamat malam."
"Malam Pak Prabu."
Selang beberapa saat pintu ruangan dr Prabu ada yang mengetuk karena memang tidak tertutup Retno melongokan kepalanya mencari seseorang yang ada di dalam, dr Prabu menyambutnya dengan senyuman dan mempersilakan masuk dan duduk.
Entah kenapa bagi Retno setiap memasuki ruangan ini ada rasa ketakutan tersendiri di hatinya. Teringat kejadian kemarin kemarin dirinya lagi di kerjain, selalu saja membuat hati dan perasaannya dalam tekanan juga bimbang, juga merasa takut, ruangan ini yang pada awalnya Retno anggap biasa-biasa saja dan sampai suatu saat semua tahu dibaliknya ada skenario yang mereka lakukan terhadap dirinya adalah hanya akal-akalan sendiri Mas Prabu.
"Masuk sayang silahkan duduk."
Tanpa pikir panjang dan basa-basi lagi Retno langsung duduk di ujung sofa.
"Aku sudah memintakan izin kepada dr Indah, biar kamu ada waktu boleh aku minta waktunya kita ngobrol sebentar?"
"Enak banget punya wewenang dan jabatan, bisa mengatur orang seperti pion di meja catur."
"Retno apa maksudmu? apa salah aku menggunakan wewenang untuk sedikit keperluan hati dan perasaanku padamu?"
"Aku malu tak mengikuti kegiatan seperti orang lain, tapi lebih malu lagi saat di hukum tanpa kesalahan."
"Maafkan aku Retno, kamu boleh membenciku tapi kamu jangan berkhianat pada perasaanmu sendiri, kamu itu mencintai aku sama sepertiku yang mencintaimu, tolong jangan berkata begitu padaku jangan selalu menyudutkan aku dengan kata-kata yang ingin kau lampiaskan dengan puas dan perasaan marah mu. Jangan bikin aku lebih merasa bersalah dengan apa yang telah aku lakukan terhadapmu, aku mohon maaf kepadamu Retno jangan hukum aku, mari kita mulai tanpa ada rasa marah lagi diantara kita."
"Aku hanya tak habis fikir saja dengan perempuan manja pasien VIP tanggung jawab mu Mas. Aku sudah berterus terang siapa Arya yang nyamper aku pagi pagi itu, tapi bukan impas-impas an aku hanya ingin tahu siapa orang itu?"
"Haaa...aku senang banget dengan muka cemburu kamu sayang, itu hanya anak walikota wilayah ini yang minta prioritas biasa pejabat. Sudah seharusnya kita menghargainya, dan kebetulan aku kenal anaknya itu Alya."
"Dan suka pada Mas kan? nggak jelas banget tuh orang, gossip telah menyebar sakit pakai akal akalan, sakit pura-pura hanya ingin bertemu dengan Mas dramatis banget."
__ADS_1
"Apa? gossip telah menyebar?" dr Prabu terhenyak.
"Enak banget jadi idola, idola nggak jelas!"
"Retno?!"
"Apa?"
"Aku tak menginginkan seperti ini, semua bukan salahku, kalau Alya suka padaku itu urusan dia sendiri yang ada di hatiku hanya kamu."
"Sudahlah. Mas urus dulu tuh cewek biar nggak buang-buang lagi obat di tong sampah, berjuta orang tak mampu berobat di luar sana, dan akan menjadi headline paling hangat berita hari esok hari."
"Retno." dr Prabu agak lunak.
"Aku mau tidur nggak melanjutkan tugasku, silahkan hukum aku. Aku tidak takut lagi!"
Retno beranjak dan dr Prabu juga sigap berdiri menghalangi langkah Retno yang menuju ke arah pintu keluar ruangannya.
"Aku tak akan menghukum orang yang aku cintai, tolong mengerti sedikit masalahku Retno."
"Awas, aku mau keluar."
"Nggak boleh."
"Kamu nggak boleh keluar dengan rasa cemburu yang seperti itu."
"Aku nggak cemburu."
"Bohong!"
Retno menatap dr Prabu dengan linangan air mata, memang tak bisa di pungkiri dirinya termakan cemburu, obrolan Desty dan satu lagi temannya Alya di kantin jelas banget di telinga Ella dan Isti kalau Alya cinta banget sama yang namanya dr Prabu, apapun di lakukannya walau harus pura-pura sakit.
Dr Prabu menarik kedua tangan Retno dan mendekatkan ke tubuhnya, memeluknya dengan erat seperti begitu takut kehilangan lagi. Awalnya Retno meronta dan berontak tapi akhirnya pasrah dan tumpah semua perasaannya dalam tangisan di dada dr Prabu.
"Aku tahu hatimu lebih dari siapapun Retno, dan mungkin yang tahu hatiku hanyalah kamu, aku mohon jangan marah-marah lagi, aku tidak mau yang lain lagi selain kamu."
Intan yang mau masuk ruangan dr Prabu terhenti mendengar isakan Retno dan juga keburu tangannya di tarik dr Imam SpOG.
"Ssssssssst... jangan dulu masuk, lagi gawat belum aman."
Intan hanya senyum lucu sambil mengangkat alis dan bahunya, dr Imam tak melepaskan genggaman tangannya dan tetap memegangnya sampai duduk di taman halaman depan ruang-ruang perawatan.
__ADS_1
"Jadi pulangnya dua hari lagi?"
"Heemght..." Intan tersenyum manja.
"Pasti akan ada yang kangen." dr Imam agak cemberut.
"Nanti aku kirim deh obatnya heee..."
"Aku bukan mau kiriman obatnya, tapi mau orangnya ada yang datang mengantar obat rindu itu."
Intan merasa panas mukanya dan serasa terbakar mungkin merona seluruh mukanya.
"Aku antar ya nanti boleh kan? biar aku tahu kampusmu juga tempat kost an kamu."
"Memang Mas ada waktu?"
"Akan aku usahakan, harus ada buat orang special seperti kamu."
"Tapi ada syaratnya."
"Apa tuh?"
"Bilang dan minta izin Kak Prabu."
"Oh itu pasti Intan, banyak perubahan sejak aku kenal kamu, aku jadi lebih serius dan banyak merubah semua kebiasaan aku bersama Kakak mu itu, tadi nya aku manggilnya lo gue dan kedengarannya songong banget kini pelan-pelan aku biasakan berubah dan lebih sopan."
"Aku mau tahu, apa Kak Prabu percaya nggak sama Mas Imam?"
"Harus dong, aku juga akan berjuang untuk meyakinkannya dan mendapatkan kepercayaannya heee..."
Di dalam ruangan dr Prabu.
Retno yang sudah agak tenang dan mau istirahat di gandeng dr Prabu keluar dan mau di antar ke mess nya, tapi baru keluar kelihatan Intan lagi duduk berduaan sambil agak menyandarkan kepalanya di bahu dr Imam SpOG, dr Prabu berbisik pada Retno.
"Ssssssssst... lihat calon adik ipar mu pantesan nggak marah lagi aku tinggalin ke Bandung, juga nggak aku ajak jalan-jalan selama libur di sini, ternyata benar dugaan ku mereka ada apa apanya." dr Prabu geleng-geleng kepala.
Dr Prabu menatap Retno yang tersenyum di paksakan, sedikit agak grogi juga masih sembab kedua matanya, dr Prabu mengusap nya perlahan, "Jangan menangis lagi sayang aku nggak sanggup melihat air matamu, cukup sekian lama perpisahan kita, kita tatap masa depan kita yang bahagia impian kita."
Retno hanya diam dan membiarkan tangannya di genggam dr Prabu.
"Ayo, aku antar ke ruangan mu, tidurlah biar besok bangun segar kembali."
__ADS_1
Berdua keluar berjalan berdampingan tanpa melihat yang lagi duduk berdua mesra- mesra an.
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah maksa dan mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝