
Hampir maghrib Desty baru nongol di cafe Alya, dan Alya yang berada di kamarnya tidak menyadari kalau Desty sudah berdiri di pintu kamarnya.
Alya yang lagi mengutak-ngatik kamera kesayangannya begitu asyik dan tak memperdulikan Desty yang tiba-tiba merebahkan badannya di tempat tidur yang baru saja diganti sprainya.
"Wangi banget Non kamarnya gue jadi kangen tidur di sini, tapi sayang gue sekarang nggak begitu banyak waktu untuk bisa nginep di sini dan nongkrong di cafe lo."
Alya diam saja dan melirik sekilas pada sahabatnya Desty.
"Lo lagi pura-pura apalagi sama gue? pake alasan SOS segala seperti lagi terdampar di pulau saja lo."
Alya masih saja diam.
"Gue haus, lapar namanya habis kuli, apa lo mau kasih gue makanan nggak? kalau nggak gue pulang aja mending makan sama sayur asem Ibu gue di rumah daripada lihat muka lo yang asem begitu." dan Alya bergeming dengan butiran air matanya.
Desty diam terhenyak melihat Aliya menangis seribu pertanyaan ingin segera dilontarkan tetapi melihat sikap Alya yang hanya diam Desty lebih baik menunggu sahabatnya ini tenang dan bisa bercerita segalanya.
"Des gue kebablasan dan gue akui salah dan telah melakukan kesalahan besar dalam hidup gue, tanpa perhitungan tanpa kontrol dan memikirkan akibatnya semua berjalan begitu saja dengan ambisi gue dan percaya diri gue."
Desty membiarkan Alya bicara, karena Dirinya belum menangkap apa maksud yang dibicarakan Alya.
"Awalnya gue ragu Des tetapi didorong oleh rasa cinta gue. Gue telah melakukan kesalahan yang sangat besar meracuni dr Prabu dengan obat tidur yang lo sarankan waktu itu."
"Astaghfirullahaladzim apa? Alya lo gila ya? serius lo ini ngomongnya? apa-apaan terus seperti apa kejadiannya? gue waktu itu nyaranin sama lo gue hanya bercanda tapi kenapa lo menanggapinya serius dan lo buktikan dengan melakukannya lantas seperti apa ceritanya?"
"Des gue harus gimana?" Alya tak mampu lagi membendung air matanya menangis di pelukan sahabatnya.
"Sebentar, gue harus tahu dulu duduk persoalan yang sebenarnya dan bagaimana rentetan kejadian nya baru gue bisa mengambil kesimpulan. Dan mungkin gue bisa ngasih saran pada lo jika gue sudah mendengar dan melihat jelas permasalahannya.
"Des, gue terlanjur suka dan gue punya kesempatan. Kejadianya waktu gue mau nonton pertandingan bulutangkis yang diadakan di rumah sakit TMC gue datang ke GOR itu dan gue bertemu dr Prabu, lantas gue pura-pura lupa sesuatu di cafe dan meminta dia untuk mengantar gue terus dia mau walaupun pada saat itu perwakilan dari Rumah sakit TMC yang mau main, gue ajak deh dr Prabu ke cafe dan dari situlah mulai kejadiannya."
Desty memandang tak percaya pada Alya, gadis lembut manja terkadang menyebalkan berani mengambil keputusan yang sangat salah dan gegabah, juga tanpa perhitungan.
__ADS_1
"Gue suguhi dr Prabu secangkir kopi espresso twister racikan gue, dan selang lima sepuluh menit dia KO dan gue masih ikuti saran lo di kamar sini, nggak usah gue ceritain semuanya yang pasti gue memiliki dokumentasi yang menurut gue paling vulgar dan sangat menyenangkan."
"Astagfirullah, Al lo ini sadar nggak? lo telanjangi diri sendiri juga dr Prabu di sini?"
"Ya Desty karena gue cinta sama dia."
"Al, Alya kamu gila dan melampaui batas, lalu lanjutnya gimana?"
"Sampai pada waktu obatnya habis dr Prabu sadar dengan keadaannya tanapa gue kira dia marah besar sama gue semarah marahnya, habis gue di cerca dan di caci maki, gue baru bisa melihat pada saat itu entah apa yang ada dipikirannya dia memaki mencerca dan seperti orang gila dan kehilangan akal sehatnya saking marah se-marahnya marahnya mendapatkan dirinya dan gue satu selimut dalam keadaan bugil."
"Alya...!"
"Rayuan gue nggak berlaku dan walupun gue katakan gue hanya ingin dokumentasi saja, tapi sepertinya dia tahu maksud gue."
Hening...
"Gue rayu dan peluk dia dan gue ajak dia melakukannya dalam keadaan sama-sama sadar, malah dia membanting gue, gue takut dia bunuh gue Des."
"Gue di perkosa Des...gue tak berdaya semua di luar ekspektasi gue, gue tak merasakan apa-apa selain rasa sakit, semua sudah terenggut bukan dengan perasaan cinta tapi dengan perasaan marah, emosi dan dendam terhadap gue."
"Astagfirullah Alya, itu kesalahan lo jelas dr Prabu marah dan benci pada lo, jelas itu pelecehan dan lo pantas mendapatkan itu."
"Gue sadar Al, itu kesalahan gue haruskah gue yang ternoda ini meminta maaf pada dia?"
"Lo akan di tertawa kan Al, karena menurut pandangan dia lo yang menginginkan semua itu"
Ada tetesan air bening dari ujung bola mata Alya entah apa yang dirasakannya. Sepertinya penilaian Desty sahabatnya sangat realistis dan berimbang tidak memihak kepada siapapun dan itu memang semestinya, bukan atas dasar sahabat atau siapapun.
"Bukankah harusnya lo senang sudah menyerahkan sesuatu pada yang lo cintai? walaupun gue sebenarnya tidak mau memaafkan lo yang sangat ceroboh dan melakukan hal tercela dengan coba-coba, lo dengan sengaja menjebaknya dan itu sama saja dengan menohok merendahkan diri lo sendiri, laki-laki mana yang terima harga dirinya ada yang melecehkan dan menginjak-injak?"
"Gue harus bagaimana Des?"
__ADS_1
"Taubat Alya, gue kecewa dengan kelakuan lo yang di luar batas, tapi untuk meminta maaf pada dr Prabu jangan dulu lo lakukan karena gue tahu mungkin saat ini dr Prabu masih marah sama lo. Dan mungkin masih tidak terima dengan perlakuan lo walaupun pada akhirnya lo sendiri Alya sebagi pihak perempuan yang sangat dirugikan dari kejadian ini."
"Kalau gue hamil gimana Des?"
"Astaga, Alyaaaaaa...ya ampuuuuuun, hilangkan dulu pikiran lo soal itu, gue nggak sanggup membayangkannya juga. Gue anggap itu adalah bonus tambahan dari perbuatan loh sendiri dan bahkan lo akan menikmati begitu panjang hasil dari perbuatan coba coba lo itu."
"Des, gue nggak fokus segala sesuatu gue nggak mau makan dari pagi tapu gue nggak mau sakit, kalau ada lo mungkin kita bisa makan bareng."
"Gue juga mendengar cerita lo jadi nggak mau makan, hilang semua selera makan dan lapar gue, gue jadi benci sama lo!"
"Tolong jangan benci gue saat ini Des, gue butuh elo, gue akui salah tapi setidaknya lo masih tetap sahabat gue kan Des?"
Begitu terpuruk hati dan perasaan Aliya saat ini Desti membayangkannya, begitu limbung tak punya pegangan.
"Gue janji walaupun gue benci sama lo tapi gue masih sahabat lo, buruk baiknya lo tetap sahabat gue, apapun yang terjadi dengan diri lo karena awalnya melibatkan diri gue jadi gue akan selalu ada di samping lo."
"Makasih Des, gue emang egois."
"Ssssssssst...sudahlah kita pikirkan lagi nanti setelah semuanya tenang apa yang sebaiknya lo lakukan, lo belum ngasih tahu siapapun kan masalah ini juga orang tua lo?"
Alya melepaskan pelukannya memandang Desti sahabatnya, dengan air mata berlinang Alya menggeleng.
.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai doping up nya 🤦😆💝🙏
__ADS_1