Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Nasihat buat bumil


__ADS_3

Kehidupan berjalan dan berputar kembali membawa Retno dan Prabu pada kebahagiaan rumah tangga yang sedang mereka nikmatin, juga kehamilan buah cinta kasih keduanya sebagai momen pertama dalam kehidupan yang mereka lalui dengan kebahagiaan yang luar biasa.


Penantian 5 tahun telah mereka lalui dan mereka telah menemukan cinta sejatinya kembali dan kini mereka telah resmi menjadi suami istri dalam usia pernikahan yang dijalani dalam buncahan kebahagiaan manis madu cinta di tahun-tahun pertama usia pernikahan.


Semua cobaan dan rintangan sepertinya telah mereka lalui, tapi bagi Retno hidup adalah tetap penuh dengan perjuangan dan harus di perjuangkan untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki, dan kebahagiaan rumah tangga memang harus diperjuangkan dengan saling menjaga, saling mengerti jadi pendengar dan menghargai satu sama lain.


Dalam rumah tangga itu Retno merasa harus memposisikan dirinya sebagai istri sebagai teman dan juga seorang pendengar dan juga sekaligus pemberi kenyamanan sebagai seorang yang selalu diminta pendapatnya dalam segala hal.


Intinya seorang Istri harus menjadi tempat yang selalu dirindukan seorang suami untuk pulang


Satu pepatah atau nasihat Kangjeng Ibu yang selalu Retno pegang, 'Buatlah suamimu nyaman di rumah, karena kalau tidak mendapatkan kenyamanan di rumah dia akan mencari kenyamanan di tempat lain.' Sepertinya itu sangat masuk akal bagi Retno siapapun orang pasti kalau tidak nyaman akan mencari tempat nyaman di mana saja.


Satu lagi, 'Belilah perut suamimu sampai tidak bisa berpaling lagi sama sesuatu yang ada di luar' artinya seorang Istri harus bisa masak menyajikan makanan kesukaan suaminya sehingga suaminya akan menjadi ketagihan dan mencari makanan di luar, masakan seorang istri akan menjadi sesuatu yang dikangenin saat istrinya tidak ada di sisinya.


Semua manusia pada dasarnya tidak sempurna tapi semua orang bisa menyempurnakan apa yang dilihat dan dirasakan dari pasangan masing-masing.


Adakalanya Retno harus mengalah dan jadi pemenang juga dalam situasi tertentu, nasihat Kangjeng Ibu selalu dengan seksama Retno jalani sepenuh hatinya. Retno menganggap rumah tangganya adalah suatu wadah yang suci yang tak ingin diganggu dan dimasuki tanpa permisi siapapun.


Walau Retno perlu banyak pembelajaran dalam segala hal, zaman sekarang memang mudah dan banyak sekali pelayanan yang bisa kita lakukan termasuk memesan makanan jadi, tapi itu bukan satu solusi.


Retno mencoba menyelami apa yang di suka suaminya dan yang tidak disukainya termasuk makanan dan kebiasaan, karena akan menjadi referensi bagi dirinya sendiri.


Kalau sudah bosan memang ada kalanya bosan saja dengan situasi dan makanan rumah boleh saja kita kali-kali makan di luar untuk saling menyenangkan.


Seperti Romo nya Retno Raden Haryo Atmojo sampai sekarang tidak bisa memakan makanan yang ada di luar kecuali yang disentuh sama istrinya sendiri.

__ADS_1


Itu sangat di kagumi siapa saja yang mendengar ceritanya.


Begitu kuatnya jalinan dan keterikatan suami istri orangtuannya membuat Retno kagum dengan cinta dan kasih sayang yang kedua orang tuanya contohkan kepada anak-anaknya.


Ponsel Retno selalu terlihat aktif dan sangat sibuk menerima telepon sebagai ucapan dan dukungan kebahagiaan terutama dari orang tuanya Kangjeng Ibu yang sangat mengkhawatirkannya, nyaris tiap hari menghubungi Retno hanya sekedar bertanya kondisi kehamilannya dan mendengar suara Putri kesayangannya.


Hanya sekedar ingin mendengar baik-baik saja rumah tangga dan kehamilannya, orang tua tidak mengharapkan lebih atau menuntut apapun dari anak-anaknya kebahagiaan anaknya akan menjadi kebahagiaan orang tua.


Seperti pagi itu saat dr Prabu sudah berangkat kerja Retno yang mengambil cuti lebih dini duduk santai di teras depan di temani Bi Iyah yang sedang menyapu halaman. Retno sedang menerima sambungkan telepon dari Kangjeng Ibu dari Pekalongan.


"Nduk, jangan punya pikiran Ibu bawel Itu demi keselamatanmu dan juga cucu Ibu juga, Kangjeng Romo yang selalu mengingatkan Ibu setiap hari pasti Romo mu mengingatkan Ibu, apa sudah menelepon? apa belum? tanya Romo mu. Bagaimana keadaannya sehat-sehat saja? seperti itu pertanyaan Kangjeng Romo mu Nduk, beliau begitu khawatir akan keadaan dirimu yang lagi hamil jauh dari orang tua jauh dari pengawasan kami." ucap ibunya Retno sangat senang mendengar kata sehat dan baik-baik saja dari suara lembut putrinya.


"Ibu, sama Romo nggak usah khawatir kami berada di tengah tengah dunia medis, Ajeng rasanya aman dan nyaman juga ikhlas menjalani jika sampai nanti melahirkan tak ada Ibu juga Romo di dekat Ajeng, hanya do'a keselamatan dan restu Ibu sama Romo buat cucu yang begitu di tunggu keluarga Mas Prabu juga keluarga besar Raden Haryo Atmojo, tetapi Mas Prabu sudah Ajeng anggap sebagai Ibu juga Romo selain sebagai suami yang begitu sayang dan perhatian," jawab Retno bicara begitu halus dan perlahan.


"Maaf Ibu, bukan Ajeng bermaksud menentang tapi ada yang jauh lebih berhak atas diri Ajeng kini yaitu Mas Prabu, tolong Ibu sampaikan pengertian pada Romo dan sampaikan maaf Ajeng selama ini."


"Ya sudah, apa kamu sudah sarapan Nduk? jangan lupa sempatkan sarapan sekarang dalam tubuhmu ada satu kehidupan yang butuh nutrisi selain makanan yang sehat juga ketenangan begitu diperlukan dari pikiran yang tenang juga semua akan memberikan kenyamanan, rasanya kamu sudah ada di pelupuk mata Ibu Nduk, dan Romo mu sekarang punya kebiasaan baru mengingatkan Ibu kalau Ibu sudah nelpon kamu Nduk apa belum? selalu begitu." Kata-kata terakhir Ibunya membuat Retno sedih, Retno hanya bisa menghibur dengan mengucapkan apa yang dirasakannya kalau Retno sekarang sedang bahagia sedang menikmati rumah tangga yang diinginkan dengan orang yang di cintanya.


Retno mengusap perutnya saat janinnya kontraksi, Retno menjadi termenung saat selesai bicara dan menutup sambungan telephon.


"Bu dokter kenapa? apa ada yang di rasa? Bibi ambilkan minum dulu ya, apa susunya tadi sudah diminum habis belum?" tanya Bi Iyah mengagetkan Retno yang lagi memandang tak menentu arah.


"Oh nggak apa-apa Bi, Aku hanya kangen Ibu sama Romo ku, mungkin seperti rindunya Ibu, Romo dan keluargaku di Pekalongan sana." sahut Retno memang dari menikah dan di nyatakan hamil Retno belum pernah mengunjungi kedua orang tuanya sepantasnya rasa rindu itu pasti ada.


Bibi Iyah masuk dan tak lama keluar lagi sambil membawa setengah gelas susu yang belum habis di minum Retno. Meletakkannya di meja kecil di hadapan Retno.

__ADS_1


"Ibu hamil, jangan sedih, jangan marah, harusnya bahagia selalu mungkin kalau nanti Bu dokter sudah lahiran Ibu sama Romo nya bisa ke sini, atau kalau nanti Dedek bayinya sudah kuat bisa Bu dokter bawa ke sana pasti semua senang." Jawaban sederhana Bi Iyah membuat Retno mengangguk dan tersenyum.


"Intan sudah bangun Bi?"


"Belum Bu, mungkin malam habis pacaran sama Pak dokter dan habis Sholat subuh tidur lagi jam segini belum bangun."


"Sepertinya malam habis ketemu calon mertuanya Bi."


"Oh, alah Alhamdulillah, semoga cepat menyusul Bu dokter."


Retno tersenyum sambil menyimpan gelas kosong di meja.


.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2