
Sore hari.
GOR sudah penuh dengan manusia yang ingin menjadi saksi di pertandingan babak perempat final. Acara rutin tiap tahun yang diadakan rumahsakit TMC, suara bising bergaung dengan pengeras suara yang bergema menyebutkan satu persatu pemain yang akan tampil di babak perempat final sore ini, baik di tunggal atau di ganda dan ganda campuran, putra dan putri.
Entah kenapa, setiap ada event di kota kecil ini selalu menarik minat para penonton entah sejak dulu masyarakatnya gemar dengan olahraga ini, atau sekedar senang musiman atau begitu haus semua masyarakatnya dengan tontonan yang berkualitas seperti event yang sekarang lagi berlangsung.
Selalu meriahnya acara ini, menjadikan acara tahunan di bawah kepemimpinan dr Prabu Seto Wardhana ini menjadi sesuatu yang sangat ditunggu dan difavoritkan oleh semua masyarakat di wilayah kotamadya ini.
Bapak Sofyan Wijaya sebagai walikota, yang menjabat tahun kemarin menyampaikan sambutan dan rasa gembiranya dan memberikan apresiasi positif terhadap khususnya pimpinan rumah sakit TMC atas digelarnya event yang menarik perhatian banyak orang dan menelurkan bibit-bibit baru, dan menjadikan juara-juara baru, semoga harapan walikota ini di ikuti oleh BUMN BUMD ataupun perusahaan swasta lainnya yang ada di kota ini.
Retno berjalan bersama Intan dr Prabu, dr Imam SpOG memasuki ruangan GOR yang telah begitu banyak orang berlalu lalang bahkan yang sudah duduk rapi di kursi penonton.
Seandainya Retno menang dan maju terus mungkin akan ada 2 pertandingan ke depan yang dihadapi Retno setelah pertandingan perempat final ini, harapannya ingin dirinya menorehkan prestasi di event rumah sakit ini disaat dirinya lagi KKN, dan dirinya ingin membuktikan kalau dirinya masih mampu untuk bisa berprestasi walaupun di tengah permasalahan yang mungkin sekarang mulai ada titik terang.
Retno santai di ruang ganti bersama Intan, karena dirinya akan bermain bukan jadi pemain pertama yang akan tampil tapi menunggu yang lain dulu, juga peserta lainnya yang sama-sama ada di ruangan itu satu sama saling menyapa dan akrab layaknya sahabat padahal kalau sudah bertemu di lapangan mereka adalah musuhnya.
"Hai Retno!"
"Oh suster kepala Miranti, main juga ya?" Retno antusias dan menyalami suster kepala Miranti walau jauh di dalam hatinya masih ada sedikit dongkol atas perlakuannya di awal-awal masa KKN nya, walaupun semua itu hanya setting-an tetap aja menyisakan semacam trauma di hati Retno saat melihat, berpapasan atau bertemu muka dengan suster kepala Meranti.
"Iya, saya main pertama semoga lancar hehehe..." suster kepala Miranti bicara begitu energiknya.
"Saya mendukung suster kepala Miranti, semoga sukses."
"Terimakasih Retno atas dukungannya, sejujurnya aku juga mendukung kamu walaupun pada dasarnya saya ikut hanya untuk memeriahkan saja, saya ingin hadir juara-juara baru disini generasi-generasi baru yang akan selalu memeriahkan event ini dan semoga saya berharap kamu adalah idolanya Retno."
"Hehehe... justru saya merasa tersanjung suster, terima kasih banyak telah mewadahi kami-kami disini dan memberikan kesempatan terutama terhadap saya pribadi untuk bisa ikutan ambil bagian di acara rumah sakit ini."
"Berterimakasih bukan pada saya Retno, pada direktur yang dengan semangat tiap tahun mengadakan acara ini, mungkin atas kecintaannya atau karena ada kenangan tersendiri dengan olahraga ini saya tak tahu hanya menebak saja."
__ADS_1
"Mungkin ada kenangan suster."
"Baguslah selagi ada kesempatannya, tak semua orang bisa punya kemampuan menghidupkan kenangannya."
Retno diam dan menyimpulkan tali sepatunya, Intan yang menunggunya di luar berdiri di pintu yang tak tertutup rapat.
"Suster kepala Miranti main pertama ya?" Retno dongak ke atas menatap suster kepala Miranti yang lagi membetulkan kerudungnya.
"Ya, Retno."
"Semoga sukses."
"Aamiin."
Mereka keluar bersamaan, Retno juga Intan menonton dari dekat pintu keluar masuk orang di dekat meja panitia, ini bukan acara resmi bukan seperti event nasional atau internasional yang pemain tidak bisa menyaksikan pertandingan lainnya yang sedang berlaga. Atau paling bisa menonton dari layar monitor yang disediakan di ruang ganti tapi ini kan biasa hanya sebuah rumah sakit yang mengadakan turnamen ini, semua pemain bebas berkeliaran atau menonton di tempat mana yang mereka suka karena mereka telah mengetahui jadwalnya masing-masing, untuk main atau saatnya bisa menonton.
"Mas Imam, kalau mau mengajak Intan nonton di kursi penonton di atas sana silakan saja, biar saya menunggu giliran turun main di sini."
"Nggak apa Retno, siapa yang kasih kamu semangat kalau bukan kita-kita?"
"Iya Mbak tenang aja. Aku mau menemani Mbak Retno di sini sampai turun ke lapangan." Intan memberi semangat sama Retno.
"Kak Prabu ke mana Mas?" Intan bertanya pada dr Imam.
"Aku nggak melihatnya sejak masuk ke sini tadi."
"Suka aneh-aneh aja tuh orang giliran dirinya main maksa Mbak Retno buat menemaninya di pinggir lapangan, sekarang Mbak Retno mau main seperti hantu saja tiba-tiba menghilang."
"Mungkin lagi ada keperluan Tan biarin saja, nanti juga pasti balik lagi ke sini." Retno menjawab datar.
__ADS_1
Intan sama dr Imam celingukan melihat di mana posisi dr Prabu saat ini. Tetapi seluruh penjuru semua sudut GOR tidak terlihat adanya dr Prabu di situ, malah permainan perdana tunggal putri pertama sudah mulai memasuki lapangan dan bersiap-siap untuk bermain seharusnya dr Prabu ada disini karena yang bermain pertama itu adalah suster kepala Miranti perwakilan dari Rumah sakit TMC ini. Sudah seharusnya memberi dukungan terlebih nanti partai kedua akan ada Retno yang akan turun untuk memperebutkan tiket ke semifinal menuju juara yaitu di partai final yang di perebutkan.
Partai pertama selesai dan di menangkan suster kepala Miranti dengan perpanjangan set menjadi lima set dan suster kepala Miranti hampir kehabisan tenaganya, tetapi dr Prabu belum kelihatan muncul dan saatnya Retno memasuki lapangan di sambut gemuruh sambutan tepuk tangan, selain paras menawan cantik rupawan juga punya keahlian yang mengasyikkan untuk di tonton, menjadi daya tarik tersendiri bagi para penonton yang sudah tahu di pertandingan sebelumnya.
Dengan percaya diri dan mental juara Retno masuk ke lapangan dengan menegakkan kepalanya membuat Intan dan dr Imam merasa yakin kalau Retno akan memenangkan permainan ini, dan Retno bertekad ini adalah permainannya dan harus di menangkannya.
Senyum Retno memukau semua mata yang melihatnya, tetapi Retno tak melihat satu senyuman yang selalu menyemangatinya seperti di pertandingan terdahulunya saat dirinya menang dan maju ke babak sekarang ini, dr Prabu selalu setia di sisinya memberi support dan semangat tapi kali ini entah kemana mungkin ada tamu atau ada kepentingan mendadak sehingga tidak bisa menyaksikan dirinya berlaga.
Sebegitu pentingnya sampai tak bisa melihat sang kekasih di lapangan berlaga mempertontonkan kebolehannya? padahal Retno tahu ini adalah hari Minggu saatnya dr Prabu libur walaupun pada dasarnya pelayanan di rumah sakit tidak ada kata libur. Walau bagi pimpinan hari minggu adalah mutlak hari libur.
Intan menggerutu dan tak habis pikir kemana perginya Kakaknya itu, hatinya mulai gelisah dan itu di ungkapkannya pada dr Imam yang ada di sampingnya. Dr Prabu menghilang dari mulai suster kepala Miranti main lima set dua jam lebih, sekarang giliran Retno turun ke lapangan belum juga muncul.
''Mas, coba cari ke ruangan kantornya kok telephonnya nggak aktif?"
"Intan maaf, aku tadi melihat Kakakmu bertemu dengan Alya dan entah kemana mereka sekarang, untuk meyakinkan baiklah aku akan cari keruangannya kamu tunggu aja di sini biar Retno tidak merasa sendiri karena teman-temannya juga sekarang lagi tidak bisa hadir entah ada acara apa."
"Iya Mas, aku jadi khawatir takut terjadi apa-apa."
"Tenang aja, Kakakmu sudah besar masa tak bisa jaga diri? walau sebenarnya aku juga sama cemas, karena tadi beesama Alya."
Dr Imam keluar dan meninggalkan Intan yang duduk sendiri, tak jauh dari lapangan tempat Retno diposisikan dan untuk menyemangati Intan masih bisa teriak dan Retno masih bisa mendengarnya.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
__ADS_1