
Dua hari di kamar perawatan membuat Retno begitu ingin segera cepat keluar dan bebas segala-gala nya, dan sekitar jam sembilan pagi dr Panji memeriksa terakhir kondisi Retno yang menanganinya sedari awal, dan Retno kelihatan begitu sudah segar dan dr Prabu juga ada di situ meyakinkan kalau kondisi Retno sudah bisa keluar dari ruang perawatan.
Semua perhatian dr Prabu tak membuat Retno berubah pendirian, hanya terimakasih tak terungkap mungkin ada pengakuan dari dalam hatinya tapi selebihnya tetap merasa benci dan tak layak untuk di maafkan.
"Serius dok sudah bisa pulang?" dr Prabu bertanya pada dr Panji.
"Sudah lebih baik dan stabil Pak Prabu, tinggal pemulihan, suasana rumah mendorong sugesti seseorang untuk cepat merasa pulih dan sehat, silahkan boleh pulang tapi jangan lupa obatnya di minum yang teratur dan habiskan jangan lupa istirahat dulu satu dua hari sebelum aktifitas kembali secara pelan-pelan."
"Oke, terima kasih dr Panji."
"Semangat untuk sehat ya Mbak Retno."
"Terima kasih dokter."
"Ya ya ya..."
Dr Panji keluar diiringi suster pendampingnya tinggal dr Prabu dan Retno berdua, Retno membereskan barang-barang miliknya di masukkan ke kantong besarnya dan mau menelephon temannya Ella dan Isti biar menjemputnya, tapi baru saja mau memijit tombol kontak ponselnya dr Prabu merebutnya dan memasukkan ke dalam saku celananya, Retno menatapnya dengan muka dingin.
"Aku mau bicara serius sama kamu sebelum kamu mengambil keputusan apapun."
"Apa yang Mas mau bicarakan? apa masih ada yang harus di bahas antara kita?"
"Banyak!"
"Aku nggak mau."
"Aku akan memaksanya."
"Dasar egois."
"Katakan apapun sesukamu."
"Balikin ponselku!"
"Nggak!"
"Balikin nggak?"
"Silahkan ambil sendiri."
"Aku sedang tidak bercanda!"
"Emang siapa yang mau bercanda?"
"Balikin ponselku Mas!"
"Kita sepakat dulu aku mau bicara, setelah kita bicara aku balikin ponsel kamu."
__ADS_1
"Silahkan bicara mau bicara apa?"
"Duduk saja dulu aku telephon dulu temanmu, biar membantu mengambilkan barang-barang kamu, siapa nama temanmu di sini?"
"Ella, ponselku nggak ada pulsanya nggak bisa manggil "
"Aku sudah mengisinya." dan dr Prabu memulai panggilan.
"Ya maaf ini bukan Retno tapi saya dr Prabu, saya mau minta tolong untuk membawakan barang-barangnya Retno, biar Retno nya saya bawa dulu jalan-jalan biar agak segeran sambil berjemur."
"Oh, ya ya ya, jadi sudah bisa pulang Mbak Retno nya Pak?"
"Iya."
"Alhamdulillah."
Pembicaraan di tutup dan dr Prabu memasukan kembali ponsel Retno ke dalam sakunya lagi.
"Sini ponselnya."
"Nanti Ajeng, setelah aku bicara sama kamu, lunak sedikit apa sih susahnya, aku juga tak memakan kamu kok."
Ella dan Ismi datang tanpa basa basi lagi mereka mengerti maksud kedua orang itu, mereka pasti mau bicara dan Ella melihat Retno masih agak pucat tapi lebih segar dari kemarin duduk di tepi tempat tidur dan dr Prabu berdiri di dekat jendela, Ella menghampiri Retno dan mengusap tangannya.
"Selamat Mbak sudah sehat kembali, aku sama Isti ke kamar dulu ya." Retno mengangguk.
"Silahkan mau bicara apa?"
"Nggak enak banget bicara di sini silahkan mau di ruangan ku atau di taman belakang?"
"Mas nggak usah bertele-tele dan mengulur waktu bicara saja di sini apa sih susahnya?"
"Cantik-cantik galak banget."
Retno hanya mendengus.
"Kalau mau galak aku juga bisa lebih galak, jadi ayo mau bicara di mana?"
"Terserah."
"Ayo ke ruangan ku."
Dr Prabu keluar duluan dan menuju ke ruangannya, dan Retno yang masih agak lunglai begitu kedinginan walau cuaca sudah agak panas, angin pagi menuju siang menyambutnya di luar menggoyangkan pucuk dan bunga Bougenville di halaman rumah sakit, Retno dengan melipat tangan di dadanya memasuki ruangan pimpinan dan dr Prabu mempersilahkan duduk di sofa.
"Kamu kedinginan?"
Retno tak menjawab hanya diam saja tak menatap ke arah dr Prabu yang menutup pintu dan lalu duduk di sampingnya.
__ADS_1
Dr Prabu beranjak ke meja kerjanya mematikan AC dan mengambil minumannya yang masih utuh dan menyodorkannya pada Retno, Retno menolak tapi dr Prabu tetap memaksanya.
"Minum selagi masih hangat."
Demi mempersingkat waktu Retno akhirnya meminumnya, teh hangat agak manis sedikit dan begitu nikmat di mulutnya yang agak pahit karena terlalu banyak minum obat tapi makanan yang masuk hanya bubur.
"Retno bukankah saat ini yang kita harapkan selama ini? jangan berdusta dan jangan menyangkal kita akui perasaan kita sebenarnya, jujur aku masih sangat mencintaimu, ayo kita mulai lagi kita tata kepingan hati kita yang sama-sama terluka, maafkan aku yang tak bisa melupakanmu."
Retno hanya menunduk
"Apa kamu juga se-perasaan denganku?"
"Tidak."
"Jangan berbohong! aku melihat semuanya, rasa cinta itu, kerinduan itu, dan pengharapan itu, ada semua di matamu."
"Aku tak mencintai Mas Prabu lagi dan tak akan lagi."
"Oke, aku terima semua itu, berarti aku telah salah menilai kamu selama ini, tapi kenapa kamu sampai hari ini masih memakai cincin itu yang kita beli berdua di Wisata Tangkuban Parahu waktu itu? kenapa juga setiap catatan di ponselmu berisi kerinduan mu padaku dan setiap saat menunggu, kenapa hanya aku yang ada dalam do'a-do'a mu dan kenapa sampai saat ini kamu masih sendiri?"
"Cukup! cukup Mas kalau Mas sudah tahu semua itu, itu aku akui aku juga sama seperti Mas Prabu, bahkan aku katakan mungkin aku tak bisa hidup tanpa Mas Prabu, tapi aku bukan orang yang hanya bisa berpura-pura dan bersembunyi juga mempermainkan perasaan orang lain seperti Mas Prabu, aku jujur pada diriku sendiri, pada suster Harni yang aku anggap orang tua keduaku aku masih sangat mencintaimu Mas, tapi perbuatan Mas Prabu sangat menyakitkan hatiku tidak beretika padaku merobek semua sketsa yang ku lukis setiap hari dalam penantian ku, masihkah Mas mau menerima maaf ku, dan adakah rasa maaf itu di hatiku? aku sungguh-sungguh tahu, aku terluka Mas, aku kecewa Mas aku merasa terhina dan berdarah dan terasa begitu sakit di hatiku."
Retno menangis untuk ke sekian kalinya.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mengobati luka mu Ajeng, tak ada sesal yang ku alami seperti sesal ku kini, walau aku tak pantas di maafkan aku akan tetap menunggu kata itu keluar dan datang darimu Ajeng."
Dr Prabu turun dari duduknya dan bersimpuh di kedua ujung paha Retno yang duduk sambil menangis dan meraih kedua tangannya lalu di ciumnya dan di pegangnya erat-erat seakan tak ingin kehilangan lagi.
"Maafkan aku Ajeng, Retno, akan aku penuhi janjiku pada Romo mu untuk membahagiakanmu di sisa hidupku seandainya aku mendapatkan kata maaf darimu."
Semakin sedih rasa hati Retno mendengar kata-kata yang kurang lebih lima tahun lalu di ucapkan dr Prabu dan kini semua itu terdengar lagi, tanpa sadar mereka sudah berpelukan di sofa tamu dan menumpahkan semua beban rasa yang mereka rasakan.
Dr Prabu mengusap air matanya dan menyeka airmata Retno dengan tangannya, berdua berpandangan dan semua sesak di dada kini agak longgar.
"Aku benci sama Mas!"
"Aku tahu itu, dan aku akan berusaha dan harus bisa merubah benci itu menjadi rasa cinta kembali."
Dr Prabu meraih kembali tangan dan kepala Retno dan di tenggelamkan kembali ke pelukannya, merasakan kembali getar-getar yang dulu pernah ada dan mereka rasakan dan sekian lama hilang semua telah kembali.
Pintu terbuka dengan tiba-tiba dan...
"Kak, boleh aku pergi sama dr Imam jalan-jalan...oh ya ampuuuuun maaf..."
Retno terperangah dan mendorong tubuh dr Prabu dan melepaskan pelukannya, duduk menunduk, dan wanita itu datang kembali ke ruangannya Mas Prabu, dan mendapatkan dirinya lagi menangis dan berpelukan.
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝
__ADS_1